Dedikasi dalam pendidikan, pembelajaran, persekolahan, teknologi, dan ilmu pengetahuan untuk kemajuan peradaban ummat manusia. Segala sesuatu yang besar, dimulai dari hal-hal yang kecil.
Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Maret 2022
Musyawarah Besar III Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIT Pringsewu
Musyawarah Besar III Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIT Pringsewu, Sabtu, 12 Maret 2022. Dalam forum permusyawaratan organisasi ini dilakukan evaluasi atas program kerja kepengurusan setahun terakhir, menyusun dan menetapkan kebijakan dan program, serta memilih pengurus baru masa khidmat 2022-2023.
Selasa, 13 Oktober 2020
Melihat cantiknya taman bunga di Pekalongan, Lampung Timur
Dwi Rohmadi Mustofa
DI MASA pandemi nCovid-19 banyak orang menyalurkan hoby dengan menanam bunga. Tak pelak, berbagai jenis bunga kini "naik daun", karena banyak diminati. Penggemar bunga tidak hanya kaum hawa, tetapi juga kaum Adam dari berbagai tingkat usia.
Melihat cantiknya taman bunga di Pekalongan, Lampung Timur
Selasa, 06 Oktober 2020
Selasa, 27 Agustus 2019
Pembekalan Calon Wisudawan
PARA calon wisudawan STIT Pringsewu, Jumat (23/8) mengikuti Pembekalan dengan tema "Kontribusi Alumni STIT Pringsewu dalam Transformasi Komunikasi di Era Digital". Narsumber kegiatan ini adalah Juwendra Asdiansyah, Pemimpin Redaksi duajurai.co. Calon sarjana yang akan mengikuti wisuda ini sangat antusias mengikuti semua sesi Pembekalan.
Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., dalam pengantarnya mengungkapkan pentingnya penguasaan teknik, dan metode komunikasi. Apalagi di era perkembangan pengetahuan, teknologi, dan informasi saat ini. Dinamika teknologi sedemikian pesat.
"Sarjana hendaknya memiliki kemampuan kunci, yaitu komunikasi. Semua program, rencana, kegiatan atau apapun, membutuhkan jalinan komunikasi yang baik. Tanpa komunikasi yang baik, sulit mengharap keberhasilan," ucapnya.
Juwe, sapaan akrab Juwendra, mengupas model-model komunikasi kekinian. Termasuk bagaimana memanfaatkan media untuk kepentingan pendidikan, dakwah, dan pengembangan diri.
"Jadilah sarjana yang memiliki rasa percaya diri, bisa "menjual", dalam arti memiliki daya saing. Ini artinya Anda harus punya "merek" atau Anda mesti bisa melakukan "branding" terhadap diri Anda sendiri. Sukses itu ukurannya subyektif, dan itu Andalah yang menentukan," ucap aktivis 1998 yang juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Teknokra, Unila ini. (*)
Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., dalam pengantarnya mengungkapkan pentingnya penguasaan teknik, dan metode komunikasi. Apalagi di era perkembangan pengetahuan, teknologi, dan informasi saat ini. Dinamika teknologi sedemikian pesat.
"Sarjana hendaknya memiliki kemampuan kunci, yaitu komunikasi. Semua program, rencana, kegiatan atau apapun, membutuhkan jalinan komunikasi yang baik. Tanpa komunikasi yang baik, sulit mengharap keberhasilan," ucapnya.
Juwe, sapaan akrab Juwendra, mengupas model-model komunikasi kekinian. Termasuk bagaimana memanfaatkan media untuk kepentingan pendidikan, dakwah, dan pengembangan diri.
"Jadilah sarjana yang memiliki rasa percaya diri, bisa "menjual", dalam arti memiliki daya saing. Ini artinya Anda harus punya "merek" atau Anda mesti bisa melakukan "branding" terhadap diri Anda sendiri. Sukses itu ukurannya subyektif, dan itu Andalah yang menentukan," ucap aktivis 1998 yang juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Teknokra, Unila ini. (*)
Kamis, 02 Juli 2015
Calon Perseorangan atau Independen?
PEMILIHAN
kepala daerah serentak di Provinsi Lampung yang rencananya digelar pada 9
Desember mendatang tergolong sepi peserta calon perseorangan. Calon
perseorangan selama ini sering disebut sebagai calon independen. Semua
peraturan pelaksanaan pilkada serentak menyebut dengan istilah calon
perseorangan.
Calon
independen “menjanjikan” perubahan sosial politik yang lebih kuat, di tengah
kejenuhan terhadap parpol. Selama ini banyak kritik mampetnya peran pendidikan
politik dari parpol. Pendidikan politik dari parpol selama ini lebih pada bujuk
rayu untuk menjadi pemilih, bukan “memberikan” pilihan.
