Oleh Zabidi Yakub *)
Membaca tulisan Jaja Suharja SIP (LE, Senin, 17/9), yang mengecap
LAMPUNG EKSPRES plus sebagai koran kelas tiga, menggelitik hati saya
untuk ikutan menorehkan guratan-guratan “peta” yang menilaskan jejak
berdarah sejarah LE hingga tetap ada dan eksis hingga hari ini. Tapi,
bilik hati yang lain seperti menghalangi. “Nggak usah ikutan, nanti kamu
riya’ dan berlebihan,” begitu bisiknya.
Ketika muncul tulisan Khamamik (LE, Rabu, 19/9), kembali hati saya
tergelitik, tetapi masih saya tahan. Dan, muncul tulisan Hi Ismetri
Radjab (LE, Jumat, 21/9) yang memancing agar Buya HMI sebagai tangan
pertama berkisah langsung tentang asal muasal hingga tetap adanya LE
hingga hari ini. Ini membuat adrenalin saya untuk menulis benar-benar
terpacu, sebab tak afdol rasanya bila hanya membaca cerita dari tangan
pertama. Perlu pula menyimak kisah dari ‘tangan kedua, ketiga, keempat,’
dan seterusnya atau ‘kaki tangan’ Buya yang dulu dalam keadaan lapar
tetap “nyanggong” di kantor TAMTAMA Jl Pattimura nomor 7 Telukbetung.
Akhirnya saya benar-benar mulai mengetik cerita ini, setelah ada
permintaan langsung dari Adolf Ayatullah Indrajaya, SH (Pimred LE) pada
Jumat malam (21/9). Saya iyakan meski agak ragu karena takut riya’ dan
berlebihan tadi, dan bingung dari mana tulisan harus saya mulai sebab
alangkah panjang dan berlikunya jalan yang telah kami tapaki, alangkah
banyak nama yang menghiasi kisah ‘jejak berdarah’ sejarah LE.
Sampai hari ini, tinggal saya dan Naim Emel Prahana orang paling lama
yang ‘menggelorakan’ TAMTAMA dari jalan Pattimura tahun 1994, yang
namanya masih tertera di masted, yang lainnya telah lama ‘pergi’ di
antara yang saya ingat dan bisa saya tulis adalah H. Mattjik Yatim,
Heriansyah Ak, Ahmad Novriwan, A. Azis Amrullah, Syahrir Hakim (kini di
Pare Pos, Sulawesi Selatan), Andrian Sangaji Takelairatu, Joni Walker,
Ahmad RS, Abdullah, Anwar, Nurjanah, M. Yusuf Puspitajaya (almarhum),
Syahruddin Saropi (almarhum), dan Iwan (entah siapa lengkapnya warga
Kampung Sawah ini).
Tahun ’94 itu Buya HMI mulai merintis jalinan kerja sama dengan Jawa
Pos setelah bersedia menerima pinangan mereka. Terjalinnya kerja sama
ini ditandai dikirimnya Ahmad Novriwan ke Surabaya untuk menyambungkan
tali silaturahmi, sebagai tanda bahwa telah ‘terikat janji’ Novriwan
membawa buah tangan berupa satu unit Macintosh yang ukuran monitornya
sebesar notebook jaman saiki hibah dari Jawa Pos.
Sungguh lama Mac itu teronggok karena kami tak bisa bagaimana
mengoperasikannya. Maklum barang ‘buangan’ Jawa Pos itu bagi kami adalah
barang ‘baru’ setidak-tidaknya baru kami lihat dan pegang. Oleh Bang
Andrian diotak-atiklah sehingga bisa mengoperasikan Adobe Pagemaker dan
mulailah debut Mingguan TAMTAMA di-layout dengan piranti canggih itu,
dan perwajahannya pun didesain ulang. Melihat tabloid tamTAMA, ya…
beginilah bentuk tulisan kop baru hasil desain ulang itu, bukan main
senang hati kami.
Dan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan, kami berebut untuk
mengoperasikan Mac itu. Seandainya Steve Jobb melihat kelakuan kami
berebut hasil karyanya itu, mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak
karena betapa jadulnya barang itu, sementara dia sudah berhasil membuat
yang lebih keren.
