Selasa, 27 April 2010

PLAGIARISME DAN IJAZAH PALSU


Plagiarisme dan Pemalsuan Ijazah

Oleh Dwi Rohmadi Mustofa
Mahasiswa Pascasarjana Magister Teknologi Pendidikan
Universitas Lampung
(artikel ini dimuat dalam Radar Lampung, Rabu, 28 April 2010)

Mencuatnya kasus plagiarisme dari Bandung, telah memercik wajah dunia pendidikan tinggi. Kasus seperti ini ditambah lagi dengan adanya perilaku pemalsuan ijazah oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan kampus. Semua ini mencerminkan, bahwa ijazah telah menjadi tujuan, mengabaikan proses yang seharusnya lebih dihargai dalam membangun karakter.
Seperti diberitakan media, dari dua kampus besar dan ternama di Bandung, terkuak dugaan plagiarisme karya ilmiah. Dari Lampung dugaan pemalsuan ijazah sedang bergulir kencang dalam ranah penyidikan. Hebatnya lagi, semuanya melibatkan “orang kuat” dan “orang hebat”. “Orang kuat” karena merupakan anak mantan pejabat. “Orang hebat” karena terjadi pada mereka yang sudah mencapai jenjan pendidikan tertinggi, strata 3. Apa maknanya?
Hemat saya, plagiarisme dan pemalsuan ijazah memproyeksikan perilaku jalan pintas oleh orang-orang yang “tidak tahan banting” dan bentuk pengingkaran terhadap kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. Ijazah palsu telah digunakan untuk melamar pekerjaan sebagai PNS. Karya ilmiah hasil plagiarisme dimanfaatkan untuk mengumpulkan poin sebagai angka kredit bagi status kepangkatan. Singkatnya, status sosial gelar telah menutup mata dan mata hati pemburu gelar.
Plagiarisme dan pemalsuan ijazah seperti saudara kembar. Karakteristiknya sama, “jalan pintas dan status sosial belaka”. Untuk menyelesaikan suatu jenjang pada program pendidikan tinggi, lazimnya dipersyaratkan membuat suatu karya tulis ilmiah. Hal ini dijadikan wahana untuk mengukur keberhasilan tugas-tugas belajar mahasiswa. Selain itu, juga menjadi instrumen atau alat (tool) analisis ilmiah bagi mahasiswa kelak ketika terjun dalam dunia praktis.
Para pemburu gelar yang mengabaikan kaidah akademik, akan berusaha dengan berbagai macam cara, termasuk yang ilegal dan melanggar hukum. Rambu-rambu dan ancaman sanksi tampaknya tidak menyurutkan upaya mewujudkan niat.
Terjadinya praktek plagiarisme dan/atau pemalsuan ijazah menunjukkan rusaknya tatanan etika pribadi para pelakunya. Dalam fase selanjutnya, bisa menjadi ancaman terhadap sistem pendidikan.
Secara analitik atas pengalaman empirik, dapat dikatakan kasus seperti ini merupakan fenomena sosial yang digambarkan sebagai “fenomena gunung es”. Yang tampak hanya permukaan saja. Kasus-kasus serupa, seperti mencontek, perjokian dalam ujian, dan sebagainya, dalam kadar yang berbeda pantas ditelisik lebih jauh.
Sejak lama dalam dunia kampus ada satu musuh bersama tapi terkadang terlupakan. Mungkin lebih tepat, enggan dibicarakan. Musuh bersama itu bernama plagiarisme. Kalaupun diketahui, disadari, tetapi enggan dibicarakan. Tampaknya topik ini akan selalu hangat dibicarakan, karena senantiasa adanya bahaya laten (suatu bahaya yang setiap saat bisa muncul).
Secara definisi, plagiarisme dijelaskan sebagai suatu perbuatan penjiplakan yang melanggar hak cipta, mengakui karya tulis, karangan, pendapat, orang lain sebagai karyanya sendiri. Yang ekstrem, plagiarisme disamakan dengan tindakan pidana pencurian karya orang lain. Plagiarisme juga memiliki beragam bentuk.
Penulisan skripsi maupun karya tulis sebagai tugas akhir dipandang sebagian mahasiswa sebagai sesuatu yang menakutkan. Dorongan untuk menempuh jalan pintas sering menggoda. Kemampuan finansial sering menggoyahkan tatanan etika. Penawaran dari pihak-pihak yang mencoba meraup keuntungan dari suasana “ketakutan” terhadap skripsi atau tugas akhir sebagai karya akademik, terkadang memperoleh tanggapan. Angin surga yang dihembuskan para petualang karya ilmiah sering menghampiri mahasiswa yang tidak memiliki kesiapan mental dan motivasi berprestasi yang kurang.
Permasalahan skrispi bodong, sebenarnya sudah mengemuka sejak puluhan tahun lalu. Jadi boleh dibilang sudah “karatan”. Munculnya istilah-istilah calo, makelar, joki dsb hanyalah dampak dari kualitas proses penyusunan skripsi atau tugas-tugas akhir pendidikan di perguruan tinggi. Mereka yang beroperasi sebagai “perantara” dalam menyusun tugas-akhir mahasiswa ini membungkusnya dengan bermacam istilah mentereng: konsultan, olah data, jasa pengetikan, bantuan belajar, dan sebagainya. Modusnya tentu saja banyak sekali. Banyak kalangan internal kampus yang terasa enggan membahas topik ini. Kemungkinan besar karena ini menyangkut dirinya sendiri.
Lemahnya sistem pengendalian dan sekaligus kurangnya kemauan dalam mengeleminir perilaku menyimpang dari pihak-pihak yang semestinya melakukannya semakin menumbuhsuburkan gejala plagiarisme.
Memang sangat tipis batasan antara mencontek, meniru, mengadobsi, mengembangkan, maupun menginovasi karya tulis. Masih banyak dimensi-dimensi lain yang patut didiskusikan di sini, seperti etika pengutipan, pembimbingan, survey minat dan motivasi, keterampilan menulis, dan pengendalian yang sistematis.
Sebenarnya, jika ada komitmen dan konsistensi, untuk mengendus atau membendung gejala plagiarisme tidak terlalu sulit. Melalui mekanisme internal yang sistematis dalam institusi perguruan tinggi sendiri dapat dilakukan. Yang lebih penting sebenarnya, bukan pada masalah pencegahan plagiarisme dari luar diri pelaku. Secanggih apapun mekanisme dan aturan maupun software dibuat untuk mengeleminir kecurangan akademik ini, tetapi apabila sikap mental kejujuran tidak dibangun, maka upaya membuka celah kecurangan akan selalu ada. Jadi substansinya terletak pada kejujuran individual dan integritas pribadi. Contoh skripsi bodong di sini juga semata-mata dimaksudkan sebagai representasi terhadap tugas-tugas penulisan karya ilmiah pada berbagai jenjang pendidikan.
Kasus yang mencuat beberapa waktu lalu, di mana seorang guru besar yang tersandung kasus plagiarisme mencoreng dunia perguruan tinggi. Belum hilang dari ingatan, kasus serupa muncul lagi. Mirisnya, terjadi pada perguruan tinggi ternama. Memprihatinkan memang. Berangkat dari keprihatinan yang mendalam itu saya ingin berbagi pengalaman. Semoga paling tidak kembali menyegarkan kesadaran kita tentang apa yang di kalangan akademik dianggap sebagai perbuatan sangat tercela (untuk tidak mengatakan menjijikkan). Bahkan jika sangat berat, sanksinya pun sangat berat. Semua pihak perlu melakukan kajian, pengamatan, perenungan, dan menyusun mekanisme untuk mengantisipasi terjadinya plagiarisme.
Kasus plagiarisme tampaknya memang seperti benalu. Ia tumbuh pada batang dan menghisap saripati makanan pohon yang ditumpanginya. Ungkapan yang lebih keras, plagiarisme sulit diberantas karena tercipta iklim saling menguntungkan di pusaran para pihak yang terlibat.
Meskipun demikian, optimisme harus ditumbuhkan. Skripsi bukan akhir segalanya. Ada beberapa tawaran solusi, seperti peningkatan intensi pembelajaran metodologi penelitian dan penulisan, simplifikasi format, “desakralisasi” skripsi atau tesis, menghargai proses (skripsi/tesis bukan tujuan, tapi hanyalah sarana), obyektivitas dan profesionalisme pembimbing.
Menghargai proses penulisan pada tugas-tugas mahasiswa harus dilakukan oleh para pihak. Mahasiswa harus memiliki kesadaran dan kebanggaan terhadap kemampuannya menghasilkan karya sendiri. Dosen wajib melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan rambu-rambu akademik. Integritas pribadi dan martabat profesional dipertaruhkan. Sebab, mahasiswa akan selalu “melihat” dosen sebagai sosok yang ditiru. Institusi memiliki aturan baku yang memuat mekanisme dan berbagai ketentuan yang harus dipenuhi.
Kasus pelanggaran etika akademik, secara lebih jauh dapat ditelusuri pada jenjang pendidikan sebelumnya. Berbagai pertanyaan dapat diajukan di sekitaran, apakah sudah terpenuhi standar kompetensi kemampuan berbahasa para siswa SMA atau SMP? Sudahkah dilaksanakan pendidikan yang menghargai kreativitas, originalitas, dan perbedaan pendapat di kalangan siswa?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting, karena di usia sekolah menengah dapat dipandang sebagai masa yang berharga untuk membentuk sikap ilmiah, kejujuran, dan kreativitas. Jika pembentukan sikap positif dan menghargai perbedaan pendapat, menghargai hasil karya sendiri telah dilakukankan dan menjadi “gizi” bagi anak didik kita, maka kelak ketika mereka mengemban predikat sebagai siswa yang “maha” akan membantu untuk tumbuhnya sikap kejujuran ilmiah.
Diskursus dan polemik tentang plagiarisme memang seharusnya dituntaskan. Media harus terus mengawal publikasi guna membantu menumbuhkan kesadaran dan sikap ilmiah. Kritik melalui dan oleh media juga selayaknya dikembangkan seiring dinamika yang terjadi dalam “lembaga” pendidikan. Sulit membayangkan suatu dunia pendidikan atau organisasi pendidikan, tanpa ada masukan, saran, pendapat, dan kontrol publik. Membiarkan kendurnya kontrol terhadap lembaga pendidikan sama saja membangun suatu menara gading.
Pembahasan dan penanggulangan plagiarisme membutuhkan komitmen banyak pihak. Adanya aturan bukan untuk dilanggar, tapi justru untuk meminimalisir atau menghindari pelanggaran. Semoga tidak ada lagi, apa yang oleh Agoes Soegianto (Radar Lampung 18 Februari 2010) disebut “profesor masturbasi”. Predikat guru besar menjadi “buruan”. Sayangnya, dalam konteks yang kurang pro terhadap etika ilmiah. Persyaratan jabatan fungsional dosen yang diakui penulis terlalu longgar.
Memang banyak variabel yang terkait dengan terjadinya plagiarisme. Egoisme kebidangan, atau aliran dalam melakukan penelitian atau penulisan oleh pembimbing, menjadi momok bagi mahasiswa. Biasanya mahasiswa akan “mati-langkah” ketika pembimbing atau advisor mengharuskan melakukan sesuatu sesuai dengan “seleranya”. Nah, ketika posisi seperti itulah pintu kecurangan mulai terbuka. Variabel lain yang patut dicurigai sebagai penyebab terjadinya plagiarisme adalah daya tahan. Seberapa jauh mahasiswa atau dosen memiliki kesabaran, ketekunan, dan kemampuan untuk menghasilkan karya ilmiah yang bermutu. Tren manusiawi adalah bagi mahasiswa kuliah cepat lulus, bagi dosen, pangkat cepat naik. Tulisan ini semoga menjadi penggugah kesadaran dan optimisme para pihak dalam menghargai karya sendiri, menghagai kejujuran, mendorong kreativitas. Semoga. (****)