Calon
perseorangan merujuk pada kepemilikan modal sosial politik dari sang calon,
sehingga meyakini mampu meraih dukungan dan kemenangan dalam kontestasi
polltik. Selanjutnya, dengan kemenangan itu mampu mengartikulasikan semua
aspirasi rakyat, sekaligus mewujudkan visi dan misi yang diusung.
Calon
perseorangan biasanya tidak menggunakan partai politik untuk maju dalam Pilkada
karena kalah dengan calon lain, dan bukan karena pilihan yang berdasarkan
idealisme politik. Sementara calon independen bersikap konsisten untuk tidak
maju dari jalur partai politik karena yakin pada dukungan rakyat.
Faktanya,
sangat sulit menemukan, - untuk tidak menyebut tidak ada-, calon perseorangan
yang benar-benar independen. Dalam politik selalu ada pembicaraan, lobi-lobi,
dan bargaining. Dalam politik yang ada interdependensi, hubungan-hubungan
kepentingan, dan tawar-menawar.
Sepinya peserta
pilkada dari jalur perseorangan ini berbeda dengan pilkada-pilkada sebelumnya,
yang selalu “ramai” calon perseorangan (independen). Selain itu, setidaknya,
juga tidak sama dengan gembar-gembor bakal calon yang meramaikan bursa pilkada,
yang sebelumnya menyatakan akan maju melalui jalur perseorangan (independen).
Bisa
jadi, sepinya calon perseorangan setelah ada PKPU Nomor 9 Tahun 2015 yang
membebankan berbagai persyaratan bagi calon perseorangan. Di antaranya dukungan
Kartu Tanda Penduduk dan verifikasi faktual. Untuk jumlah dukungan berkisar 10
persen sampai 6,5 persen. Kabupaten/kota dengan penduduk sampai 250 ribu jiwa,
wajib menyertakan dukungan sebesar 10 persen dari jumlah penduduk, dan
kabupaten/kota dengan penduduk lebih dari 1.000.000 jiwa wajib menyertakan
dukungan sebesar 6,5 persen dari jumlah penduduk.
Sebaran
jumlah dukungan juga minimal di 50 persen kecamatan di satu
kabupaten/kota. Selain itu, pada saat verifikasi oleh petugas Panitia
Pemungutan Suara (PPS) juga mengharuskan adanya cap dan tandatangan basah dari
setiap kelapa desa/lurah atau sebutan lainnya.
Pasangan
calon perseorangan dalam pilkada serentak di Lampung yang berhasil memenuhi syarat minimal
dukungan jalur perseorangan sebelum tahap verifikasi dukungan kartu tanda
penduduk (KTP), yakni, Pilkada Kota Bandarlampung; Muhammad Yunus - Ahmad
Muslimin, 80.697 KTP.
Pilkada
Kabupaten Pesawaran; Aries Sandi Dharma Putra (Bupati Pesawaran) - Mahmud
Yunus 67 ribu KTP dan Okta Rijaya - Salamun Soliokhin 41.203 KTP.
Pilkada
Kabupaten Lampung Tengah; Mudiyanto Thoyib (mantan bupati/wakil bupati Lampung
Tengah) - Musa Ahmad 130 ribu KTP.
Pilkada
Kabupaten Pesisir Barat; Jamal Nasir -Syahrial 24.993 KTP. Sementara di Metro
diikuti calon perseorangan tiga pasangan dan Lamtim dua pasangan. Pilakada
Kabupaten Way Kanan dan Lampung Selatan, minus calon perseorangan.
Menarik
menyimak apa yang terjadi di Pesawaran. Bupati Aries Sandi Dharma Putra yang
maju lagi dari jalur perseorangan, padahal secara politik Aries Sandi memiliki dukungan
beberapa parpol. Selain itu, sebagai incumbent, Aries Sandi memiliki “modal” yang
terbilang cukup. Mengapa lewat jalur perseorangan? Apa masih kurang dukungan
parpol? Itulah politik. Hitungan-hitungan
politik memang bisa saja berubah setiap saat.
Nyatanya,
ada dua parpol yang terang benderang mendukung Aries Sandi, yaitu Partai
Nasional Demokrat.
Banyak
di antara calon perseorangan, setidaknya memiliki relasi dengan parpol. Di
antara calon perseorangan yang maju dalam pilkada di Lampung setidaknya juga
aktivis parpol. Pilihan jalur perseorangan dapat dikatakan lebih bernuansa
menghindari ribetnya bersaing di parpol. Jadi, memang sulit untuk mengatakan calon
perseorangan adalah calon independen. (*)
Artikel ini dimuat di Harian Trans Lampung Edisi Senin, 22 Juni 2015
Rabu, 15 Agustus 2012
MEDIA DAN HAK PUBLIK
Tak
dapat dipungkiri bahwa eksistensi media massa telah menjadi salah satu penopang
utama keberlanjutan era reformasi. Suasana kebebasan mengemukakan pendapat
seperti sekarang, adalah bentuk peran media dalam dinamika kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Media telah berperan secara terus menerus dalam
upaya terwujudnya keterbukaan informasi publik. Keterbukaan informasi adalah
suatu kondisi yang memungkinkan orang memperoleh informasi yang berguna bagi
dirinya sendiri maupun bagi orang lain secara mudah dan cepat.