Tampilan tamTAMA benar-benar memikat. Sebelumnya, dibantu Iwan berita
koran ditik di mesin tik manual selebar kolom koran lalu digunting dan
disambung-sambungkan sehingga menyerupai kolom-kolom koran. Sedangkan
judulnya dibuat dengan Rugos.
Di era itu betapa sulitnya mempertahankan surat kabar agar tetap
hidup, sebab pengaruh kekuasaan rezim Orde Baru dengan Departemen
Penerangan-nya yang begitu mudah membreidel sebuah koran yang beritanya
mengusik ‘ketenangan’ pemerintah.
Rintisan kerja sama itu tak mudah mewujudkannya. Ibarat pinangan
calon pengantin dalam dunia nyata, mempelai pria harus menyiapkan
seserahan. Begitulah yang terjadi pada tamTAMA, harus menyiapkan bundel
yang berisi surat-surat rekomendasi dari berbagai pihak, seperti
Walikota Bandar Lampung, Danrem 043/Garuda Hitam, Gubernur Lampung, SPS
Provinsi Lampung, Departemen Penerangan Provinsi Lampung, dan entah apa
lagi (agak lupa), untuk diajukan ke serikat penerbit suratkabar (SPS)
pusat terkait registrasi keanggotaan, dan Departemen Penerangan Pusat
terkait surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) bagi koran yang akan
terbit harian.
Semua surat rekomendasi itu oleh Buya HMI diamanahkan kepada saya
untuk mengetiknya. Tidak sekali jadi, berkali-kali direvisi hingga
menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk ngeprint agar kelihatan
hasilnya yang memenuhi kaidah sempurna dan bisa di-acc oleh parapihak
yang dimintai restu membubuhkan tanda tangannya.
Semua saya lakukan dengan komputer yang masih menggantungkan
operasinya dengan sistem DOS (Direct Operating System) dan Word-Start
(WS) level 4. Harus ada disket DOS dan disket untuk menyimpan file.
Orang yang melihat LE hari ini tidak akan pernah tahu kalau hal ini
tetap saya endapkan dalam kepala saya untuk menjadi prasasti bagi jejak
sejarah keberadaan Harian TAMTAMA dan kemudian jadi Harian LAMPUNG
EKSPRES plus, namun bila saya ungkap jadi cerita mudah-mudahan tidak
dikatakan riya’ dan berlebihan seperti yang saya khawatirkan.
Setelah merampungkan tugas mempersiapkan bundel surat rekomendasi
tersebut, saya sempat meninggalkan TAMTAMA, sampai akhirnya di luar
dugaan saya kerja sama tersebut benar terwujud. Saya kembali dipanggil
oleh Buya untuk ikut ‘menikmati’ hasil jerih payah masa lalu. Bergabung
lagilah saya tahun 1998. Bertemu lagi dengan orang-orang TAMTAMA lama
jaman ‘lapar’ di Pattimura. Mereka baru saja pulang dari Surabaya
setelah magang ngangsu kawruh (menimba ilmu) di kantor Jawa Pos.
Diam-diam oleh Buya saya diplot untuk ditempatkan di bagian keuangan
entah apa alasan beliau, tapi saya lebih pilih di bagian pracetak,
karena passion saya di situ. Sewaktu SMA di Jogja saya rajin memburu
koran-koran yang terbit untuk mengumpulkan artikel dan opini lalu saya
kliping. Hobi ini lambat laun mengasah kecintaan saya pada dunia tulis
menulis dan penerbitan pers. Begitu mencecap bangku kuliah saya
menceburkan diri untuk mengelola bulletin kampus. Kegilaan saya pada
ranah tulisan membuat saya tak sungkan menurunkan tulisan yang
mengkritik kebijakan petinggi kampus, yang berbuntut dipanggil oleh
dosen. Katakanlah Bulletin kampus diibaratkan akademi, maka “program
sarjana” saya tempuh di LE.
Dengan digandeng Jawa Pos yang digawangi Priyo Susilo sebagai General
Manager, di samping orang-orang lama muncul muka-muka baru baik yang
sudah pernah malang melintang di penerbitan pers maupun yang baru mau
mulai belajar jadi wartawan. Mereka (yang baru) di jajajaran redaksi
adalah H. Ismetri Radjab dan Supriyadi Alfian (Redaktur Pelaksana),
Fajrun Najah Ahmad (Biro Jakarta) keduanya alumnus Lampung Post, M.
Syafe’i Mat Arif (belakangan memilih mundur dan menerbitkan Mingguan
HANDAL sejak 15 Desember 1998), Yulizar Kundo, Herri Ch. Burmelli, Ferry
Indrawan, Zahdi Basran, Jamhari Ismanto, Yanto Sastro Utomo, Abdul
Malik, M. Widodo, Suparman Maryumi, Aan S. Labuan, Syamsul Arifin, Dwi
Rohmadi Mustofa, M. Naviandri, Sutarman Sutar.
Alhasil nama-nama yang menghiasi masted TAMTAMA dan LE datang dan
pergi silih berganti. Kalau mau menyebut juga mereka yang di jajaran
reporter, ada M. Yusuf, Syahidan MH, Suprapto, Santi Hastarini, Suryani,
Azwir Amir Siaru (almarhum), AK Yohanson (pernah gabung ke Handal, kini
‘pulang’ kembali ke Harian Ekspres grup LE), Marlan Azis (pernah
menduduki jabatan Pimred di Khatulistiwa Post, kini kembali ke Harian
Ekspres), Tohiri Alam (kini di Radar Tanggamus), Trufie Murdiani (kini
di Radar Lampung), Desi Wahyuni (kini di Rakyat Lampung), Sri Hartuti
(kini di Lampung Tv), Yohanda (pernah ke Bandarlampung News, kini di
Harian Ekspres), Nurjanah (kini di Bandarlampung News), Meily Haryani
(kini jadi PNS di Bengkulu), dan Kusmawati (kini di Pos Kota).
Karena merasa ayem setelah TAMTAMA ‘dinikahkan’ dengan JPNN, Buya HMI
merintis koran Banten Ekspres dengan mengutus Herri Ch. Burmelli dan
Ferry Indrawan, tapi sayang karena tak terurus akhirnya diambil alih
oleh Jawa Pos menjadi Harian Banten. Buya juga membina Bumi Post yang
dikelola A. Bastian Rajamuda di Kotabumi, tapi lagi-lagi karena dililit
persoalan akhirnya dibekukan.
Krisis ekonomi yang memicu kerusuhan massal hingga melahirkan tragedi
Mei dan Semanggi di Jakarta, dan tragedi UBL di Bandarlampung, tidak
membawa pengaruh bagi pasangan ‘pengantin baru’ Harian TAMTAMA-JPNN.
Malahan membawa berkah, sebagai satu-satunya koran terbit berwarna di
lampung, TAMTAMA diuntungkan suplai berita dari JPNN (Jawa Pos News
Network) berikut foto-foto yang mendukung. Jadilah berita-berita TAMTAMA
saat itu disenangi banyak orang didukung harga jual yang hanya seribu
perak.
Saya sempat mengalami ngasong koran TAMTAMA di terminal Rajabasa.
Dengan harga 1000, wajah bergincu (foto berwarna), dan berita tentang
rezim Orde Baru dan kroni-kroninya, tak membuat saya kesulitan
menghabiskan 25 eksemplar koran hanya dengan dua atau tiga kali muter di
terminal. Hal ini seringkali membuat Heru Chandra (staf pracetak yang
disuplai Jawa Pos) ngedumel sambil bilang juancuk manakala melihat koran
di tangan saya habis terjual, sementara di tangannya masih ada beberapa
eksemplar.
Tak ada perilaku egoistis di antara kami, manakala satu sudah habis
terjual dengan riang membantu yang lainnya ngejual koran sampai habis,
lalu bareng-bareng santapan nasi uduk sembari guyonan atau langsung
pulang ke mess karyawan di pirel (pinggir rel) jalan Sultan Agung gang
Murai naik Damri sambil menjajakan koran sisa (kalau ada) kepada
penumpang lain.
Keadaan ini sempat membuat loper koran Lampung Post di terminal marah
besar, dan dari bagian marketing Lampost turun langsung ke terminal
memantau kejadian staf TAMTA
MA yang menyerbu jadi loper dadakan itu. Kami harus bermain cantik,
keliling dengan dua orang berdekatan, jangan seorang diri demi
menghindari insiden main pukul oleh loper yang telah lama ‘menguasai’
terminal.
Sungguh membawa berkah, 25 eksemplar koran bisa menghasilkan 10.000
sehari, kalau sebulan bisa melebihi gaji kami sebagai pracetak.
Sampai-sampai Heru nyeletuk wah nek ngene enak dodol koran ae, leren ae
ngelayout (wah kalau begini enak jualan koran saja, berhenti saja jadi
pracetak). Uang hasil ngasong koran itu lumayan untuk beli susu dan
oleh-oleh buat anak saya yang kala itu ikut ibunya tugas mengajar di
Pesisir Utara, Lampung barat. Berkah lainnya, saya ikut-ikutan
memublikasikan puisi-puisi yang saya buat sewaktu di Jogja dan
bertahun-tahun hanya saya simpan di hard-disc komputer.
Lampung sebagai negeri penyair seyogianya perlu wadah agar para
penyair muda bisa tumbuh dan berkembang. TAMTAMA mengapresiasi dengan
menyediakan rubrik “Seni Budaya” yang digawangi Aan S. Labuan (kini di
Lampung Tv). Ada beberapa kali TAMTAMA edisi Minggu memuat puisi saya.
Seiring ‘perceraian’ yang terjadi antara TAMTAMA dan JPNN, kami
memboyong TAMTAMA pindah kantor ke jalan Diponegoro 108 Telukbetung,
masih diantar oleh GM TAMTAMA, Priyo Susilo dan beberapa redaktur
sebelum akhirnya mereka memutuskan ‘ikut bercerai’ dan hijrah. Priyo
Susilo, Yanto Sastro Utomo dan Suparman Maryumi (ke Radar Cirebon), M.
Widodo dan A. Malik (ke Radar Banten).
Hijrah ke Diponegoro, masih ada sisa-sisa kebersmaan yang bisa kami
nikmati, Fajrun Najah Ahmad sebagai Redaktur Pelaksana memperhatikan
betul ‘daya tahan’ kinerja kami, sehingga mensuplai nasi uduk saban
malam. Tapi, akhir tahun 2000 Fajrun ikut hijrah ke koran Sinar Glodok,
Jakarta. Masa-masa sulit kembali membuat kami sering mengalami ‘badan
panas dingin dan menggigil tiba-tiba’ lantaran telat gajian sebagai
imbas dari setoran uang langganan koran dan iklan dari biro-biro di
daerah tak kunjung diantar ke kantor, persis seperti apa yang diungkap
H. Ismetri Rajab dalam tulisannya.
Memasuki tahun 2001, satu persatu staf pracetak ‘pergi’ meninggalkan
ruang kerjanya, seperti Syahril RR alias Pak Do (kembali ke Jambi),
Elwin Fadil (kini di Harian Banten), Feri Setiawan (ke Radar Tegal),
Nico Nopiansyah (sempat ke Radar Cirebon, kini di Rakyat Lampung),
termasuk saya akhirnya ‘menyerah’ dan membidani Tabloid Wahana Pelajar
yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Perpustakaan Kota Bandar
Lampung.
Terbit tertatih-tatih dari jalan Diponegoro sambil menyiapkan kantor
permanen di jalan Urip Sumoharjo, LE membekukan rubrik yang mewadahi
hasil kreatif penyair muda lampung seiring tidak ada yang ‘bersedia’
mengasuhnya. Penyair Naim Emel Prahana yang memiliki kapasitas dalam
urusan ini lebih pilih jadi reporter daerah yang ngepos di Metro,
seiring dengan aktivitas beliau di banyak organisasi massa seperti BNN,
KONI, dan sempat juga di Partai Golkar.
Padahal, di era 1998 saat berkantor di jalan Sultan Agung, kami
berdua sering sekali menginap di kantor dan baru pulang pagi harinya,
sebelum berangkat tidur kami berdua memberesi sisa-sisa kerja yang
acak-adut, menyapu dan mengepel lantai serta mengumpulkan sampah. Ini
kisah nyata, tak diungkap jadi ‘kerak’ di kepala, diungkap takut
dikatakan riya’ dan lebay. Ini sebelum saya ‘menyerah’ pada rayuan Edi
Suwignyo Hasyim (staf pracetak teman Heru dari Jawa Pos) yang memaksa
saya ikut tidur di mess yang memang telah disediakan.
Tahun 2004, ketika kantor di jalan Urip Sumoharjo siap ditempati
berikut mesin cetaknya, kembali Buya memanggil saya lewat putranya H.
Doni Hardana Indrajaya yang menelepon langsung meminta bantuan
menghidupkan kembali LE yang sudah lama tidak terbit. Sejak itu staf
pracetak silih berganti datang dan pergi. M. Yusuf Ramadhan (setia sejak
di jalan Diponegoro, kini di Tribun Lampung), Yan Zikri (pracetak di
jalan Diponegoro yang sempat juga gabung ke Bandarlampung News) kembali
lagi memperkuat jajaran pracetak di jalan Urip sampai akhirnya hijrah ke
Radar Tanggamus dan kini berkarir di ASDP Bakauheni.
Saya bertahan di ‘sandaran nasib’ demi kecintaan saya di ranah tulis
menulis. Kembali puisi-puisi saya secara berkala menghiasi halaman LE
mengisi rubrik “Karya Budaya” setiap hari Sabtu. Kadang beberapa judul,
sesekali satu halaman utuh saya borong. “Onani”. Ya, begitu sindiran
yang kerap dilontarkan kepada orang yang menerbitkan puisi di koran
sendiri. Saya memahami sepenuhnya. Yang saya lakukan dilandasi
keprihatinan, kok kunjung tidak ada penyair di lampung ini mengirimkan
puisi, cerpen atau esai budaya ke LE. Sebuah ironi yang melengkapi
perjalanan “korannya masyarakat lampung” ini.
Nah, bisa jadi berawal dari sering munculnya puisi saya ini membuat
penyair Dahta Gautama (CEO Dinamika News) ‘berani’ memasukkan nama saya
dalam jajaran penyair lampung dalam tulisannya berjudul “Melacak Penyair
Lampung” pada rubrik PUSTAKA, Lampung Post, Minggu, 15 Januari 2006.
Yang saya publikasikan sebenarnya adalah stok lama puisi sewaktu di
Jogja, yang tahun ’80-an sering dibacakan di Radio Retjo Buntung dan
Radio Angkatan Muda.
Rubrik “Karya Budaya” meski nyempil di halaman 11 memanfaatkan kolom
sisa sambungan halaman 1, sempat mencatatkan nama Agusta Hidayatullah
yang sohor dengan panggilan Aji Aditya Jr kala jadi announcer di Andalas
FM sebagai punggawanya, melahirkan resensi film dan musik. Group band
legendaris Koes Plus salah satu yang dia bedah menjadikan LE bernilai
lebih.
Sayang, kiprahnya menjaga desk yang sering tergusur kalau penuh
sambungan atau banyak iklan itu tak sampai setahun. Nama Y. Wibowo juga
sempat menghias masted sebagai Redaktur Opini dan Budaya (Sastra). Salah
seorang penyair lampung ini sering terlihat di larut malam masih
terpaku di depan laptopnya mencari bahan suguhan untuk mengisi halaman
yang diasuhnya tersebut. Tapi, lagi-lagi tak bertahan lama.
Di awal tahun 2006, dengan digawangi H. Fajrun Najah Ahmad sebagai
Redaktur Eksekutif, dan dibantu beberapa nama yang memperkuat redaksi
seperti Bung Dolop, Yon Bayu Wahyono, Herman Afrigal, Budimansyah, Rifki
Marfuzi, Rizki Fahrijan Syah, Sudipto Sanan, Nurkholis Sajadi (pindah
ke Harian Lampung), Edi Purwanto alias Don Pecci (kini di Tegar Tv),
Jamhari Ismanto (kini mendirikan Fajar Sumatera), Susi Daryani (kini
jadi PNS di Kotabumi). LE menggebrak dengan berita yang selalu ‘panas’
dan jadi momok yang begitu menakutkan para pejabat.
Suatu ketika berita LE membuat tokoh gerot di lampung ‘panas kuping’
atau ‘kebakaran jenggot’ sehingga ‘menyalak’ dan mengeluarkan ancaman.
Sama sekali tidak membuat Fajar –sapaan akrab Fajrun– keder, malah di
terbitan LE edisi esoknya, muncul judul berita “Si Pulan Teriakkan
Ancaman,” tak pelak membuat “Si Pulan” hanya memilih bungkam, hendak
mensomasi mikir seribu kali sebab sepertinya dia yang justru keder
dengan nama besar Buya HMI.
Akan tetapi, ada anggota dewan di Lampura tampil heroik menerbitkan
Maklumat di dua surat kabar yang terbit di lampung, karena keberatan
dengan berita yang dilansir LE. Isi Maklumat itu menyatakan keberatan
dan tidak memperkenankan Fajar melakukan konfirmasi dan kegiatan
jurnalistik. Tindakan anggota dewan ini menerbitkan Maklumat tersebut,
mendorong Fajar melaporkannya ke Polda Lampung dengan tuduhan pencemaran
nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan menghalang-halangi tugas
jurnalistik sebagaimana diatur UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pokok
Pers.
Di sinilah letak ruh judul tulisan ini. LE terjepit di antara piil.
Piil Buya HMI sebagai satu-satunya orang lampung yang punya koran,
dengan cara apa pun akan mempertahankan keberadaan LE sampai kapan pun.
Dan piil orang lampung kebanyakan yang mudah tersinggung. Pejabat di
lampung ini bila ada berita di koran yang mengritik kebijakannya, akan
marah bahkan memerintahkan agar seluruh satuan kerja di bawahnya
berhenti berlangganan koran yang mengritik kebijakannya tersebut.
Bagi LE, perangai pejabat macam begini jelas sangat merugikan. Telah
jadi rahasia umum, yang namanya pers dipercaya sebagai salah satu dari
empat pilar demokrasi. Kalau koran mengkritisi kebijakan pejabat yang
dinilai tidak pro rakyat misalnya, tentu suatu tindakan yang bisa
dibenarkan karena memang tugas pers sebagai kontrol sosial, maka
berkewajiban mengawal kebijakan pemerintah dalam rangka menegakkan
demokrasi dan memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.
Jadi, sangat tidak demokratis bila pejabat yang tersinggung
memutuskan secara sepihak kontrak langganan koran dan pemasangan iklan
hanya karena piilnya terusik. Dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pokok
Pers, telah ada pasal-pasal yang mengatur perihal klarifikasi (hak
koreksi), hak jawab, dan hak tolak yang bisa dilakukan pejabat dalam hal
membantah atau meluruskan berita yang telah terbit di koran. (Baca:
Pasal 4 ayat (1) samapai (4) UU Pokok Pers No 40 Tahun 1999).
Melakukan klarifikasi (hak koreksi), hak jawab, dan hak tolak inilah
yang seyogianya ditempuh pejabat, bukan singut lalu memutus langganan
dan pemasangan iklan, melarang wartawan hunting berita di lingkup
perkantoran di mana pejabat bersangkutan berdinas, serta tak
memperkenankan wartawan meliput segala kegiatannya di luar kantor. Kalau
hal ini yang dilakukan, berarti pejabat ini berniat mengebiri kebebasan
pers. Padahal kebebasan pers mendapat jaminan yang kokoh di tingkat
konstitusi. (Baca: Pasal 28 F amandemen kedua UUD 1945).
Di tahun 2010, di bawah komando Dolop dibantu Yon Bayu Wahyono, LE
menghelat acara “Selingkuh Kata” saat diadakan di kantor LE penyair
lampung yang diundang adalah Edy Samudra Kertagama, Isbedy Stiawan ZS,
Naim Emel Prahana, Andrian Sangaji, Y. Wibowo, Budi P. Hatees. Dan saat
diadakan di rumah dinas Walikota Bandarlampung Eddy Sutrisno (saat itu)
bersamaan dengan acara buka puasa bersama, penyair yang diundang adalah
Udo Z. Karzi membacakan puisi-puisi basa lampung yang ada di bukunya Mak
Dawah Mak Dibingi.
Sampai hari ini LE masih menyediakan rubrik Budaya dan Gaya Hidup.