Jumat, 19 Maret 2010

Pendidikan dan Industri


Pendidikan dan Industri
Oleh Dwi Rohmadi Mustofa
Mahasiswa Pascasarjana Magister Teknologi Pendidikan
Universitas Lampung
(Artikel ini dimuat Radar Lampung, Jumat, 19 Maret 2010)
Membicarakan dunia pendidikan, kalau mau jujur, sebenarnya membicarakan suatu industri terbesar sepanjang sejarah. Tampaknya, kawasan ini, dalam beberapa tahun-tahun mendatang masih akan terus merajai kejayaan. Ketika bicara industri, maka tak pelak itu berarti bicara bisnis. Hipotesis agak ekstrem memang, kalau mengatakan bahwa pendidikan telah menjadi lahan bisnis. Oleh karena itu patut dibuka forum polemik terhadap pernyataan ini.

PERNYATAAN yang bersifat hipotesis tersebut bukan tanpa alasan. Secara substantif, pembicaraan subyek (pelaku) pendidikan, tak terlepas dari esensi bisnis. Mari kita tengok beberapa poin berikut: Ujian Nasional (UN), BHP, sertifikasi guru, pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, sekolah berstandar internasional, dan sebagainya. Logika bisnis semuanya dikemas dalam bentuk program dan kegiatan terkait “pendidikan”. Semua poin tersebut berdiri di atas landasan prinsip “meningkatkan kesejahteraan”. Di bawah payung “pendidikan”, putaran roda bisnis terus bergerak.
Industri, dapat dipahami sebagai sekumpulan sektor usaha. Oleh karena itu, dapatlah disepadankan sekumpulan usaha di bidang pendidikan disebut industri. Secara implisit adalah industri jasa pelayanan pendidikan.
Fakta bahwa suatu program membutuhkan biaya memang tidak bisa dipungkiri. Permasalahannya adalah, bagaimana mewujudkan tujuan itu dengan efektif dan efisien, dengan berlandaskan teori, memiliki justifikasi, legitimasi, dan akuntabel. Akuntabel di sini dalam segala hal, bukan hanya dari segi pengelolaan biaya.  
Ujian Nasional dalam beberapa tahun terakhir telah menyedot energi masyarakat. Kontroversi terutama menyangkut intervensi kewenangan menyatakan “lulus” dan bagaimana membuat peta serta standarisasi mutu pendidikan secara nasional. Akhirnya, aroma “proyek” pun tak terhindarkan. Sederet panjang “problem” pendidikan masih bisa ditambahkan, seperti pengadaan buku, pengangkatan guru honor menjadi CPNS, dan sebagainya.  
Di tingkat mikro, penyelenggaraan proses pembelajaran di sekolah (dan dalam kelas) juga masih banyak membutuhkan perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan (stakeholders). Bagaimana kesiapan siswa belajar, bagaimana guru memahami secara komprehensif kurikulum dan mengimplementasikannya dalam ruang kelas, serta bagaimana dukungan masyarakat terhadap pembelajaran siswa di luar jam sekolah.
Sekolah bertaraf internasional (SBI), atau apapun varian namanya, seperti, Rintisan SBI, SNBI, sekolah berwawasan internasional, nasional plus, dan sebagainya, tak juga jauh dari hitung-hitungan bisnis. Di sekolah negeri, di setiap daerah, selalu ada sekolah-sekolah yang berlomba untuk menjadi penyelenggara. Ketika dana dari pemerintah belum cair, atau belum mencukupi untuk mengkover seluruh biaya penyelenggaraan, maka “memungut” tambahan biaya dari siswa menjadi boleh.
Lembaga pendidikan yang diselenggarakan swasta, malah ada yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Apa makna yang dapat dipetik dari sebuah PT, selain mencari keuntungan sebesar-besarnya? Sedangkan lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan pun sering mengalami kerancuan, antara yayasan sebagai lembaga sosial dengan lembaga pendidikan yang dinaunginya, yang mengejar keuntungan.
Memang bukan hal yang salah, dan tidak tabu membicarakan bisnis. Apalagi jika dilakukan oleh masyarakat (swasta) dan memiliki landasan yuridis formal. Tidak ada yang tidak mungkin.
Daftar Masalah
Salah satu daftar masalah adalah sekitar sekolah bertaraf internasional. Bagi sekolah negeri, pengembangan SBI didasari oleh Undang-undang  Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 50 Ayat 3. Dalam ketentuan ini, pemerintah didorong untuk mengembangkan satuan pendidikan yang bertaraf internasional. (SBI) merupakan sekolah nasional dengan standar mutu internasional. Proses belajar mengajar di sekolah ini menekankan pengembangan daya kreasi, inovasi, dan eksperimentasi untuk memacu ide-ide baru yang belum pernah ada. (www.id.wikipedia.org). Masih banyak lagi pertanyaan seputar SBI ini, terkait arah dan tujuan, pola implemetasi, dan sebagainya. Dalam bahasa kritik SBI diplesetkan menjadi “sekolah bertarif internasional”.
Permasalahan lain dalam pendidikan yang jarang terungkap adalah keterkaitan antara politik dan pendidikan. Pendidikan selama ini dianggap sebagai entitas suatu sektor yang menyerap anggaran terbesar, tetapi di sisi lain, keputusan-keputusan politik yang menjadi dasar pelaksanaan program pendidikan sering kali memicu kontroversi. Contohnya adalah UN tadi dan sertifikasi guru. Diakui memang tidak akan ada program yang sempurna, tetapi paling tidak meminimalisasi dampak buruk dan memaksimalkan pencapaian tujuan yang harus dikedepankan. Penetapan bola UN “bolak-balik” berpindah gawang antara pemerintah dan DPR. Demikian juga anggaran pendidikan minimum 20 %.
Gencarnya pendidikan membangun karakter bangsa, di satu sisi, tidak sebanding dengan program hiburan yang ditayangkan media televisi. Masyarakat menilai content yang tidak bermuatan pendidikan. Sudah banyak keluhan yang diungkapkan warga masyarakat, tetapi respons dunia hiburan tampaknya kurang memadai. Hal ini karena menyangkut wilayah otoritas yang berbeda antara pengelola pendidikan dengan pengelola media televisi.
Selain beberapa hal tersebut, dunia pendidikan menghadapi tantangan dan permasalahan di seputaran; kualitas guru dan tenaga kependidikan, pemerataan terhadap akses pendidikan, keterkaitan dunia pendidikan dengan praktek dunia kerja, membangun sikap mental wirausaha.
Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang merata pun masih mengundang kritik. Faktanya, persentase bangunan sekolah yang dalam kondisi rusak parah, masih sangat besar. Belum lagi dari sisi pemerataan lokasi sarana pendidikan, di mana warga di beberapa daerah terpencil masih kesulitan untuk mengakses pendidikan yang layak.