Memperoleh informasi hakikatnya adalah hak dasar warga negara. Pemenuhan hak
memperoleh informasi akan terhambat, karena adanya benturan kepentingan terhadap pihak-pihak yang
menguasai informasi.
Keterbukaan informasi publik berarti kewajiban
badan publik untuk menyampaikan informasi publik. Jadi hak dasar warga negara
mendapat informasi, dibarengi dengan kewajiban pemegang informasi untuk
menyampaikan atau mengumumkannya.
Media memiliki tanggung jawab yang besar terhadap bangsa
dan negara. Dalam perspektif institusi sosial, media bertanggung jawab terhadap
masyarakat. Ia harus memainkan peran sebagai media penyalur aspirasi bagi
masyarakat, sekaligus menjalankan fungsi kontrol baik terhadap dinamika sosial
itu sendiri maupun terhadap perilaku kekuasaan. Idealnya media memainkan peran sebagai penjaga
arah agar institusi-institusi publik dan negara tetap berjalan pada rel yang
semestinya. Di sinilah media akan menjaga gawang pepatah “kekuasaan cenderung
korupsi” agar tidak terjadi.
Keseimbangan
kekuatan saling kontrol antar-institusi akan meminimalkan terjadinya kecenderungan
korupsi, penyimpangan, maupun monopoli kebenaran dan informasi.
Melalui pemberitaan, analisis, esai, laporan,
kolom, dan artikel, media terus menyebarluaskan informasi kepada masyarakat sebagai hak publik. Media menjalankan fungsi mendidik,
dalam arti luas, menyebarluaskan informasi, dan menjadi sarana hiburan. Media
membangun budaya dan peradaban yang lebih maju.
Dahaga Informasi
Rasa ingin tahu pasti dimiliki individu. Kebutuhan akan informasi lebih
penting daripada kebutuhan fisik. Fitrahnya, setiap orang akan berusaha
memenuhi dahaga informasi. Jika keinginan untuk mengetahui sesuatu itu
terpenuhi, maka ia akan merasa tenang dan puas. Dalam bahasa lain, masyarakat yang terinformasi adalah
masyarakat yang sejahtera secara bathiniah. Masyarakat yang memperoleh
informasi, akan lebih mudah memiliki kesadaran pentingnya bermasyarakat dan
berpartisipasi dalam membangun masyarakatnya ke arah yang lebih baik.
Kebutuhan
akan informasi bagi masyarakat sebagian besar terpenuhi atau disalurkan melalui
pemanfaatan media massa. Oleh karena itu media massa hendaknya menangkap
kebutuhan akan informasi itu sebagai umpan balik untuk terus menerus
memperbaiki diri. Media massa yang akan bertahan dan dicintai masyarakat adalah
media yang tidak hanya pandai mengkritik, tetapi juga diisi oleh awak redaksi
yang selalu terbuka terhadap kritik.
Kritik,
saran, masukan, pendapat, dari manapun datangnya, jika itu esensinya adalah
untuk perbaikan, akan diterima dengan baik.
Pengelola
media dan pekerja media mendedikasikan dirinya di bidang informasi sebagai
lahan pengabdian. Karakteristik informasi adalah kebenaran, keterbukaan,
kesetaraan, kecepatan, dan ketepatan. Pengelola media pasti memahami dan
menghayati terhadap karakteristik informasi itu sehingga mampu mengoptimalkan
pengabdiannya bagi masyarakat.
Kebebasan dan Tantangan
Di masa Orde Baru, mengkritik pimpinan negara,
membutuhkan keberanian yang luar biasa. Bahkan, mengkritik kebijakan
pemerintah, adalah “kemewahan” yang harus dibayar mahal.
Meskipun media telah memberikan peran bagi
keterbukaan informasi, harus diakui media juga memberikan ekses baik berupa
ketegangan maupun disharmoni. Ekses media yang mungkin negatif, biasanya
bersifat sementara, sebagai akibat kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap
fungsi media itu sendiri.