Ini dipertahankan demi mewadahi publikasi hasil kerja kreatif para
seniman, seiring dengan adanya Kementerian Pariwisata dan Industri
Kreatif. Meskipun barangkali tak ada penyair-penyair muda di lampung
tergerak mengirimkan hasil karyanya ke LE.
Toh, rubrik ini tak akan ‘kering’ sebab banyak bahan untuk mengisinya
yang bisa diunduh dari berbagai sumber berita berkat fasilitas
internet. Inilah berkah yang bisa dinikmati dari kecanggihan teknologi.
Dan kita sebagai anak bangsa berkewajiban untuk memublikasikan ragam
kebudayaan agar jangan ada klaim dari negara lain.
Ada banyak berkah tercurah dari TAMTAMA dan LE. Eddy Sutrisno (mantan
Walikota Bandarlampung periode 2005-2010) dulunya adalah wartawan
Mingguan TAMTAMA. Khamamik (mantan anggota DPRD provinsi lampung yang
kini jadi Bupati Mesuji periode 2012-22017) juga pernah jadi kepala biro
di Tulangbawang, Syahidan MH (mantan anggota DPRD Lampung Selatan
periode 1999-2004 dan 2004-2009) juga pernah jadi wartawan Harian
TAMTAMA.
Kalau dikatakan LE ibarat perguruan jurnalistik mungkin tidak
berlebihan, yang sukses berkarir di birokrat faktanya ada, yang masih
menekuni dunia kewartawanan juga ada. Tidak bisa dipungkiri sebelum
sukses dan namanya besar di media lain, LE lah asal-muasal mereka
memperoleh ilmu tentang 5W+1H, cara berinteraksi dengan narasumber, dan
cara menyajikan hasil liputan. Bahkan seluk beluk managerial pun mereka
dapat dari sana. Mungkin keteduhan yang Buya HMI punya itulah sehingga
membuat wartawan dan karyawan LE terpacu dan termotivasi untuk sukses
meskipun mereka sudah meninggalkan LE. Karena selama di LE mereka merasa
terayomi sebagai “anak-anak” Buya juga.
Tahun lalu (2011), saat puncak peringatan HPN (hari pers nasional)
yang dipusatkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tepatnya tanggal 9
Februari, Buya HMI dianugerahi Kartu Pers Nomor Satu (Press Card Number
One) oleh PWI Pusat yang tertuang dalam surat keputusan Nomor
1131/PWI-P/LXIV/2010 yang ditandatangani ketua PWI Pusat Margiono dan
Panitia HPN 2011 Priambodo RH tertanggal 15 Desember 2010.
Kartu ini diberikan karena penilaian pada senioritas dan prestasi
beliau yang patut menjadi teladan serta menjadi aspirasi bagi wartawan
lainnya. Ini meniscayakan betapa suatu profesi bila ditekuni secara
istikomah, akan menghasilkan buah yang layak dipetik di kemudian hari.
Saat memperingati HUT LE ke-43, hadir kembali ke tengah-tengah kami
Udo Nuril Hakim Yohansyah (salah satu pemegang saham TAMTAMA kala itu),
H. Mattjik Yatim, Hamdani AR., dan A. Kafrawi Passa yang pernah
mengelola koran Suara Lampung bersama Kolam Pandia (almarhum). Di rubrik
Numpang Liyu (5 Oktober), di bawah judul “Keluarga LE” Buya HMI
menorehkan nama saya dan beberapa rekan, ini tentu hal yang
membanggakan.
Ini madu manis yang bisa saya nikmati sebagai bagian dari berkah yang
diberikan LE. Berkah lain, mungkin dinikmati oleh mereka yang ketemu
jodoh di LE. Ya, ada beberapa nama karyawan LE menemukan tambatan hati
mereka di LE. Mereka bertemu, setelah ada yang ‘nembak’ menjalin cinta
dan merasa cocok lalu diselesaikan di hadapan penghulu. Kini buah hati
mereka pun sudah sering menyertai mereka dalam berbagai kegiatan family
gatering yang diadakan LE. Dirgahayu LE ke-44, teriring doa semoga tetap
eksis selamanya. (*)
*) Zabidi adalah Kabag Pracetak LE