Perguruan Tinggi
Permasalahan pendidikan di perguruan tinggi sebenarnya paralel sekaligus “kelanjutan” permasalahan pendidikan di tingkat sekolah menengah. Pembangunan karakter ataupun pendidikan berbasis karakter di perguruan tinggi yang hangat dibicarakan dewasa ini sejujurnya adalah dampak lanjutan dari penyelenggaraan pendidikan jenjang sebelumnya. Perguruan tinggi pun dewasa ini berkutat dengan masalah penjaminan mutu, pengendalian proses, pemerataan akses, dan aspek moral masyarakat. Aspek moral yang dimnaksud di sini antara lain, gejala yang berkembang dalam masyarakat di mana mengikuti pendidikan di perguruan tinggi dengan motivasi “berburu gelar”, status sosial, atau hanya memenuhi persyaratan formal. Di sisi sebaliknya, para petualang penyedia jasa “gelar” juga berkeliaran mencari peminat. Fenomena itu terjadi dan menjadi pembicaraan di kalangan pendidikan.
Kasus plagiarisme di perguruan tinggi yang mencuat beberapa waktu lalu dapat dianggap sebagai salah satu fenomena puncak gunung es, di antara sekian banyak masalah lainnya.
Artikel ini tidak bermaksud mencari kambing hitam atau saling menyalahkan. Wacana dan hipotesis seekstrem apapun kiranya menjadi modal untuk mencari jawaban dan jalan keluar dari suatu permasalahan. Statemen sepedas apapun semoga membuka ruang dan upaya tukar pengalaman dan sumbang saran maupun penyegaran dan menjadi inspirasi. Niat baik dan kesempatan mengabdi kepada pendidikan dari banyak pihak harus memperoleh tempat yang selayaknya.
 Sangat menarik pilihan tema yang disajikan Redaksi Radar Lampung dalam rubrik opini beberapa hari belakangan ini. Dominasi pembahasan tentang pendidikan, memberikan “daya beda” terhadap media harian lainnya. Polemik tentang menyejahterakan guru, pemerataan pendidikan, mutu pendidikan, prasarana, dampak teknologi, imbas perubahan sosial, dan sebagainya, memang sudah sepantasnya mendapat perhatian media. Peran media sebagai fungsi kontrol sosial diimplementasikan dengan melakukan pemberitaan secara proporsional terhadap berbagai aspek dan dinamika sosial masyarakat. Dan ini telah dilakukan oleh Radar Lampung. (dwi_rohmadi@yahoo.com)

Senin, 22 Februari 2010

TUJUAN PENDIDIKAN

APA TUJUAN PENDIDIKAN?
Atas pertanyaan tersebut, jangan berikan jawaban yang normatif  "letterlijk". Karena, seperti biasa, norma di atas kertas hanyalah tulisan, jika tanpa implementasi, aktualisasi, dan internalisasi. Makna pendidikan sedemikian luasnya. Banyak ahli dan birokrasi telah memberikan pengertian tentang tujuan pendidikan. Secara sederhana pendidikan dimaksudkan sebagai "memanusiakan manusia". Pada masanya, definisi pendidikan pada Undang-undang yang berlaku, dianggap sudah cukup. Tapi seiring guliran waktu, ternyata definisi itu kemudian dianggap tidak memadai lagi. Maka dibuatlah definisi baru. Pendidikan dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai, norma, dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Pendidikan penting untuk meneruskan peradaban. Pendidikan bertujuan mengajarkan cara hidup bermasyarakat. Pendidikan dilaksanakan untuk menghindari terjadinya "generasi yang hilang". Masih banyak cara dan kata-kata lain untuk menggambarkan maksud, tujuan, dan manfaat pendidikan.
Pertanyaannya sekarang, siapa yang melaksanakan pendidikan? Sudahkah mereka benar-benar "siap"? Bagimana caranya menciptakan pelaku pelaksana pendidikan yang mumpuni? Bagaimana menjamin proses pendidikan itu dapat berlangsung secara benar, efektif, dan efisien, serta benar-benar mendidik dengan cara-cara yang logis, teoretis, aplikatif, dan fleksibel?
Memang kemudian kita dapat dengan mudah menimpakan semuanya pada "pemerintah" atau pada "kurikulum". Tapi tentu saja persoalan tidak selesai sampai disitu.

Selasa, 05 Januari 2010

PRODUKTIVITAS PENDIDIKAN

SOAL
1. Tuliskan dan jelaskan unsur-unsur yang terdapat dalam produktivitas pendidikan.
2. Bagaimana upaya anda dalam meningkatkan produktivitas pendidikan di sekolah Anda.

JAWABAN:
1. Unsur-unsur yang terdapat produktivitas pendidikan pada dasarnya tercakup dalam dua kelompok yaitu unsur-unsur masukan dan unsur-unsur keluaran. Dapat dijelaskan unsur-unsur produktivitas pendidikan antara lain adalah:
a. Guru atau pendidik yang berkualitas; guru yang berkualitas akan mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Dengan demikian mendukung efektivitas belajar
b. Siswa yang bermotivasi. Siswa yang bermotivasi belajar akan dengan mudah menerima materi pembelajaran.
c. Sarana pendidikan yang memadai, yaitu ketersediaan perangkat-perangkat pembelajaran
d. Perangkat peraturan yang sesuai. Peraturan maupun perundang-undangan hendaknya konsisten dengan situasi belajar sehingga mampu mendukung pencapaian hasil belajar.
e. Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan belajar. Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan si belajar akan membantu keefektifan belajar.
f. Pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kemampuan siswa yang terukur. Dari semua masukan dan proses belajar, hendaknya dilakukan penilaian terhadap si belajar.
2. Upaya yang dilakukan pada institusi pendidikan antara lain:
a. Peningkatan kualifikasi guru melalui berbagai pertemuan ilmiah, seminar, lokakarya, diskusi teman sejawat, dan kesempatan mengikuti pendidikan formal yang lebih tinggi.
b. Penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana belajar. Setiap saat dilakukan peninjauan terhadap sarana dan prasarana belajar agar benar-benar mampu menunjang pembelajaran.
c. Peningkatan frekuensi dan kualitas akses sumber
d. Penyesuaian atau peninjauan kurikulum secara berkala
e. Monitoring/kontrol proses pendidikan, terutama terhadap sumber daya manusia
f. Pelaksanaan evaluasi belajar yang ketat, disiling, dan administrasi yang baik.
g. Menyerap aspirasi stakeholder menyangkut semua proses dan fasilitas yang sudah tersedia guna perbaikan.

Senin, 04 Januari 2010

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL (HAR. TILAAR)

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL
(Book Review)
Penulis: HAR Tilaar
Penerbit: Rineka Cipta, Jakarta, 2004

TUGAS KELOMPOK IV

SURANTO
TRIYATMO
DWI ROHMADI M.
ANASTASIA
R. GINTING SUKA
RINALDI JUFRI

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2009


KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI MASA LALU
Isu-isu utama dalam paradigma baru pendidikan nasional dapat dirangkum dalam pengertian demokratisasi pendidikan. Demokratisi pendidikan, dengan demikian mencakup berbagai aspek antara lain desentralisasi, perencanaan dan manajemen pendidikan, pengembangan pendidikan tinggi, partisipasi masyarakat, dan sebagainya.
Buku “Paradigma Baru Pendidikan Nasional” karangan HAR Tilaar membahas aspek-aspek dalam demokratisasi pendidikan. Di masa lalu, terutama pada Pra Orde Baru, pendidikan sering dijadikan alat indoktrinasi dan sangat kental dengan kepentingan politik. Pendidikan tidak diorientasikan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Nasionalisme menjadi terperangkap dalam makna yang sempit. Praktek pendidikan yang indoktriner menolak segala unsur budaya yang datangnya dari luar. Metodologi pendidikan dengan cara indoktriner memasuki semua jenjang pendidikan.
Pada masa Orde Baru, pendidikan dijadikan sebagai alat penyeragaman-penyeragaman di bidang politik. Hasilnya adalah uniformitas atau keseragaman dalam pola berpikir dan bertindak. Contoh kongkret model pendidikan seperti ini adalah pakaian seragam dan wadah-wadah tunggal organisasi. Masyarakat dengan sendirinya bersifat homogen, lamban, kurang kreatif dan produktif, dan birokrasi kaku.
Singkatnya, pendidikan semacam ini mematikan demokrasi. Hak asasi manusia sering terlanggar demi alasan stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Komunikasi politik terhambat karena dominasi suara penguasa. Akibat pendidikan yang mematikan demokrasi seperti ini adalah pemerintahan yang tidak bersih, syarat KKN. Kualitas kehidupan beragama menjadi semu. Moralitas pemimpin merosot, dan toleransi kehidupan beragama luntur. Praktek pendidikan pada masa Orde Baru menonjolkan pencapaian target kuantitatif. Akuntabilitas pendidikan sangat rendah, karena hanya ditentukan oleh penguasa. Pendidikan hanya dipandang sebagai produk birokrasi, dan peranan keluarga serta masyarakat semakin berkurang.
Sejarah panjang pendidikan pada masa Pra Orde Baru dan masa Orde Baru, telah mengantarkan masyarakat Indonesia mengalami krisis, yang bertalian juga dengan krisis ekonomi dan politik pada akhir tahun 1990-an. Masa krisis itulah yang dapat dipandang sebagai refleksi atas kegagalan pendidikan nasional. Para pemimpin dan pemerintah kehilangan kepercayaan dari masyarakatnya.