Contohnya, di awal reformasi, kantor media massa
didemo merupakan hal yang biasa. Seorang tokoh yang mencalonkan diri untuk maju
menjadi calon pemimpin suatu organisasi, ketika mendapat sorotan kritis media,
mengerahkan massa ke kantor media untuk menekan. Banyak modus lain reaksi
ketidaksenangan suatu kelompok terhadap peran media, seperti memboikot, mengancam
personil media, maupun membuat media sendiri.
Kebebasan
dan hak setiap individu akan dibatasi oleh kebebasan dan hak individu lainnya. Media
harus mendorong terpenuhinya hak publik dengan tetap menjaga kebenaran di atas
kebebasan.
Media sebagai entitas bisnis menghadapi tantangan iklim
kompetisi dan keterbatasan sumberdaya. Media harus menjaga keseimbangan antara idealisme
dan fungsi bisnis.
Pemandu
Media harus menjadi guideline bagi pembacanya dalam memandu untuk mengambil keputusan. Bagi
pengusaha, media berperan membantu dalam mengambil keputusan bisnis yang tepat.
Bagi politisi media menjadi pemandu arah karir politiknya dan dukungan massa
kepadanya. Bagi masyarakat kota, media menjadi rambu-rambu dan petunjuk akan bahaya
kriminal, trend gaya hidup, informasi tentang arus lalu-lintas, layanan publik,
potensi penyakit, dan
gangguan keamanan. Bagi petani menjadi media informasi dan pengetahuan untuk
meningkatkan budidaya dan produksi serta saluran pemasaran.
Media
hendaknya mengungkap kebenaran dan memberitakan sesuatu di balik peristiwa.
Media perlu memperbarui semangat dan khitahnya sebagai penyebar pencerahan.
Memberitakan korupsi, misalnya, agar yang lain tidak melakukan korupsi.
Menampilkan tokoh dan kisah sukses agar menjadi teladan bagi masyarakat umum. Memuat
laporan tentang kerusakan sarana umum agar segera mendapat respon dari yang
berwenang. Singkatnya, informasi yang disampaikan media dibutuhkan dan bermanfaat bagi setiap
orang.
Dengan
demikian kehadiran media mampu menjaga layanan publik tetap baik dan menjamin terlaksananya
kewajiban institusi publik. Bagi masyarakat, media membantu memenuhi hak-haknya
akan informasi. (Bandar Lampung, 09 Agustus 2012)
Senin, 26 Maret 2012
KOMPETENSI WARTAWAN, SUATU UJIAN
(ARTIKEL INI DIMUAT HARIAN RADAR LAMPUNG, KAMIS, 22 MARET 2012)
Masalah profesionalisme wartawan masih sering dikeluhkan. Pemberitaan adanya oknum wartawan yang melakukan perbuatan tercela, bertentangan dengan kode etik jurnalistik, masih mewarnai media. Yang paling sering adalah tindakan ’’pemerasan’’, suatu perbuatan yang menciderai profesi mulia.
PRAKTIK jurnalistik menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Dinamika perubahan lingkungan, baik internal maupun eksternal, sedemikian pesat. Kemajuan teknologi informasi, sistem dan model komunikasi massa, alat atau media, serta perkembangan aturan di bidang keterbukaan informasi menjadi tantangan praktik jurnalistik.
Jurnalistik atau kewartawanan adalah pekerjaan yang menuntut sikap profesional. Profesional yang penulis maksud dalam hal ini adalah seperangkat atribut untuk keberhasilan kerja. Profesional bukan hanya perdebatan istilah atau ego sektoral. Sehingga bidang pekerjaan apa layak disebut profesional atau bukan profesional. Memang, secara formal istilah profesional mensyaratkan adanya basis jenjang pendidikan formal tertentu. Pertanyaannya, apa itu profesional? Siapa yang disebut wartawan profesional?
Situs Wikipedia menjelaskan, seorang profesional adalah seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya serta menerima gaji sebagai upah atas jasanya.
Orang tersebut juga merupakan anggota suatu entitas atau organisasi yang didirikan seusai dengan hukum di sebuah negara atau wilayah. Seringkali seseorang yang merupakan ahli dalam suatu bidang juga disebut ’’profesional’’ dalam bidangnya, meski bukan merupakan anggota sebuah entitas yang didirikan dengan sah.
Sebagai contoh, dalam dunia olahraga terdapat olahragawan profesional yang merupakan kebalikan dari olahragawan amatir yang bukan berpartisipasi dalam sebuah turnamen/kompetisi demi uang.
Walau kutipan dari situs tersebut masih merupakan pernyataan rintisan, setidaknya menjadi panduan untuk mencermati suatu profesi, termasuk profesi wartawan.
Kini, Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Lampung sedang mengadakan ujian kompetensi wartawan. Semoga ini menjadi langkah maju mewujudkan profesionalisme wartawan.