PENDIDIKAN NASIONAL DI ERA REFORMASI
Bertolak dari pengalaman praktek pendidikan di masa sebelmunya, maka di era reformasi praktek pendidikan mengalami perubahan paradigma. Masyarakat yang ingin diciptakan adalah masyarakat yang adil, makmur, dan tegaknya supremasi hukum. Itulah yang disebut masyarakat madani, suatu bentuk ideal masyarakat yang demokratis. Masyarakat madani dicirikan oleh beberapa hal; antara lain adalah masyarakat yang demokratis, tegaknya hukum, tatanan sosial yang memberikan kesempatan berkembang bagi individu dan lembaga-lembaga sosial yang membuka dari untuk partisipasi dari masyarakat dan mengembangkan potensi anggotanya. Kehidupan bersama dalam masyarakat demokratis adalah kehidupan antar-generasi yang berkesinambungan. Lembaga-lembaga sosial memungkinkan terjadinya keberlanjutan itu, misalnya dalam hal lingkungan hidup, kebudayaan, masalah kependudukan, dan kerukunan hidup antar-bangsa.
Pendidikan pada era ini ditandai dengan keinginan yang sangat kuat untuk mewujudkan masyarakat madani. Suatu masyarakat madani yang bertumpu pada kebudyaaan Indonesia, berproses berkelanjutan, dan bertumpu pada kebhinekaan. Ciri-ciri masyarakat madani tersebut harus dijabarkan pula dalam praktek pendidikan.
Praktek pendidikan nasional yang pada kenyataannya dapat digolongkan dalam tiga lingkungan, yaitu; pendidikan formal, pendidikan non-formal, dan pendidikan informal. Pendidikan nasional sudah seharusnya mengintegrasikan ketiga lingkungan pendidikan tersebut dalam rangka mengantisipasi perkembangan global.
Dewasa ini pendidikan in-formal, justru menempati peranan yang semakin strategis. Pendidikan telah mengglobal menembus batas-batas geografis. Budaya cyber, mengharuskan pula proses pendidikan yang memanfaatkan keunggulan-keunggulan cyber. Penulis buku ini mengajukan tesis untuk meninjau ulang rumusan sistem pendidikan dalam UU pendidikan, yang kurang memberikan pengakuan para peranan pendidikan informal.
Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia baru, maka pendidikan menghadari beberapa tantangan, yang dapat dikelompokkan dalam tantangan yang bersifat internal, maupun eksternal. Tantangan yang bersifat internal antara lain adalah yang menyangkut isu-isu;
- persatuan bangsa; kebanggaan menjadi bangsa Indonesia, bangga dengan kebudayaan Indonesua, dan adanya keteladanan dari para pemimpin
- demokratisasi; adalah bagaimana menghargai hak dan potensi setiap individu dan mengembangkannya; menghargai harkat dan martabat manusia.
- desentralisasi; pendidikan yang memberdayakan masyarakat lokal dengan penggunaan sumber-sumber daya setempat, kurikulum nasional hanya sebagai guideline.
- kualitas pendidikan; perlunya mengembangkan seluruh spektrum inteligensi manusia yang meliputi berbagai aspek kebudayaan, kunci utama peningkatan kualitas adalah para guru sehingga perlu reformasi mendasar pendidikan guru dan penghargaan yang semestinya terhadap profesi guru.
Sedangkan tantangan yang bersifat global meliputi beberapa isu antara lain;
- pendidikan yang kompetitif dan inovatif; persaingan membutuhkan manusia-manusia yang berkualitas, yang untuk itu dihasilkan oleh pendidikan yang kondusif pula. Pribadi kompetitif bukan pribadi egoistik, tapi berkemampuan bekerjasama secara sehat. Selanjutnya adalah kemampuan menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan inovatif. Kompetitif dan inovatif menjadi paradigma baru pendidikan di berbagai negara di dunia. Pendidikan di Asia paling dikenal sebagai pendidikan yang tidak mengembangkan sikap kompetitif dan inovatif.
- identitas lokal; globalisasi merupakan sesuatu yang niscaya terjadi, sehingga diperlukan identitas bangsa, yaitu kebhinekaan budaya Indonesia itu sendiri. Kesadaran akan identitas budaya nasional menjadi landasan perkembangan pribadi peserta didik sekaligus melindungi dari pengaruh-pengaruh negatif dari kebudayaan global. Dalam keadaan tanpa identitas, maka akan sangat mudah dihanyutkan oleh arus globalisasi yang menjurus pada tindakan destruktif. Pendidikan nasional diarahkan pada perdamaian dunia. Reformasi pendidikan memerlukan komitmen politik kongkret dan berkelanjutan.


REPOSISI DAN REAKTUALISASI PENDIDIKAN NASIONAL

Paradigma baru pendidikan nasional yaitu membentuk masyarakat demokratis, kompetitif dan inovatif, dan berkualitas. Untuk itu pendidikan mengembangkan kebhinekaan menuju terciptanya masyarakat yang bersatu dan bangga sebagai bangsa Indonesia. Program pendidikan harus dijabarkan dalam berbagai program pengembangan pendidikan nasional secara bertahap dan berkelanjutan.
- Redefinisi pendidikan nasional mencakup pengakuan akan pentingnya pendidikan informal.
- Pendidikan adalah proses pemberdayaan
- Pendidikan adalah proses pembudayaan
Reaktualisasi pendidikan nasional menuntut penerapan prinsip-prinsip:
- Partisipasi masyarakat; otonomi lembaga pendidikan dan fungsionalisasi kurikulum nasional yang tepat
- Sumber daya manusia yang profesional
- Sarana dan sumber daya pendidikan penunjang yang memadai
- Aktualisasi sistem pendidikan yang sesuai dengan jiwa desentralisasi.
Penulis buku ini mengungkapkan bahwa pembangunan di era Orde Baru adalah pembangunan tanpa perasaan. Pencapaian pembangunan di bidang ekonomi hanya dinikmati oleh sekelompok kecil anggota masyarakat. Perkembangan ekonomi dicapai melalui program-program yang menjadikan manusia sebagai alat untuk target-target ekonomi dan menyuburkan kekuasaan.

Mengutip pendapat para ahli (Hikam, 1996) buku ini menguraikan ciri-ciri masyarakat madani Indonesia (civil society) antara lain:
- Kesukarelaan; komitmen mewujudkan cita-cita bersama
- Keswasembadaan; tidak tergantung pada negara lain, percaya diri dan bertanggungjawab
- Kemandirian masyarakat yang tinggi terhadap negara
- Kepatuhan terhadap nilai-nilai hukum yang dipatuhi bersama

Realitas kehidupan masyarakat Indonesia kini adalah sangat beragam. Keragaman budaya ini menjadi potensi lahirnya sukuisme dan pandangan-pandangan sempit yang dapat membahayakan kesatuan bangsa. Meskipun demikian kehidupan nyata bukanlah mengasingkan individu dari lingkungan budayanya. Jadi identitas sebagai bangsa Indonesia harus menjadi kesadaran bersama dan kebanggaan bersama.

Budaya KKN di era yang lalu telah melahirkan kekuasaan yang sentralistik. Jika budaya KKN yang negatif ini berlanjut maka akan terjadi krisis sosial, ekonomi, dan politik. Terjadi proses pemiskinan pada sekelompok besar masyarakat. Sebaliknya terjadi proses pengkayaan terhadap sebagian kecil kelompok masyarakat. Di bidang hukum, di era Orde Baru, tidak berlaku bagi penguasa. Supremasi hukum tidak dapat ditegakkan. Masyarakat madani Indonesia yang diharapkan adalah masyarakat yang memiliki kontrol terhadap kekuasaan.

Pendidikan dan Politik
Berbicara tentang pendidikan dan politik, pendidikan bukan dijadikan sebagai alat politik, sebagaimana terjadi di masa lalu (Orba). Pendidikan tidak terlepas dari politik, dalam arti bahwa ia membutuhkan komitmen politik dari semua elemen bangsa, dan sesungguhnya politik itu sendiri merupakan pendidikan. Menurut Aristoteles, tidak mungkin membicarakan pendidikan terlepas dari konsep kehidupan yang baik (good life)(yaitu politik). Di sini setiap individu memiliki persepsi sendiri tentang apa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik. Dengan demikian setiap orang akan memiliki konsep masing-masing tentang pendidikan, yang kemudian berarti pula bahwa pendidikan terletak dalam tatanan politik.

Reposisi Perguruan Tinggi
Dalam buku ini yang membahas mengenai Reposisi Perguruan Tinggi disebutkan pula mengenai “kegilaan” terhadap penggunaan gelar akademik yang tidak pada tempatnya. Penulis buku ini mengungkapkan perlunya kalangan kampus untuk mengedepankan kapasitas dan produktivitas atas predikat dari gelar-gelar akademik. Dengan demikian secara alamiah masyarakat umum nantinya akan menilai gelar akademik sesuai dengan kreativitas dan karya yang diberikan dari orang yang menyandang gelar tersebut.
Kegemaran memburu gelar dipandang dari sisi positif sebagai usaha warga masyarakat untuk mencari pengetahuan dan keinginan untuk maju. Tinggal bagaimana pemerintah membina dan mengembangkan lembaga/perguruan tinggi yang ada, terutama yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Demikian pula mengenai penilaian kualitas suatu perguruan tinggi, disarankan agar penilaian diserahkan atau melibatkan masyarakat dan bukan monopoli dari birokrasi. BAN-PT dianggap memonopoli keabsahan kualitas suatu perguruan tinggi (prodi?). Seharusnya, justru partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi dihargai sebagai bentuk sumbangsih anggota masyarakat terhadap pendidikan.
Poin-poin penting yang patut digarisbawahi dari pembahasan isi buku “Paradigma Baru Pendidikan Nasional” ini antara lain:
- paradigma lama pendidikan dipandang tidak sesuai lagi dan harus digantikan dengan paradigma baru pendidikan yang:
- mengedepankan demokratisasi,
- partisipasi dari semua elemen,
- bersifat antisipatif,
- menghargai kebhinekaan,
- perencanaan yang baik,
- pelaksanaan manajemen yang efektif.
Prinsip-prinsip dasar dalam aktualisasi pendidikan nasional dengan paradigma baru adalah:
- Partisipasi masyarakat dalam mengelola pendidikan (community based education)
- Demokratisasi proses pendidikan
- Sumber daya pendidikan yang profesional
- Sumber daya penunjang yang memadai

KESIMPULAN
 Reformasi pendidikan untuk menghindari terjadinya “lost generation”
 Desentralisasi di bidang pendidikan, sesuai tuntutan Otonomi Daerah harus dipersiapkan dengan baik, agar peserta didik tidak menjadi korban ketiadaan visi dan kelemahan kebijakan yg tergesa-gesa.
 Implementasinya perlu disusun program yang komprehensif, bertahap, dan berkelanjutan
 Perlu dimobilisasi para pemikir lintas ilmu, pemimpin masyarakat dan lembaga negara untuk merumuskan falsafah pendidikan nasional



PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL
(Book Review)
Penulis: HAR Tilaar
Penerbit: Rineka Cipta, Jakarta, 2004

Buku ini membahas beberapa topik, yaitu:
1. Mencari paradigma baru pendidikan nasional
- Refleksi masa lalu dan tantangan masa depan
- Masyarakat Indonesia baru: Peran pendidikan nasional
- Reposisi dan reaktualisasi pendidikan nasional
2. Paradigma baru pendidikan nasional
- Paradigma baru pendidikan nasional
- Desentralisasi pendidikan nasional dalam rangka pelaksanaan UURI No 22 dan UU RI No 25 tahun 1999
- Paradigma baru perencanaan dan manajemen pendidikan nasional di daerah
3. Reposisi pendidikan tinggi
- Pengembangan pendidikan tinggi; suatu refleksi
- Masalah perolehan dan penggunaan gelar akademik dalam masyarakat
- Pengembangan profesionalisme dalam era globalisasi
4. Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan
- Visi, misi, dan kompetensi manajer pendidikan Islam menghadapi tantangan
- Reposisi dan reaktualisasi pendidikan madrasah dalam membangun masyarakat Indonesia baru; implikasinya dalam restrukturisasi kurikulum madrasah
- Partisipasi pendidikan Kristen dalam membangun masyarakat Indonesia baru
5. Pendidikan nasional dan kebudayaan
- Makna tradisi lisan dalam pendidikan
- Peningkatan apresiasi budaya dalam proses pendidikan

Jumat, 27 November 2009

RUTINITAS DAN CITRA GURU

Rutinitas dan Citra Guru
Kado untuk Guru di Hari Guru (25 November)

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Radar Lampung edisi Rabu, 25 November 2009)

Oleh Dwi Rohmadi Mustofa
Mahasiswa Pascasarjana Teknologi Pendidikan Universitas Lampung

Tanggal 25 November, setiap tahun diperingati sebagai Hari Guru. Artinya, setiap tanggal itu sangat patut dijadikan momentum untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan sekaligus merancang apa yang akan dikerjakan di tahun depan. Merefleksikan kerja-kerja di masa lalu, bagi sebagian guru, bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi bila mereka telah terjebak pada rutinitas, dan terpasung pada model pengajaran (pembelajaran) yang kaku, sebagaimana diyakini oleh sebagian guru. Paradigma, kebijakan, dan tatanan tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang memberikan otonomi kepada guru tentang pembelajaran, sering menemui jalan buntu. Padahal kegiatan sosialisasi, pelatihan, penerbitan dan sebagainya tentang KTSP tak kurang banyaknya. Itulah repotnya mengubah kebiasaan cara kerja yang telah menjadi rutinitas. Doni Koesoema (2009:39) mengupas tentang jebakan rutinitas yang dialami guru. Keteraturan, irama, dan jadwal merupakan istilah yang menyertai dinamika kehidupan guru. Tanpa ada keteraturan dan rutinitas guru tidak dapat bekerja dan malahan akan kehilangan orientasi. Situasi ini membuat guru terjebak pada rutinitas yang memandulkan kreativitas dan inovasi dalam kinerja mereka.
Buku Doni Koesoema yang berjudul Pendidik Karakter di Zaman Keblinger (Jakarta: Grasindo) ini dalam suatu resensi yang dimuat Kompas, diberi judul yang provokatif: Radikalisasi Peran Guru. Mudah dipahami bahwa peresensi berharap membumikan gagasan buku agar benar-benar lebih dapat memperoleh tempat di hati seluruh masyarakat. Buku ini sangat inspiratif dan menggugah kesadaran kembali akan esensi guru dan pendidikan pada umumnya.
Momentum Hari Guru sangat pantas bila kita mengungkap kronik kehidupan profesi pendidikan ini. Maksudnya adalah untuk membangkitkan atensi dan apresiasi terhadap profesi yang sangat strategis bagi kehidupan masa depan bangsa ini.
Salah satu point of view yang pantas kita angkat ke permukaan adalah kebutuhan-kebutuhan pendidikan. Tuntutan terhadap guru sedemikian besarnya. Tuntutan profesi semakin besar. Kebutuhan siswa juga berkembang. Istilah lainnya, standar kompetensi semakin hari juga semakin meningkat. Pada setiap situasi, guru hendaknya memberikan perhatian kepada siswa yang lambat, menemui kesulitan, menghargai pendapat dan perasaan orang lain (empati).
Guru dan atau lembaga pendidikan jarang menyediakan wadah bagi aktualisasi diri warganya. Guru berkutat dengan rutinitasnya. Bahkan tak jarang tak ada waktu untuk sekadar meningkatkan pengetahuannya. Tapi memang tidak bisa serta merta kita katakan sepenuhnya waktu guru dihabiskan untuk pekerjaan. Guru juga harus mawas diri, apakah benar-benar memanfaatkan waktunya untuk kegiatan yang positif, mendukung profesinya, memberikan sumbangan berharga terhadap proses transformasi diri ke arah yang lebih baik.
Mereka harus mampu memberikan sumbangan, yang berharga bagi siswanya. Ini berarti akan membantu bangsa ini di masa depan menciptakan kondisi yang lebih baik.
Di tengah situasi penyediaan sarana pendidikan yang mengalami ketimpangan, guru tetap harus menunjukkan kinerjanya yang paling optimal. Sebenarnya ini juga berlaku bagi profesi lainnya. Beberapa hari menjelang hari guru, potret penyediaan sarana pembelajaran berupa gedung sekolah seperti mendapat tamparan keras. Seperti ditulis media, di Tulangbawang dan Lampung Barat dilaporkan gedung sekolah ambruk, dan di Waykanan, selesai dibangun SMA rusak. Pada saat yang hampir bersamaan di beberapa daerah lainnya demikian pula, di beberapa kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah seperti diberitakan di televisi. Memang pada setiap kejadian ada pemicunya, seperti angin puting beliung, atau hujan deras yang tidak biasa. Tapi setelah ditelisik lebih jauh, ternyata umur bangunan belum begitu lama, dan ditegaskan bahwa robohnya bangunan sekolah sebagai akibat kualitas bangunan yang rendah.
Sebenarnya, untuk sekadar mengatakan kualitas bangunan jelek karena dibangun asal-asalan, tidak ada yang berani, kecuali hasil investigasi wartawan dan kemudian diberitakan. Hal ini hanyalah salah satu contoh kecil, di antara sekian banyak dimensi-dimensi pendidikan yang memerlukan perhatian khusus, selain dimensi profesi guru. Aspek mutu sarana pendidikan, seperti contoh kasus tersebut, jika diyakini sebagai fenomena gunung es, maka sebenarnya itu hanyalah merupakan permukaannya saja yang kebetulan mencuat. Masih banyak potensi laten yang tersimpan.
Diskursus dan polemik tentang program sertifikasi guru hingga kini juga tak ada berhentinya. Suatu hasil survei terhadap guru yang telah bersertifikasi profesional, menyebutkan hanya 34 % kinerjanya meningkat. Selebihnya bagaimana? Menyikapi hasil survei ini tak perlu pula kita kebakaran jenggot. Pejabat birokrasi hendaknya menjadikan setiap hasil survei sebagai bagian upaya-upaya perbaikan. Terlebih lagi survei dilakukan oleh institusi resmi dan dilaksanakan dengan metodologi yang ketat. Guru pun yang telah memperoleh sertikat profesional hendaknya mampu menunjukkan kinerja yang meningkatkat, mengungkapkan orientasi dan motif mengikuti sertifikasi sebagai bagian dari upaya perbaikan diri, selain pengakuan semata-mata, apalagi orientasi finansial. Mari kita tengok kembali mekanisme dan prosedur yang telah dijalani dalam rangka program sertifikasi itu. Harian Kompas edisi 13 November 2009 melaporkan di bawah judul besar: Sertifikasi Guru Tidak Tepat Sasaran; Motivasi Guru Lebih pada Aspek Finansial. Intinya adalah program pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru dan sekaligus kesejahteraannya, tidak tercapai sesuai targetnya. Padahal, kompetensi merupakan bagian yang melekat pada profesi. Pertanyaannya, bagaiman dikatakan berkualitas apabila kompetensinya masih diragukan? Persoalannya bukan menyangkut satu dua orang, tetapi ini mencakup sekitar 2,7 juta guru. Sedangkan mereka yang telah mengikuti sertifikasi sekitar 500 ribu guru.
Dalam melakoni profesinya, guru tidak sendirian mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Peran, tugas, fungsi, dan tanggung jawab guru berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti birokrasi di bidang pendidikan. Oleh karena itu tidak fair rasanya apabila sorotan miring terhadap pendidikan, porsi terbesar dipikulkan ke pundak guru. Sebuah pembahasan panjang dilakukan oleh ST Kartono (Sekolah Bukan Pasar; Catatan Otokritik Seorang Guru, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009). Buku ini menyajikan fakta-fakta betapa sulitnya posisi guru berhadapan dengan birokrasi, dilema-dilema yang dihadapi guru, dikotomi perlakuan terhadap sekolah negeri dan swasta, ketimpangan sarana dan prasarana, keterjebakan guru pada kebijakan, dan sebagainya.
Apabila merujuk pernyataan Prof. HAR Tilaar, kunci dari permasalahan pendidikan di Indonesia adalah dalam manajemen. Sekolah rusak, karena manajemen buruk. Ketimpangan dalam kualitas pendidikan antar-wilayah, karena manajemen distribusi guru yang tidak akurat, dan sebagainya. Substansinya, buruknya perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi atas penyelenggaraan pendidikan, berakibat pada wajah dunia pendidikan dewasa ini. Dalam hal ini, salahkah guru?
Ungkapan-ungkapan di sini sama sekali bukan dimaksudkan untuk mencari kambing hitam, tetapi semata-mata untuk menjadi bahan renungan dan referensi guna perbaikan ke depan. Ini juga sekaligus memaknai Hari Guru agar tidak lagi menjadi rutinitas. Sebab, bila menjadi rutinitas, nantinya tidak akan ada artinya lagi, dan dianggap angin lalu. Oleh karena itu sepantasnya apabila semua pihak memberikan perhatian kepada profesi guru, dengan caranya masing-masing, dalam rangka mengangkat harkat dan martabat guru. Memberikan pengakuan, penghargaan, dan sumbang saran terhadap pendidikan merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada profesi guru.
Membangkitkan optimisme terhadap usaha-usaha perbaikan yang tengah dilakukan di dunia pendidikan, juga merupakan bagian dari pengakuan terhadap profesi guru.
Media massa harus kita akui memiliki peran penting dalam rangka membangun citra guru yang semestinya. Fungsi media sebagai wahana kritisisme tidak juga mengurangi ruang bagi penyampaian informasi tentang sosok guru yang mencapai kemajuan. Profil guru yang maju, berprestasi, berperan tulus mendidik siswa sepantasnya senantiasa diangkat ke panggung publik agar menjadi teladan bagi lebih banyak orang sekaligus meluruskan persepsi yang melenceng tentang profesi guru.
Mengubah persepsi yang telah melekat di benak orang memang bukan pekerjaan mudah. Tetapi apabila diberikan ruang yang cukup untuk menyampaikan informasi yang lebih komprehensif diharapkan citra positif profesi guru kian tersebar luas. Selamat Hari Guru. (dwi_rohmadi@yahoo.com)