Keahlian dan Integritas
Memang istilah profesional sering menjadi perdebatan. Tapi, saya ingin memberikan pendapat pribadi. Profesional adalah pekerjaan yang menuntut keterampilan dan keahlian, integritas dan loyalitas, serta pengembangan profesi berkelanjutan. Wartawan adalah pewarta yang bekerja secara tetap pada media massa.
Suatu profesi dikatakan profesional jika dilandaskan pada adanya kompetensi. Dengan kompetensinya itu, ia menjadi bagian dari pemecahan masalah, bukan pembuat masalah baru. Kompleksitas pekerjaan akan diatasi berdasarkan keahlian. Aneka tantangan dan tuntutan pekerjaan sebagai dampak perkembangan profesi dapat diantisipasi dengan integritas.
Di antara ciri profesi adalah adanya keahlian para pelakunya. Keahlian itu diperoleh melalui suatu proses pendidikan yang berkelanjutan, pemerolehan pengalaman dari para senior, atau dari mereka yang telah banyak menggeluti pekerjaan itu. Pendampingan dan penempaan dari kolega yang lebih berpengalaman, lebih senior, menjadi salah satu pintu masuk peningkatan kompetensi sekaligus indikator bagi suatu bidang yang disebut profesional.
Ciri yang lain adalah adanya jenjang keahlian. Untuk jenjang keahlian itu, bisa saja merupakan kesepakatan organisasi profesi maupun kelompok bidang keilmuan. Pengakuan profesional dari organisasi profesi melalui suatu tahapan proses ujian. Jadi, klaim profesional melalui banyak tahapan dan pengakuan dari banyak pihak. Bukan klaim sepihak atau hanya selembar sertifikat.
Dewasa ini dirasakan adanya ketimpangan antara kebutuhan profesi wartawan dengan penyedia jasa pendidikan kewartawanan. Di perguruan tinggi, bidang jurnalistik sebagian besar masih menjadi bagian peminatan atau konsentrasi pada program studi komunikasi.
Basis pendidikan formal dapat menjadi salah satu tolok ukur kompetensi. Sedangkan penempaan pengalaman dan pendampingan dari para pihak yang lebih dulu menggeluti profesi tersebut, dapat menjadi medium pembangun integritas.
Loyalitas dan Kerja Keras
Harus diakui bahwa profesi apa pun adalah profesi mulia jika diabdikan untuk kemaslahatan umat manusia dan membangun peradaban yang lebih baik. Wartawan adalah profesi yang mengemban amanah publik sekaligus merupakan ikhtiar meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan.
Kewenangan wartawan dalam mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan informasi merupakan amanah undang-undang. Amanah itu harus diemban dengan kesetiaan pada bidang kerjanya, dilakukan dengan penuh tanggung jawab, dan kerja keras.
Bagi penulis, profesi wartawan adalah pengabar kebenaran. Hasil kerja wartawan bagi audiensi memang tidak dapat diraba atau dilihat, tetapi dirasakan. Secara implisit dampak atas hasil kerja wartawan itu melalui serangkaian proses yang panjang. Makna suatu karya jurnalistik tidak bisa dinilai secara serta-merta.
Wartawan menyampaikan informasi dengan harapan audiensinya memiliki pengetahuan. Berbekal pengetahuan itu, akan meningkat pemahaman dan kesadarannya terhadap sesuatu. Selanjutnya, bertindak sesuai dengan norma, aturan hukum, dan mengambil keputusan yang benar. Masyarakat berpengetahuan adalah masyarakat yang sejahtera. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang senantiasa ingin tahu dan berusaha memenuhi rasa ingin tahunya itu.
Dampak akhir hasil kerja wartawan bagi masyarakat adalah kesejahteraan. Untuk sampai pada dampak akhir itu, kerja wartawan dituntut penuh loyalitas dan sekaligus kerja keras. Loyalitas berarti dengan mengerjakan sesuatu dengan sepenuh jiwa, disiplin dan taat asas, kejujuran dan keberanian.
Kerja keras mengisyaratkan adanya ketelitian dan kecermatan serta daya tahan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik. Motivasi yang tinggi dan senantiasa terjaga dalam rangka memberikan yang terbaik kepada audiensinya.
Seorang wartawan kini dituntut menguasai banyak bidang yang semuanya penting. Setidaknya yang esensial adalah pengetahuan sosial budaya, teknologi komunikasi, wawasan hukum, ekonomi, dan politik. Itu pun harus dibarengi dengan kemampuan bahasa dan keterampilan komunikasi interpersonal.
Seorang teman mengatakan, profesi guru dan pendidik ’’dekat’’ dengan surga, karena ilmu yang bermanfaat. Kiranya pernyataan teman tersebut paralel pula dengan profesi wartawan sebagi pengabar kebenaran.
Penulis meyakini, UKW atau uji kompetensi wartawan adalah salah satu cara strategis mewujudkan kompetensi wartawan. Tulisan ini semoga memberi wacana yang bermanfaat, setidaknya dari the outsider. (*)
Masalah profesionalisme wartawan masih sering dikeluhkan. Pemberitaan adanya oknum wartawan yang melakukan perbuatan tercela, bertentangan dengan kode etik jurnalistik, masih mewarnai media. Yang paling sering adalah tindakan ’’pemerasan’’, suatu perbuatan yang menciderai profesi mulia.
PRAKTIK jurnalistik menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Dinamika perubahan lingkungan, baik internal maupun eksternal, sedemikian pesat. Kemajuan teknologi informasi, sistem dan model komunikasi massa, alat atau media, serta perkembangan aturan di bidang keterbukaan informasi menjadi tantangan praktik jurnalistik.
Jurnalistik atau kewartawanan adalah pekerjaan yang menuntut sikap profesional. Profesional yang penulis maksud dalam hal ini adalah seperangkat atribut untuk keberhasilan kerja. Profesional bukan hanya perdebatan istilah atau ego sektoral. Sehingga bidang pekerjaan apa layak disebut profesional atau bukan profesional. Memang, secara formal istilah profesional mensyaratkan adanya basis jenjang pendidikan formal tertentu. Pertanyaannya, apa itu profesional? Siapa yang disebut wartawan profesional?
Situs Wikipedia menjelaskan, seorang profesional adalah seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya serta menerima gaji sebagai upah atas jasanya.
Orang tersebut juga merupakan anggota suatu entitas atau organisasi yang didirikan seusai dengan hukum di sebuah negara atau wilayah. Seringkali seseorang yang merupakan ahli dalam suatu bidang juga disebut ’’profesional’’ dalam bidangnya, meski bukan merupakan anggota sebuah entitas yang didirikan dengan sah.
Sebagai contoh, dalam dunia olahraga terdapat olahragawan profesional yang merupakan kebalikan dari olahragawan amatir yang bukan berpartisipasi dalam sebuah turnamen/kompetisi demi uang.
Walau kutipan dari situs tersebut masih merupakan pernyataan rintisan, setidaknya menjadi panduan untuk mencermati suatu profesi, termasuk profesi wartawan.
Kini, Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Lampung sedang mengadakan ujian kompetensi wartawan. Semoga ini menjadi langkah maju mewujudkan profesionalisme wartawan.
Keahlian dan Integritas
Memang istilah profesional sering menjadi perdebatan. Tapi, saya ingin memberikan pendapat pribadi. Profesional adalah pekerjaan yang menuntut keterampilan dan keahlian, integritas dan loyalitas, serta pengembangan profesi berkelanjutan. Wartawan adalah pewarta yang bekerja secara tetap pada media massa.
Suatu profesi dikatakan profesional jika dilandaskan pada adanya kompetensi. Dengan kompetensinya itu, ia menjadi bagian dari pemecahan masalah, bukan pembuat masalah baru. Kompleksitas pekerjaan akan diatasi berdasarkan keahlian. Aneka tantangan dan tuntutan pekerjaan sebagai dampak perkembangan profesi dapat diantisipasi dengan integritas.
Di antara ciri profesi adalah adanya keahlian para pelakunya. Keahlian itu diperoleh melalui suatu proses pendidikan yang berkelanjutan, pemerolehan pengalaman dari para senior, atau dari mereka yang telah banyak menggeluti pekerjaan itu. Pendampingan dan penempaan dari kolega yang lebih berpengalaman, lebih senior, menjadi salah satu pintu masuk peningkatan kompetensi sekaligus indikator bagi suatu bidang yang disebut profesional.
Ciri yang lain adalah adanya jenjang keahlian. Untuk jenjang keahlian itu, bisa saja merupakan kesepakatan organisasi profesi maupun kelompok bidang keilmuan. Pengakuan profesional dari organisasi profesi melalui suatu tahapan proses ujian. Jadi, klaim profesional melalui banyak tahapan dan pengakuan dari banyak pihak. Bukan klaim sepihak atau hanya selembar sertifikat.
Dewasa ini dirasakan adanya ketimpangan antara kebutuhan profesi wartawan dengan penyedia jasa pendidikan kewartawanan. Di perguruan tinggi, bidang jurnalistik sebagian besar masih menjadi bagian peminatan atau konsentrasi pada program studi komunikasi.
Basis pendidikan formal dapat menjadi salah satu tolok ukur kompetensi. Sedangkan penempaan pengalaman dan pendampingan dari para pihak yang lebih dulu menggeluti profesi tersebut, dapat menjadi medium pembangun integritas.
Loyalitas dan Kerja Keras
Harus diakui bahwa profesi apa pun adalah profesi mulia jika diabdikan untuk kemaslahatan umat manusia dan membangun peradaban yang lebih baik. Wartawan adalah profesi yang mengemban amanah publik sekaligus merupakan ikhtiar meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan.
Kewenangan wartawan dalam mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan informasi merupakan amanah undang-undang. Amanah itu harus diemban dengan kesetiaan pada bidang kerjanya, dilakukan dengan penuh tanggung jawab, dan kerja keras.
Bagi penulis, profesi wartawan adalah pengabar kebenaran. Hasil kerja wartawan bagi audiensi memang tidak dapat diraba atau dilihat, tetapi dirasakan. Secara implisit dampak atas hasil kerja wartawan itu melalui serangkaian proses yang panjang. Makna suatu karya jurnalistik tidak bisa dinilai secara serta-merta.
Wartawan menyampaikan informasi dengan harapan audiensinya memiliki pengetahuan. Berbekal pengetahuan itu, akan meningkat pemahaman dan kesadarannya terhadap sesuatu. Selanjutnya, bertindak sesuai dengan norma, aturan hukum, dan mengambil keputusan yang benar. Masyarakat berpengetahuan adalah masyarakat yang sejahtera. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang senantiasa ingin tahu dan berusaha memenuhi rasa ingin tahunya itu.
Dampak akhir hasil kerja wartawan bagi masyarakat adalah kesejahteraan. Untuk sampai pada dampak akhir itu, kerja wartawan dituntut penuh loyalitas dan sekaligus kerja keras. Loyalitas berarti dengan mengerjakan sesuatu dengan sepenuh jiwa, disiplin dan taat asas, kejujuran dan keberanian.
Kerja keras mengisyaratkan adanya ketelitian dan kecermatan serta daya tahan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik. Motivasi yang tinggi dan senantiasa terjaga dalam rangka memberikan yang terbaik kepada audiensinya.
Seorang wartawan kini dituntut menguasai banyak bidang yang semuanya penting. Setidaknya yang esensial adalah pengetahuan sosial budaya, teknologi komunikasi, wawasan hukum, ekonomi, dan politik. Itu pun harus dibarengi dengan kemampuan bahasa dan keterampilan komunikasi interpersonal.
Seorang teman mengatakan, profesi guru dan pendidik ’’dekat’’ dengan surga, karena ilmu yang bermanfaat. Kiranya pernyataan teman tersebut paralel pula dengan profesi wartawan sebagi pengabar kebenaran.
Penulis meyakini, UKW atau uji kompetensi wartawan adalah salah satu cara strategis mewujudkan kompetensi wartawan. Tulisan ini semoga memberi wacana yang bermanfaat, setidaknya dari the outsider. (*)
Jumat, 24 Februari 2012
PERS & KEBEBASAN BERPENDAPAT
Pers
bekerja untuk kepentingan publik dan bertanggung jawab terhadap publik. Pers
mengumpulkan, mengelola, dan menyampaikan informasi dengan satu visi untuk
kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang terinformasi akan lebih mudah
mengakses pengetahuan dan layanan publik. Penyelenggara negara juga akan lebih
akuntabel berkat eksistensi dan fungsionalisasi pers.
Ada
hubungan timbal balik antara pers, masyarakat, dan penyelenggara negara. Pers
adalah institusi sosial yang menjadi bagian vital bangunan bangsa dan negara.
Peran pers sudah diakui secara “de facto” dalam mempercepat laju pembangunan. Ini
dapat ditelusuri sejak era sebelum kemerdekaan hingga era reformasi sekarang.
Kerja insan pers juga dilindungi oleh undang-undang.
Dalam
beberapa pekan belakangan ini, pers menjadi pembicaraan hangat. Hari Pers
Nasional (HPN) yang diperingati setiap 9 Februari telah menjadi momentum untuk
konsolidasi, refleksi, dan menyusun rencana aksi perbaikan di semua lini secara
strategis. Hari Pers merupakan upaya menjadikan pers sebagai milik semua
komponen masyarakat.
Pers
berperan dalam mengawal proses layanan publik dari institusi pelayanan publik.
Tanpa kontrol pers, hak-hak dasar warga negara dapat terabaikan. Pers adalah salah satu institusi dalam kehidupan masyarakat
modern. Sejarah panjang pers bermula dari tuntutan kebutuhan akan media
komunikasi massa dan temuan alat pencetak. Pers masa kini identik dengan
saluran komunikasi, baik dari individu ke massa, maupun sebaliknya, dan dari massa
ke massa.
Dari sudut pandang lain, pers dapat
dilihat sebagai salah satu pilar penopang demokrasi hakiki bukan cuma demokrasi
prosedural. Demokrasi sendiri diasumsikan sebagai model tata kehidupan bersama
untuk mencapai tujuan bersama. Meskipun demokrasi seperti utopia, tapi melalui
dialektika, demokrasi itu dapat membantu memudahkan mencapai tujuan, setidaknya
dengan cara-cara damai dan elegan.
Kongkretnya, pers adalah media
komunikasi massa sebagai perwujudan prinsip kebebasan mengemukakan pendapat, alat
kontrol sosial, dan berperan dalam menyampaikan informasi kepada khalayak.
Kemerdekaan pers sebagai
institusionalisasi dari kebebasan mengemukakan pendapat, bukan berarti kebebasan
yang anarkhi. Kebebasan itu bertumpu pada tanggung jawab publik (kepentingan
yang lebih besar), penghargaan terhadap martabat kemanusiaan, dan etika baik
dalam mengumpulkan, mengolah, dan menyampaikan informasi.
Masyarakat modern menjadikan pers
sebagai sarana mengembangkan segenap potensi yang dimiliki. Pers berperan dalam
mendorong laju pembangunan, pergerakan perekonomian, dan pendidikan dalam arti
yang luas.
Dalam perjalanannya, pers tentu tak
pernah berhenti dari berbagai tantangan dan hambatan. HPN adalah salah satu momentum
tepat untuk terus melakukan revitalisasi spirit perjuangan pers. Apalagi kini
telah ada Undang-undang tentang Keterbukaan Informasi Publik. Udang-undang ini
mengamanahkan kewajiban bagi pemegang informasi publik untuk menyampaikannya
kepada publik melalui mekanisme yang sistematis, kecuali informasi yang
dikecualikan.
Tantangan dan hambatan pers bisa
dari luar dan bisa dari dalam pers itu sendiri. Tantangan dari luar berupa
adanya perbedaan kepentingan dengan pihak-pihak yang tidak ingin adanya
kebebasan mengemukakan pendapat. Meruncingnya perbedaan kepentingan itu bisa
berujung pada ancaman, pelecehan, teror, intimidasi, atau bahkan aksi kekerasan
terhadap pers. Pihak-pihak yang tidak ingin terwujudnya keterbukaan informasi,
jelas akan melakukan berbagai upaya terhadap pers, baik membujuk, merayu,
mengiming-imingi, maupun membentuk kelompok media sendiri. Upaya “menjinakkan”
pers akan dilakukan oleh mereka yang berkepentingan menghindari
pertanggungjawaban kepada publik.
Jumat, 17 Februari 2012
PERS & PUBLIK
Ada banyak jargon terkait pers, yang bermakna sangat dalam.
“Pena lebih tajam dari peluru. Revolusi dimulai dari tulisan. Penyambung lidah
rakyat. Pilar demokrasi. Kebebasan pers adalah kemerdekaan yang sesungguhnya.”
Itu sebagian. Jargon itu bukan hanya slogan, dan yel-yel, tetapi telah
dibuktikan dengan nyata. Politisi di pusat kekuasaan dan pejabat pemerintah
mengetahui kondisi yang terjadi di daerah pelosok melalui pemberitaan media.
Mencermati fenomena pelecehan dan kekerasan terhadap jurnalis,
harus dijadikan momentum untuk membangun pers yang bebas, bertanggung-jawab,
profesional. Pers yang mengejawantahkan sejuta mata mengontrol setiap jengkal
penyimpangan. Pers yang mewujudkan keterbukaan informasi dan tanggung jawab
publik penyelenggara negara.
Sambil menunggu bergulirnya proses hukum, kini saatnya
memetik hikmah. Kekerasan baik fisik maupun verbal, bukan cara jitu keluar dari
masalah. Begitu juga uang, bukan alat untuk membeli kebebasan pers. Apalagi
sudah dibelakukan UU Keterbukaan Informasi Publik.
Setiap aparatur pemerintah dan pejabat atau siapapun
hendaknya memahami fungsi pers sebagai bagian dari cara hidup berbangsa dan
bernegara. Setiap profesi adalah mulia, karena yang membedakan adalah
fungsionalitas dan lahan pengabdiannya.
Kerja jurnalis adalah menyebarluaskan informasi, memberi
pencerahan kepada masyarakat, dan memberi media refressing (hiburan). Pers
adalah pemandu dan menjadi referensi bagi pengambilan keputusan. Pers adalah
mengontrol layanan publik dan ruang publik dan memberikan kemungkinan yang
lebih luas bagi akses publik terhadap layanan pemerintah.
Idealisme jurnalis harus diletakkan di atas
segala kepentingan lain. Saya setuju penuntasan kasus ini secara hukum, agar
tidak terjadi kasus serupa di masa datang.
Langganan:
Postingan (Atom)

