Jumat, 20 November 2009

HIPOTESIS MONOPOLI KEBENARAN

MONOPOLI KEBENARAN

Seorang teman yang telah agak senior, dengan bangga mengatakan bahwa jika Anda menjadi pegawai, maka harus menerapkan prinsip:
Anda boleh pintar, tapi jangan minteri
Anda boleh bergerak cepat, tapi jangan mendahului (atasannya)
Anda boleh tajam (kritis), tapi jangan melukai.
Apa yang dikatakan teman tadi, bisa sangat benar pada saat dan kondisi yang tepat. Tapi menurut saya, bisa salah besar jika dikaitkan dengan tendensi orang yang mengatakan, apalagi jika ia dalam posisi “atasan”.
Diam-diam saya menaruh curiga. Jangan-jangan maksud teman tadi adalah ingin mengatakan: “Saya bos, jadi kalian jangan sekali-kali melawan”.
Secara panjang lebar kemudian teman saya tersebut mengungkapkan segala pengalamannya tentang gerakan “catut sana – catut sini”. Wah, luar biasa. Selain curiga, saya juga mencoba menganalisis: apa sebenarnya yang dia maksud? Mengapa dia mengatakan begitu? Bagaimana dia bisa mengatakannya?
Ada beberapa hiptesis yang kemudian saya ajukan.
Pertama, dia bermaksud mengatakan, “saya ini hebat khan?”.
Kedua, “dia mengatakan begitu karena selama ini kurang mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Jadi, dia mencari perhatian alias ‘caper’.
Ketiga, “dia bisa mengatakan begitu karena ambisi yang tak terkendali tanpa dibarengi dengan kompetensi dan integritas”.
Secara makro jika kemudian saya generalisasikan pada sektor pegawai negeri, maka saya berkesimpulan bahwa di lingkungan birokrasi memang telah berkembang sikap (untuk tidak mengatakan budaya) minta dilayani bukan melayani.
Sampai tahap ini saya bermenung, betapa gawatnya bila “virus” ini menghinggapi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yang paling merisaukan apabila kemudian terjadi monopoli kebenaran atau penjajahan gaya baru.
Bagi saya, pernyataan seperti tersebut tepat pada situasi tertentu. Tapi secara umum, bila tidak melakukan analisis dan menelan mentah-mentah, bisa menyesatkan. Terkadang ada orang yang dikaruniai kelebihan dibanding orang lain, sehingga karunia itu hendaknya dimanfaatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan ummat. Tentu saja tidak boleh dibatasi oleh sikap seperti apa yang tersurat dalam pernyataan itu.
Barangkali ada argumentasi lain yang ingin diajukan terkait statemen tersebut(?).

Jumat, 13 November 2009

JADWAL ACARA SEMINAR NASIONAL IPTPI

JADWAL ACARA SEMINAR NASIONAL IPTPI
JAKARTA, 18 – 20 November 2009

Hari 1, 18 November 2009
Waktu KEGIATAN KETERANGAN
08:00 – 09:00
09:00 – 10:00 Registrasi
Pembukaan
Oleh : Bapak Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh
Menteri Pendidikan Nasional RI

To be confirmed
10.00 – 10.15 Cofee Break
10:15 – 12:00 Sessi I:
Tema : Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik

Keynote Speach 1:
Prof. dr. Fasli Jalal.Ph.D. ( Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi,
Departemen Pendidikan Nasional)
Barnabas Suebu, SH (Gubernur Papua)
Panel 1:
1. dari IPTPI Cabang Malang
2. dari IPTPI Cabang Padang
3. dari IPTPI Cabang Makassar
Moderator :
Prof. Dr. Atwi Suparman

Confirmed

Confirmed

12.00 – 13:00 ISHOMA
13.00 – 15.00 Sessi II:
Tema : Profesi Guru dan Pendidikan Guru

Keynote Speech 2:
Prof. Dr. Conny R. Semiawan (Guru Besar Emiritus UNJ)

Panel 2:
1. Ketua Umum PGRI
2. dari IPTPI Cabang Jogjakarta
3. dari IPTPI Cabang Surabaya
Moderator :
Dr. Yuliani Nurani, M.Pd

Confirmed

Confirmed
15:00 – 15:30 Break
15:30 – 17:00 Sessi III:
Tema : Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam
Pendidikan

Keynote Speech 3:
Prof. Ir. Tian Belawati, Ph.D. (Rektor UT)/Drs. M. Gorky Sembiring M.Sc. (Pembantu Rektor IV UT)

Panel 3
1. Dr. H. Lilik Gani, HA, M.Sc (Direktur PUSTEKKOM)
2. Tahir Abdullah (Direktur Edukasi Toshiba)
Moderator :
Drs. Rusmono, M.Pd


Confirmed

Hari 2, 19 November 2009
Waktu KEGIATAN KETERANGAN
08:30 – 10:00

Sessi IV
Tema : Sumber Belajar dan Pembelajaran Untuk Peningkatan
Mutu Pendidikan

Keynote Speech 4:
Prof. Dr. H. Baedhowi (Direktur Jenderal PMPTK)

Panel 4
1. Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjanto (Direktur SEAMOLEC)
2. dari IPTPI Cabang Solo
3. dari IPTPI Cabang Lampung
Moderator :
Prof. Dr. Diana Nomida

Confirmed


10.00 – 10.15 Cofee Break
10:15 – 12:00 Sessi V:
Tema : Paradigma Pembelajaran Menjawab Tantangan Zaman

Keynote Speech 5:
Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc (Tokoh TP Indonesia)

Panel 5:
1. Prof. Dr. Soedijarto ( Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan
Indonesia)
2. dari IPTPI Cabang Palembang
3. dari IPTPI Cabang Jakarta
Moderator
Dewi Salma P, M.Sc.

Confirmed


Confirmed

Confirmed
12.00 – 13:00 ISHOMA
13.00 – 15.00 Sessi VI:
Tema : Strategi Pembelajaran yang Inovatif Untuk Peningkatan
Mutu Pendidikan

Keynote Speech 6:
Prof. Dr. Atwi Suparman, M.Sc. (Ketua Umum IPTPI)

Panel 6:
1. Prof. Dr. Udin S. Saripudin W. (Guru Besar UT)
2. dari IPTPI Cabang Gorontalo
3. dari IPTPI Cabang Bandung
Moderator
Dr. Sofia Hartati, M.Si


Confirmed


Confirmed
15:00 – 15:30 Break
15:30 – 17:00 Sessi VII:
Tema: Inovasi dalam Pendidikan Tinggi

Keynote Speach 7:
Prof Dr Bedjo Sujanto, M.Pd. (Rektor UNJ)/Prof. Dr. Zainal R (Pembantu Rektor I Universitas Negeri Jakarta)

Panel 7:
1. Prof. Dr. Geraldus Pola (Rektor Universitas Bina Nusantara)
2. dari IPTPI Cabang Medan
3. dari Kalimantan Selatan
Moderator
Prof. Dr. Asmaniar Idris

Confirmed
Hari 3, 20 November 2009
07.30 – 08.00 Kumpul di Depdiknas
09.00 – 14:00
Sessi VIII
Tema : Workshop Tentang Pengalaman Terpetik (Best Practices) dalam Penerapan Teknologi Pendidikan

Group I : Kunjungan ke PUSTEKKOM
Group II : Kunjungan ke SEAMOLEC
Group III : Kunjungan ke UT
Group IV : Kunjungan ke Sekolah unggulan
14:00 - Penutupan di tempat kunjungan dan penyerahan sertifikat Seminar dan Sertifikat Workshop

TAUFIK ISMAIL - KUPU-KUPU DI DALAM BUKU

Kupu-kupu di dalam Buku

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.

Taufiq Ismail, 1996

Minggu, 25 Oktober 2009

PERTANYAANKU TENTANG BELAJAR

Beberapa pertanyaan yang mengganjal di pikiranku:
1. Adakah cara yang signifikan untuk mengubah sikap manusia yang tampak didominasi mental birokratis? Bukankah telah banyak hasil penelitian tentang sikap dan perilaku manusia?
2. Bagaimana cara efektif mendobrak stagnansi mental block yang menghinggapi seseorang? Berdasarkan pengamatan saya, pelatihan-pelatihan motivasi yang dilakukan, hanya mampu mengubah sedikit mental block, dan cenderung tidak permanen.
3. Apakah pernah dilakukan penelitian atau servey tentang tingkat pengetahuan, pemahaman, dan penerapan konsepsi teori belajar oleh para guru di sekolah? Jika ada, bagaimana hasilnya?
4. Apakah ada kriteria khusus, terutama yang terkait langsung dengan pendidikan dan pembelajaran, untuk seseorang yang akan menjadi pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan?
5. Pernahkah Anda membayangkan menjadi seorang kepala Dinas Pendidikan? Jika pernah, bagaimana perasaan Anda ketika melihat sarana sekolah yang jauh dari memadai, misalnya, atap bocor, plafond jebol, atau toilet kumuh? Dan pernahkah Anda mengandaikan diri sebagai guru, sebagai siswa, atau sebagai wali murid?
JIKA ANDA MEMILIKI KESAMAAN PENDAPAT DENGAN SAYA TENTANG PERTANYAAN-PERTANYAAN DI ATAS DAN MEMILIKI JAWABAN (SELURUHNYA ATAU SEBAGIAN) SUDILAH KIRANYA MEMBERIKAN KOMENTAR/JAWABAN. TERIMA KASIH.

Selasa, 20 Oktober 2009

FAKTOR-FAKTOR DOMINAN YANG TERKAIT DENGAN KEPUASAN PENGGUNA PERPUSTAKAAN

KERANGKA DASAR PENELITIAN
BAB I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Perpustakaan dewasa ini telah berkembang pesat, dan mencapai tahap modern. Jika dulu perpustakaan didefinisikan sebagai kumpulan buku dalam sebuah gedung, maka definisi itu sekarang telah mengalami pergeseran. Definisi perpustakaan sekarang merujuk pada pengertian sekumpulan informasi yang dikelola secara sistematis oleh pengelola yang profesional dan melayani penggunanya dengan baik. Perpustakaan dengan demikian menjadi pusat pengelolaan informasi, penyebaran informasi, sumber belajar dan penunjang pembelajaran.
Secara fisik perpustakaan juga semakin mengalami pergeseran dari sekumpulan buku dalam suatu ruangan atau gedung, kini perpustakaan lebih menekankan pada pengelolaan informasi secara elektronik/digital. Oleh karena itu data atau informasi yang ada di perpustakaan tidak selalu menunjukkan ada pada satu tempat. Data atau informasi yang dapat diperoleh dari perpustakaan bisa saja berasal dari luar ruang/gedung perpustakaan itu sendiri.
Singkatnya perpustakaan dewasa ini dikelola berdasarkan suatu sistem yang memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi. Penerapan teknologi pada perpustakaan membawa dampak antara lain (Priyanto, 2009) pada gedung, koleksi perpustakaan, dan pustakawan.
Saat ini berkembang pandangan bahwa perpustakaan merupakan intelegent building dalam artian bahwa perpustakaan merupakan bangunan yang efisien dalam penggunaan, maksimal dalam pemanfaatan, dan efektif dalam pelayanan.
Penelusuran informasi sekarang menggunakan mesin pencari (search engine). Pada perpustakaan tertentu, telah digunakan aplikasi (software) khusus, yang dinilai sesuai dengan kebutuhannya.
Perpustakaan dipandang sebagai bidang layanan atau service. Oleh karena itu pelayanan menjadi tolok ukur keberhasilan tugas perpustakaan. Pelayanan yang baik secara teoretik menunjukkan kinerja perpustakaan yang baik pula.
Perpustakaan sekolah atau perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penting dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. Perpustakaan kini dipandang bukan hanya sebagai penunjang, tetapi merupakan faktor utama keberhasilan proses pendidikan. Perpustakaan perguruan tinggi diharapkan mampu menyediakan data atau informasi yang dibutuhkan oleh warga kampusnya, mampu mengakomodasi aspirasi staf, menjadi tempat yang nyaman untuk belajar mandiri, tata ruang, dan sarana fisik yang fleksibel dan kompak.
Oleh karena itu perpustakaan dituntut memberikan pelayanan yang terbaik, yang mencakup pelayanan tepat, cepat, ramah, dan mengikuti perkembangan teknologi informasi.
Perpustakaan pada perguruan tinggi merupakan institusi yang dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan civitas akademika terhadap informasi, data, teori-teori, bahan-bahan pembelajaran, dan hasil-hasil penelitian.
Pada awalnya, perpustakaan di tingkat program studi, dapat saja merupakan ruang baca dengan koleksi yang masih terbatas pada bahan-bahan penunjang perkuliahan dan program studi. Koleksinya pun terbatas dalam jumlah judul buku maupun eksemplarnya. Demikian juga koleksi jurnal, majalah, dan karya ilmiah masih sangat terbatas. Pengelolaannya pun pada awalnya belum menerapkan sistem pengelolaan perpustakaan pada umumnya. Dalam arti bahwa koleksi yang ada tidak dilakukan katalogisasi atau klasifikasi, peminjaman dilakukan dengan pencatatan seadanya, dan penyusunan/peletakan koleksi juga tidak teratur. Sedangkan ruangan yang digunakan sebagai ruang baca juga kurang mendukung untuk kenyamanan belajar, yang digunakan sekaligus sebagai tempat rak buku. Ruang ini dapat dilengkapi dengna kursi baca maupun sofa.
Meskipun demikian, secara bertahap dan berlanjut, koleksi buku baik dalam judul maupun jumlah eksemplar harus ditingkatkan. Jurnal, majalah, dan terbitan berkala pun demikian. Koleksi pustaka dalam bentuk CD Rom juga harus tersedia, seiring dengan berkembangnya media penyimpanan. Bahkan kini fasilitas hotspot untuk mengakses internet dan unit komputer workstation dalam perpustakaan merupakan kebutuhan pengguna sekarang. Sedangkan fasilitas hotspot dapat dimanfaat pada seluruh area kampus.
Laju perkembangan jumlah mahasiswa dan penambahan fasilitas kampus termasuk di dalamnya adalah penyediaan perpustakaan dengan segala sarana dan prasarananya termasuk sumber daya manusia masih belum menunjukkan kondisi yang ideal. Rasio jumlah tenaga staf pendukung dengan jumlah mahasiswa, rasio dosen dengan mahasiswa dan sebagainya masih terjadi kesenjangan.
Sebagai organisasi atau institusi yang berfungsi memberikan fasilitas pembelajaran, maka organisasi itu juga diharapkan menerapkan prinsip belajar dan pembelajaran. Demikian juga penyediaan sarana dan prasarana penting harus selalu diorientasikan kepada kepentingan warga belajar.
Khusus terkait dengan perpustakaan, permasalahan yang dapat diamati terutama terkait dengan sikap dan perilaku manusia, keterbatasan jumlah koleksi, keterbaruan koleksi, fasilitas akses internet yang pada waktu-waktu tertentu dirasakan lambat, kurangnya luasan area baca, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas tampak jelas bahwa perpustakaan merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Penyelenggaraan pelayanan dan sikap pengguna perpustakaan merupakan unsur penting yang perlu dianalisis dan senantiasa ditingkatkan efektivitasnya dalam rangka pelaksanaan peran dan fungsi perpustakaan.
Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan topik faktor-faktor determinan yang berpengaruh terhadap kepuasan pengguna perpustakaan.

2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pengamatan sementara dapat diidentifikasi beberapa permasalahan antara lain sebagai berikut:
1. Belum maksimalnya pemanfaatan perpustakaan oleh civitas akademika.
2. Belum semua fungsi-fungsi perpustakaan dilaksanakan.
3. Tidak semua civitas akademika memahami cara menelusuri informasi yang dibutuhkan.
4. Sarana dan prasarana penunjang perpustakaan belum mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi.
5. Kurangnya keterampilan petugas perpustakaan dalam memberikan pelayanan.
6. Terbatasnya alokasi anggaran untuk menambah jumlah koleksi.
7. Belum maksimalnyua dukungan/komitmen dari pimpinan.
8. Rendahnya antusiasme/sikap pengguna, yang sebagian besar masih terlalu mengandalkan kepada petugas perpustakaan.

3. Rumusan Masalah
Faktor-faktor determinan apa saja yang mempengaruhi kepuasan pengguna perpustakaan?

4. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui faktor-faktor determinan yang berpengaruh terhadap kepuasan pengguna perpustakaan.

5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan manfaat sebagai berikut:
1. Sebagai kontribusi terhadap program studi dalam meningkatkan kualitas dan pelayanan perpustakaan.
2. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan mengembangkan sumber daya perpustakaan.
3. Sebagai acuan dalam memberikan bimbingan pengguna perpustakaan.
4. Sebagai acuan bagi penelitian-penelitian sejenis di masa datang.
5. Menambah khasanah literatur di bidang sumber daya informasi


BAB II. LANDASAN TEORI

Regulasi tentang perpustakaan di Indonesia, terbaru dengan disahkannya Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan tanggal 1 Nopember 2007. Dalam UU Nomor 43 Tahun 2007 tersebut dinyatakan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekan secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.
Selanjutnya ditegaskan yang dimaksud dengan koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan.
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur yang sangat penting terhadap pencapaian visi dan misi lembaga. Oleh karena itu maka visi perpustakaan disusun berdasarkan visi perguruan tinggi yang bersangkutan.
Manajemen perpustakaan menggunakan teknologi informasi untuk menjamin efektivitas pengelolaan dan efisiensi.
Berbagai penelitian telah dilakukan dalam rangka mencari informasi tentang efektivitas pengelolaan perpustakaan pada lembaga pendidikan. Penelitian terkait perpustakaan itu dilakukan baik oleh pustakawan, kalangan pendidik maupun oleh mahasiswa.
Faktor-faktor dalam pengelolaan perpustakaan di antaranya, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, anggaran, perlengkapan, bahan pustaka, dan teknologi informasi.
Ada berbagai model dalam mengukur kinerja perpustakaan (Arwendria, 2009; Purnomowati, 2003) yang mengacu pada model-model yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga atau asosiasi perpustakaan-perpustakaan di luar negeri. Dalam hal ini dapat diberikan contoh seperti Benchmarking atau pengukuran kinerja perpustakaan berdasarkan ISO 11620: 1998. Pada dasarnya pengukuran kinerja maupun pengkajian tentang perpustakaan diperlukan dalam rangka memberikan umpan balik kepada pengelola perpustakaan itu sendiri untuk dijadikan bahan perbaikan atau peningkatan pelayanan.
Jika perpustakaan dipandang sebagai suatu institusi penyedia jasa layanan, maka penelitian tentang perpustakaan pada dimensi kepuasan pengguna dapat dianggap penting dalam rangka mencari data empirik tentang apa yang telah dilakukan oleh perpustakaan.
Banyak standar ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perpustakaan. Beberapa organisasi seperti EAL (1995), CRANFIELD, MIEL2 (1997), Van House (1990), IFLA (1996) dan ISO 11620 (1998) memberikan ukuran-ukuran yang jelas terhadap indikator yang digunakan.
IFLA (1996) dalam panduannya Measuring quality: international guidelines for performance measurement in academic libraries memberikan standar ukuran yang berorientasi pada pemakai dan keefektifan layanan yang diberikan, terutama pada perpustakaan perguruan tinggi. Tedapat 16 indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja perpustakaan seperti berikut ini.
• kepuasan pemakai (termasuk jasa yang digunakan secara remote);
• umum (jam buka perpustakaan dibandingkan dengan permintaan);
• penyediaan dan temu kembali dokumen (expert checklists, pemanfaatan koleksi,
• Penggunaan koleksi berdasarkan subjek, dokumen yang tidak digunakan);
• pertanyaan dan layanan referensi (rerata pertanyaan yang terjawab);
• penelusuran informasi (penelusuran bahan pustaka yang diketahui, penelusuran subjek);
• pengadaan dan pengolahan dokumen (pengadaan, pengolahan);
• peminjaman dan pengembalian dokumen (waktu); dan
• ketersediaan (proporsi dokumen yang tersedia segera sesuai dengan permintaan).
International Standards Organisation (1998) menerbitkan ISO/DIS 11620 Information and documentation—Library Performance Indicators yang mendata indikator-indikator yang dapat digunakan oleh berbagai jenis perpustakaan.

BAB III. DESAIN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan survey terhadap pengguna perpustakaan dalam rangka mengetahui tingkat kepuasan, dengan tujuan memberikan umpan balik bagi perbaikan dan peningkatan kualitas layanan.
Pengumpulan data menggunakan angket yang dikembangkan dari berbagai sumber dan teori yang ada.
Responden penelitian adalah pengguna perpustakaan yang bersedia mengisi angket, dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Analisis data dengan pendekatan deskriptif dan kualitatif. Rumus statistika yang akan digunakan untuk menganalisis adalah Regresi Linier Berganda. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan grafik serta deskripsi.


DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku
Abbas, Syahrizal. 2008. Manajemen Perguruan Tinggi: Beberapa Catatan. Jakarta: Prenada Media bekerjasama dengan CIDA dan Departemen Agama RI
Basuki, Sulistyo. 2003. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Harsono. 2008. Model-model Pengelolaan Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Lasa, Hs., 2009. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher
Pendit, Putu Laxman, dkk. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia. Seri Perpustakaan dan Informasi 1. Jakarta: Sagung Seto
Priyanto, Ida F. 2009. Perpustakaan, Pustakawan, dan Pengaruh Teknologi Informasi. Materi Pelatihan Teknologi Perpustakaan di UGM, Yogyakarta, 1 September 2009.
Purnomowati, Sri. 2003. Indikator Kinerja Perpustakaan, Majalah Baca No 27 (2) 2003 p 35 - 44, Jakarta: PDII – LIPI
Ratminto dan Atik Septi Winarsih. 2008. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Riduwan. 2009. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta
Rimbarawa, Kosam., dan Supriyanto. 2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawan. Jakarta: IPI PD-DKI dan Sagung Seto
Surtiawan, Dwi. 2006. Kepuasan Pemakai dan Peningkatan Kualitas Berbasis Pemakai: Pendekatan Manajemen Pemasaran sebagai Paradigma Baru Perpustakaan. Makalah tidak diterbitkan. Lomba Penulisan Karya Tulis Ilmiah bagi Pustakawan, Yogyakarta
Sutarno, NS. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
________. 2004. Manajemen Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Samita Media Utama
Suwarno, Wiji. 2007. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan: Sebuah Pendekatan Praktis. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Tjiptono, Fandy. 2005. Prinsip-prinsip Total Quality Service. Edisi Kelima. Yogyakarta: Penerbit ANDI
________. 2004. Manajemen Pemasaran Jasa. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Zethaml, Valarie A. dan Mary Jo Bitner. 1996. Service Marketing. New York: McGraw Hill.
- Sumber Lain
http//:www.ipiperin.wordpress.com diakses Selasa, 29 September 2009 pukul 11.00
http://arwendria.wordpress.com/2009/07/03/evaluasi-kinerja-perpustakaan/ diakses Selasa, 29 September 2009
http://ibweb.anglica.ac.uk/about/files/LibQUAL.pdf., diakses Rabu, 30 September 2009
Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan