Pembinaan PKK
Dedikasi dalam pendidikan, pembelajaran, persekolahan, teknologi, dan ilmu pengetahuan untuk kemajuan peradaban ummat manusia. Segala sesuatu yang besar, dimulai dari hal-hal yang kecil.
Minggu, 24 Februari 2019
Aktivitas Warga Kelurahan Labuhanratu, Bandarlampung
Menghadiri peresmian underpass Unila (Jln. Zainal Abidin Pagar Alam - Jln. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro)
Seremoni peresmian underpass Simpang Unila (Jln. Zainal Abidin Pagar Alam - Jln. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro)
Acara peresmian underpass Unila (Jln. Zainal Abidin Pagar Alam - Jln. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro). Semoga bermanfaat, aman dan nyaman bagi pengguna jalan.
Jumat, 03 Agustus 2018
KEGIATAN STIT PRINGSEWU
Rapat Dosen STIT Pringsewu, 2 Juli 2018
Rapat Dosen STIT Pringsewu, 2 Juli 2018
Rapat Dosen STIT Pringsewu, 2 Juli 2018
Rapat Dosen STIT Pringsewu, 2 Juli 2018
Rapat Dosen STIT Pringsewu, 2 Juli 2018
Rapat Dosen STIT Pringsewu, 10 Juli 2018
Rapat Dosen STIT Pringsewu, 10 Juli 2018
Kamis, 21 Juni 2018
Halalbilhalal Keluarga Besar Yayasan Pendidikan Startech Lampung
Dalam Idul Fitri 1439 Hijriyah, keluarga besar Yayasan Pendidikan Startech mengadakan halal bilhalal di rumah Bapak Dr. Hi. Fauzi, S.E., M.Kom., Akt., CA., Jalan Sakti Raya Kelurahan Pringsewu Barat Kecamatan
Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Senin (18/6/2018).
Acara halal bilhalal ini diikuti seluruh dosen, para guru, staf, serta pegawai di lingkungan Yayasan Pendidikan Startech yang menaungi Kampus STMIK Pringsewu, STIT Pringsewu, STIT Multazam, STEBI Tanggamus, STIE Lampung Timur, SMK Grafika, dan beberapa lembaga lainnya. “Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Mohon Maaf Lahir dan Batin,” ujar Dr. Hi. Fauzi yang juga Wakil Bupati Pringsewu ini di awal sambutannya.
Ia menyampaikan, bila ada salah mohon dapat dibuka pintu maaf sebesar-besarnya, dan dapat kembali lagi dari nol dengan memberikan maaf lahir dan batin, secara tulus dan ikhlas.
Acara ini dihadiri seluruh pimpinan lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Pendidikan Startech dan seluruh pegawai yang berjumlah kurang lebih 300 orang.
Dr. Hi. Fauzi mengatakan, halal bilhalal kini seakan telah menjadi budaya umat Islam dan masyarakat di seluruh Nusantara. Acara seeperti ini guna lebih meningkatkan persaudaraan dan tali silaturahiem terhadap sesama, sebangsa, dan setanah air.
“Mari kita maknai silaturahmi ini dengan menambah erat persaudaraan di antara kita. Mari kita tingkatkan ukhuwah Islamiyah. Mari kita mulai dari nol, kita dapat lebih cermat dan lebih baik lagi. semoga lembaga pendidikan kita menjadi makin solid dan dapat terus melayani masyarakat dengan baik,” ucap alumnus S3 UGM ini.
Di akhir acara, dengan mengenakan kemeja krim dan celana coklat, serta memakai peci hitam, Dr. Hi. Fauzi beserta istri bersalaman dengan seluruh dosen, staf, dan pegawai di lingkungan Yayasan Pendidikan Startech yang hadir.
“Semoga ke depan kita bisa makin baik lagi, meningkatkan kualitas kerja, mendorong kebersamaan dan menghasilkan sinergitas yang baik setelah Hari Raya Idul Fitri,” tuturnya. (id/drm)
Acara halal bilhalal ini diikuti seluruh dosen, para guru, staf, serta pegawai di lingkungan Yayasan Pendidikan Startech yang menaungi Kampus STMIK Pringsewu, STIT Pringsewu, STIT Multazam, STEBI Tanggamus, STIE Lampung Timur, SMK Grafika, dan beberapa lembaga lainnya. “Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Mohon Maaf Lahir dan Batin,” ujar Dr. Hi. Fauzi yang juga Wakil Bupati Pringsewu ini di awal sambutannya.
Ia menyampaikan, bila ada salah mohon dapat dibuka pintu maaf sebesar-besarnya, dan dapat kembali lagi dari nol dengan memberikan maaf lahir dan batin, secara tulus dan ikhlas.
Acara ini dihadiri seluruh pimpinan lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Pendidikan Startech dan seluruh pegawai yang berjumlah kurang lebih 300 orang.
Dr. Hi. Fauzi mengatakan, halal bilhalal kini seakan telah menjadi budaya umat Islam dan masyarakat di seluruh Nusantara. Acara seeperti ini guna lebih meningkatkan persaudaraan dan tali silaturahiem terhadap sesama, sebangsa, dan setanah air.
“Mari kita maknai silaturahmi ini dengan menambah erat persaudaraan di antara kita. Mari kita tingkatkan ukhuwah Islamiyah. Mari kita mulai dari nol, kita dapat lebih cermat dan lebih baik lagi. semoga lembaga pendidikan kita menjadi makin solid dan dapat terus melayani masyarakat dengan baik,” ucap alumnus S3 UGM ini.
Di akhir acara, dengan mengenakan kemeja krim dan celana coklat, serta memakai peci hitam, Dr. Hi. Fauzi beserta istri bersalaman dengan seluruh dosen, staf, dan pegawai di lingkungan Yayasan Pendidikan Startech yang hadir.
“Semoga ke depan kita bisa makin baik lagi, meningkatkan kualitas kerja, mendorong kebersamaan dan menghasilkan sinergitas yang baik setelah Hari Raya Idul Fitri,” tuturnya. (id/drm)
Rabu, 09 Mei 2018
BAZAR KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA STIT PRINGSEWU
Mahasiswa STIT Pringsewu menggelar bazar aneka produk di Balai Pekon
Podomoro, Kecamatan Pringsewu, selama tiga hari, Jumat (20/4) hingga
Minggu (22/4).
Kegiatan ini selain merupakan tugas dalam mata kuliah Kewirausahaan yang diampu Dedi Irawan, juga ajang menggali dan mengembangkan potensi diri, mengidentifikasi potensi pasar, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana, Fuad mengatakan, melalui bazar ini pihaknya berharap mendapat pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana praktik berwirausaha yang baik.
Saat membuka bazar, Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., menyatakan, STIT Pringsewu memiliki ciri khas yaitu membekali mahasiswa dengan berbagai keterampilan lunak, antara lain kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan strategis.
“Praktik kewirausahaan ini dalam rangka mengasah kemampuan dan sekaligus mengenali potensi diri sehingga nantinya mahasiswa dapat memiliki beragam keterampilan yang bermanfaat saat terjun di tengah masyarakat,” tuturnya.
Dwi Rohmadi menambahkan, mahasiswa diharapkan tekun mencermati potensi yang ada di sekitar, dan secara kreatif dan inovatif memberikan nilai tambah terhadap suatu produk maupun jasa.
“Kewirausahaan ini bukan hanya membuat produk dan memasarkannya, tetapi lebih dari itu. Kewirausahaan adalah keterampilan lunak yang bermanfaat bagi mahasiswa nantinya. Kembangkan sektor jasa yang dibutuhkan masyarakat. Teruslah berlatih dan berfikir di luar kotak (out of the box),” jelasnya.
Ketua STIT Pringsewu ini mencontohkan, sektor jasa di masa depan sangat terbuka lebar. “Bisa saja para mahasiswa ini nantinya membuka biro perjalanan wisata ke bulan. Memang saat ini sepertinya tidak mungkin, tetapi saya yakin di masa depan hal itu bisa terjadi,” kata dia.
Dalam acara pembukaan ini dihadiri juga oleh Wakil Ketua I STIT Pringsewu Moh. Masrur, M.Pd.I, aparatur pekon Hendrawan, para dosen, mahasiswa, dan warga masyarakat sekitar. (darma)
Kegiatan ini selain merupakan tugas dalam mata kuliah Kewirausahaan yang diampu Dedi Irawan, juga ajang menggali dan mengembangkan potensi diri, mengidentifikasi potensi pasar, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana, Fuad mengatakan, melalui bazar ini pihaknya berharap mendapat pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana praktik berwirausaha yang baik.
Saat membuka bazar, Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., menyatakan, STIT Pringsewu memiliki ciri khas yaitu membekali mahasiswa dengan berbagai keterampilan lunak, antara lain kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan strategis.
“Praktik kewirausahaan ini dalam rangka mengasah kemampuan dan sekaligus mengenali potensi diri sehingga nantinya mahasiswa dapat memiliki beragam keterampilan yang bermanfaat saat terjun di tengah masyarakat,” tuturnya.
Dwi Rohmadi menambahkan, mahasiswa diharapkan tekun mencermati potensi yang ada di sekitar, dan secara kreatif dan inovatif memberikan nilai tambah terhadap suatu produk maupun jasa.
“Kewirausahaan ini bukan hanya membuat produk dan memasarkannya, tetapi lebih dari itu. Kewirausahaan adalah keterampilan lunak yang bermanfaat bagi mahasiswa nantinya. Kembangkan sektor jasa yang dibutuhkan masyarakat. Teruslah berlatih dan berfikir di luar kotak (out of the box),” jelasnya.
Ketua STIT Pringsewu ini mencontohkan, sektor jasa di masa depan sangat terbuka lebar. “Bisa saja para mahasiswa ini nantinya membuka biro perjalanan wisata ke bulan. Memang saat ini sepertinya tidak mungkin, tetapi saya yakin di masa depan hal itu bisa terjadi,” kata dia.
Dalam acara pembukaan ini dihadiri juga oleh Wakil Ketua I STIT Pringsewu Moh. Masrur, M.Pd.I, aparatur pekon Hendrawan, para dosen, mahasiswa, dan warga masyarakat sekitar. (darma)
Selasa, 08 Mei 2018
Mahasiswa STIT Pringsewu Dibekali Keterampilan Membuat Multimedia Interaktif
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu menggelar seminar dan workshop multimedia pembelajaran interaktif.
Seminar yang digelar di aula kampus setempat itu dihadiri Kepala Kemenag Pringsewu Drs H. M Yusuf, MM, Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M. Pd, Perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung Dra. Nilawati dan Koimah, SH., MM., Didik Sri Utama, M.Pd., beserta dosen dan staf STIT Pringsewu, Rabu (25/4).
Ketua STIT Pringsewu, Dwi Rohmadi dalam sambutannya mengatakan, seminar dan workshop ini merupakan ajang memperkaya khazanah mahasiswa dan membekali mereka dengan keterampilan membuat media atau multimedia yang interaktif dan menyenangkan. Sebab, menurut dia, di era teknologi informasi sekarang, mahasiswa harus adaptif terhadap perubahan masa depan, dan juga harus mampu memetakan apa yang terjadi di masa depan.
“Mahasiswa harus dapat memanfaatkan media dari sisi positif. Mahasiswa Tarbiyah, sebagai calon pendidik di masa yang akan datang, merupakan pembaharu, dan penanam nilai moral masa depan,” ujarnya.
Menurut Dwi Rohmadi, mahasiswa harus mempunyai keterampilan membuat media pembelajaran yang interaktif, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan bisa efektif, efisien, serta menggembirakan.
Media, lanjut Dwi Rohmadi, merupakan bagian penting dari komponen pembelajaran, sesuai dengan tujuh komponen pendidikan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya, yaitu, guru, siswa, tujuan kurikulum, media, metode, materi, dan evaluasi.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pringsewu, M Yusuf, mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini, karena dirasa perlu dalam dunia pendidikan, sehingga mahasiswa mampu berkiprah dan mengaplikasikannya ke masyarakat.
“Ke depan, kita upayakan menjalin kerjasama dalam menjalani pembinaan keagamaan dalam masyarakat,” ujarnya.
Ruly Nadian Sari, sebagai dosen pengampu mata kuliah media pembelajaran, berharap agar mahasiswa lebih termotivasi dan lebih menggali pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
“Sebab, kalau hanya mengandalkan perkuliahan dalam kelas, itu dimungkinkan kurang cukup dalam membekali para mahasiswa ke depannya. Kita menganut long life education, pendidikan sepanjang hayat, karena pengetahuan didapat dari siapapun, kapanpun, dan di manapun, termasuk kegiatan seminar ini,” jelasnya. (darm)
Seminar yang digelar di aula kampus setempat itu dihadiri Kepala Kemenag Pringsewu Drs H. M Yusuf, MM, Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M. Pd, Perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung Dra. Nilawati dan Koimah, SH., MM., Didik Sri Utama, M.Pd., beserta dosen dan staf STIT Pringsewu, Rabu (25/4).
Ketua STIT Pringsewu, Dwi Rohmadi dalam sambutannya mengatakan, seminar dan workshop ini merupakan ajang memperkaya khazanah mahasiswa dan membekali mereka dengan keterampilan membuat media atau multimedia yang interaktif dan menyenangkan. Sebab, menurut dia, di era teknologi informasi sekarang, mahasiswa harus adaptif terhadap perubahan masa depan, dan juga harus mampu memetakan apa yang terjadi di masa depan.
“Mahasiswa harus dapat memanfaatkan media dari sisi positif. Mahasiswa Tarbiyah, sebagai calon pendidik di masa yang akan datang, merupakan pembaharu, dan penanam nilai moral masa depan,” ujarnya.
Menurut Dwi Rohmadi, mahasiswa harus mempunyai keterampilan membuat media pembelajaran yang interaktif, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan bisa efektif, efisien, serta menggembirakan.
Media, lanjut Dwi Rohmadi, merupakan bagian penting dari komponen pembelajaran, sesuai dengan tujuh komponen pendidikan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya, yaitu, guru, siswa, tujuan kurikulum, media, metode, materi, dan evaluasi.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pringsewu, M Yusuf, mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini, karena dirasa perlu dalam dunia pendidikan, sehingga mahasiswa mampu berkiprah dan mengaplikasikannya ke masyarakat.
“Ke depan, kita upayakan menjalin kerjasama dalam menjalani pembinaan keagamaan dalam masyarakat,” ujarnya.
Ruly Nadian Sari, sebagai dosen pengampu mata kuliah media pembelajaran, berharap agar mahasiswa lebih termotivasi dan lebih menggali pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
“Sebab, kalau hanya mengandalkan perkuliahan dalam kelas, itu dimungkinkan kurang cukup dalam membekali para mahasiswa ke depannya. Kita menganut long life education, pendidikan sepanjang hayat, karena pengetahuan didapat dari siapapun, kapanpun, dan di manapun, termasuk kegiatan seminar ini,” jelasnya. (darm)
Bentengi Generasi Muda dari Pengaruh Ideologi Radikal
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu menggelar Seminar
Kebangsaan bertajuk “Memperkuat Nasionalisme di Tengah Perubahan Global”
yang berlangsung di Aula kampus setempat, Kamis (26/4/2018) siang.
Seminar Kebangsaan yang dimoderatori oleh Muhammad Masrur, M.Pd.I ini menghadirkan lima narasumber yaitu Komandan Kodim 0424 Tanggamus Letkol Arh. Anang Hasto Utomo, S.IP; Kepala Biro Operasi Polda Lampung Kombes Pol. Yosi Hariyoso; Mantan Komandan NII Ken Setiawan; Kepala Kesbangpol Kabupaten Pringsewu Sukarman, S.Pd dan Akademisi STIT Pringsewu Hi. Salamun Mohammad Abror, M.Pd.I.
Seminar Kebangsaan yang dimoderatori oleh Muhammad Masrur, M.Pd.I ini menghadirkan lima narasumber yaitu Komandan Kodim 0424 Tanggamus Letkol Arh. Anang Hasto Utomo, S.IP; Kepala Biro Operasi Polda Lampung Kombes Pol. Yosi Hariyoso; Mantan Komandan NII Ken Setiawan; Kepala Kesbangpol Kabupaten Pringsewu Sukarman, S.Pd dan Akademisi STIT Pringsewu Hi. Salamun Mohammad Abror, M.Pd.I.
Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa,
M.Pd mengungkapkan, bahwa penguatan wawasan kebangsaan memerlukan peran
seluruh komponen bangsa dan tidak terkecuali peran seluruh perguruan
tinggi. STIT Pringsewu sebagai perguruan tinggi di Lampung, juga
memiliki tanggungjawab turut serta dalam upaya penguatan wawasan
kebangsaan.
Lebih lanjut, Dwi Rohmadi mengatakan, dalam rangka mencegah sikap radikal yang negatif, STIT Pringsewu menyelenggarakan seminar kebangsaan ini sebagai implementasi tridarma perguruan tinggi.
Pria yang juga Sekretaris PWLP Ma'arif NU Lampung ini menambahkan, penguatan wawasan kebangsaan merupakan strategi yang harus dilakukan dalam rangka mencegah paham radikalisme yang mengarah ke aksi destruktif. Wawasan kebangsaan akan memperkuat jatidiri bangsa dengan falsafah Pancasila di tengah-tengah masyarakat sebagai modal sosial dan kultural mencegah paham radikal dan menyimpang dari nilai-nilai luhur budaya bangsa (Muhammad Idris)
Lebih lanjut, Dwi Rohmadi mengatakan, dalam rangka mencegah sikap radikal yang negatif, STIT Pringsewu menyelenggarakan seminar kebangsaan ini sebagai implementasi tridarma perguruan tinggi.
Pria yang juga Sekretaris PWLP Ma'arif NU Lampung ini menambahkan, penguatan wawasan kebangsaan merupakan strategi yang harus dilakukan dalam rangka mencegah paham radikalisme yang mengarah ke aksi destruktif. Wawasan kebangsaan akan memperkuat jatidiri bangsa dengan falsafah Pancasila di tengah-tengah masyarakat sebagai modal sosial dan kultural mencegah paham radikal dan menyimpang dari nilai-nilai luhur budaya bangsa (Muhammad Idris)
Kamis, 22 Maret 2018
PELANTIK PENGURUS BEM STIT PRINGSEWU PERIODE 2018/2019
Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd, melantik pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu periode 2018-2019. Pelantikan ini juga disaksikan Wakil Ketua I Muhammad Masrur, M.Pd.I, Wakil Ketua II Dedi Irawan, M.E.Sy, Wakil Ketua III Hi. Abdul Hamid, M.Pd.I, Alhafidz, para dosen dan staff di lingkungan STIT Pringsewu bertempat di aula lantai 2 kampus setempat, Minggu (18/3/2018).
Mereka yang dilantik adalah Yobi Afrizal (Manajemen Pendidikan Islam, semester 4) dan Habib Tohari Muslim (MPI, 4) sebagai Presiden dan Wakil Presiden BEM beserta pengurus lengkap. Yobi menggantikan Presiden BEM periode sebelumnya Astri Setiani.
Presiden Mahasiswa BEM STIT Pringsewu yang baru terpilih Yobi Afrizal dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan STIT Pringsewu atas dukungan pembinaan kemahasiswaan. Ia juga mengajak kepada pengurus BEM untuk mensolidkan barisan dan menyatukan persepsi dan secara bersama-sama untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
“Terima kasih kepada Ketua STIT Pringsewu dan jajaran atas terlaksananya pelantikan ini, kami berharap masukan, arahan dan motivasi guna kejayaan BEM ke depan. Dan untuk anggota BEM yang sudah terpilih, selamat bekerja selama satu tahun ke depan kita akan membawa marwah BEM STIT Pringsewu jauh lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Ini harapan kita bersama,” ucap Yobi.
Sementara itu, Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd mengungkapkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan salah satu komponen penting dalam setiap Peguruan Tinggi. BEM STIT Pringsewu yang baru dilantik, diharapkan dapat sebagai penggerak bagi mahasiswa guna mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki dan untuk memajukan STIT Pringsewu.
Lebih lanjut Ketua STIT Pringsewu menyampaikan, dengan kepengurusan BEM yang baru, maka penting untuk membangun aliansi strategis dengan komponen masyarakat, terutama sesama organisasi kemahasiswaan. "Kiranya BEM dapat membangun sinergitas, koordinasi dan konsolidasi dalam melakukan berbagai aktivitas untuk kemaslahatan masyarakat," imbuhnya.
Dwi Rohmadi juga mengucapkan selamat kepada Presma dan jajaran BEM yang dilantik dan berharap dapat mengemban tugas dan tanggungjawabnya dengan sebaik-baiknya. Di hadapan pengurus BEM yang hadir Dwi Rohmadi mengatakan, bahwa berkiprah dalam organisasi hendaknya dilandasi atas panggilan hati nurani atau panggilan jiwa. "Jadikan pelantikan BEM ini moment mewujudkan niatan baik. BEM menjadi wadah berhimpun sebagai kekuatan yang luar biasa," tutur Dwi Rohmadi
Di kesempatan itu juga, Dwi Rohmadi memompa semangat dan motivasi kepada pengurus BEM bahwa mahasiswa saat ini adalah tunas-tunas pemimpin di waktu 10 atau 20 tahun mendatang. “Tugas mahasiswa itu bukan hanya belajar tapi juga penelitian dan pengabdian masyarakat, salah satunya melalui organisasi BEM, sehingga manfaat realisasinya dapat dirasakan di masa mendatang. Jadikan tahun 2018 sebagai kejayaan BEM STIT Pringsewu,” ucapnya.
Selain kegiatan pelantikan BEM STIT Pringsewu masa bakti 2018-2019, dilaksanakan juga kegiatan berbagai macam perlombaan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-9 Kabupaten Pringsewu yang diikuti dosen, staf, dan mahasiswa di lingkungan kampus setempat. (Muhammad Idris)
Sabtu, 25 November 2017
Menjadi Guru di Era Milenial
TIAP masa, ada
orangnya. Tiap orang, ada masanya.
Dua kalimat yang bersifat jargon tersebut
sangat terkenal di kalangan politisi. Kalimat pertama diartikan, setiap era ada
orang-orang yang memainkan peran penting dalam berbagai sektor kehidupan. Contohnya, era sebelum kemerdekaan,
ada para pejuang yang merebut kemerdekaan bangsa ini. Disusul kemudian era Orde
Lama, Orde Baru, dan kini era reformasi. Di setiap era itu ada tokoh-tokoh
sentral yang dicatat dalam sejarah.
Kalimat kedua antara lain diartikan bahwa jabatan atau peran
seseorang itu ada batas waktunya, ada akhirnya. Tidak ada jabatan yang abadi. Seseorang
yang kini menduduki posisi tertentu, nantinya akan digantikan oleh generasi
berikutnya. Yang pegawai atau karyawan, akan berakhir masa pengabdiannya dan pensiun.
Hukum alam berlaku di sini.
Dari semua itu artinya bahwa setiap era memiliki tuntutan
dan tantangan yang berbeda, peluang yang berbeda, dan tingkat kompetisi yang berbeda. Pencapaian setiap orang juga berbeda, bahkan dengan
jerih payah yang sama sekalipun. Namun demikian, secara kodrati yang terpenting
bagi kita adalah seberapa besar daya upaya meraih prestasi, mencermati
peluang-peluang, terus bekarya, dan mengisinya dengan kiprah yang bermanfaat
bagi banyak orang. Kalimat Tiap masa, ada
orangnya. Tiap orang, ada masanya, hendaknyanya menjadi motivasi, bukan
malah bersikap apatis dan pesimis.
Pengaruh Teknologi
Zaman terus berubah. Terjadi dinamika dan perkembangan di
bidang ekonomi, politik, sosial, dan teknologi dan semua aspek kehidupan. Perubahan-perubahan
itu terasa begitu cepat. Hampir setiap bulan muncul teknologi baru baik berupa
perangkat keras maupun perangkat lunak.
Anak-anak muda sekarang dikenal sebagai generasi milenial. Meskipun
tidak ada batasan waktu yang pasti, tetapi generasi milenial dicirikan dengan meningkatnya
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dan teknologi digital. Di
beberapa wilayah ditandai dengan munculnya sikap liberalisasi terhadap politik
dan ekonomi.
Diakui memang belum ada kajian mendalam dan komprehensif dampak
liberalisasi politik dan ekonomi, tetapi ada kekhawatiran terhadap ekses meningkatnya
jumlah pengangguran dan krisis sosial ekonomi yang dalam jangka panjang merusak
generasi muda. Kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat perubahan-perubahan yang terjadi sedemikian cepat. Dalam teknologi disebut sebagai era konvergensi.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah
menggantikan tugas dan peran sekian banyak pekerja. Karyawan yang selama ini melakukan
tugas secara manual, harus terpinggirkan karena perannya digantikan oleh alat
dan teknologi.
Mesin dan teknologi menggantikan peran manusia dalam proses
produksi dan distribusi barang. Di pabrik perakitan otomotif, di pabrik rokok,
pengolahan daging, pembuatan minuman, dan sebagainya semuanya kini padat
teknologi.
Bahkan kini manusia sangat tergantung pada teknologi. Untuk berbelanja,
hiburan, memesan transportasi umum, melakukan transaksi, semuanya dapat
dilakukan dengan aplikasi secara online.
Dampak teknologi informasi dan komunikasi telah menggerus
banyak profesi yang dulu berperan penting dan primadona bagi generasi muda.
Pengantar surat (pos) digantikan email dan berbagai aplikasi komunikasi, aktivitas
berbelanja di pasar tradisional bergeser ke pasar modern (mall) dan kini ada
kecenderungan meningkat berbelanja secara online.
Sektor ekonomi kreatif kini mulai bangkit dan diharapkan
menjadi penopang pekerjaan dan profesi di masa depan. Ekonomi kreatif yang
antara lain berbasis pemanfaatan teknologi. Jika dahulu banyak anak-anak muda yang bermimpi menjadi pegawai negeri, tampaknya kini sudah banyak mengalami pergeseran. Persepsi kalangan muda untuk memasuki suatu profesi semakin bervariasi.
Memang harus diakui bahwa teknologi dapat berdampak positif
dan negatif, sangat tergantung pada tujuan penggunaannya. Teknologi sejatinya
diciptakan dan dikembangkan untuk membantu memudahkan pekerjaan manusia, bukan menggantikan eksistensi manusia.
Belakangan berkembang meluasnya informasi yang dianggap hoax
atau berita bohong, sehingga pemerintah dan elemen masyarakat lain menabuh
genderang perang terhadap hoax. Turn Back Hoax.
Lihatlah sekarang, anak-anak sedemikian cepat menerima
informasi dan memberikan reaksi secara bebas terhadap suatu peristiwa. Melalui
media sosial setiap orang dapat memerankan diri sebagai reporter sekaligus
sebagai penikmat informasi dan secara aktif dapat berinteraksi secara realtime. Dalam hitungan menit, gambar-gambar
lucu (meme) dan video-video kreatif merespon suatu peristiwa. Yang terbaru
misalnya, terhadap peristiwa kecelakaan tunggal ketua DPR Setya Novanto. Saat
hari menjelang petang itu Setya Novanto dikabarkan akan menyerahkan diri ke
KPK, tetapi dalam perjalanan mengalami kecelakaan tunggal menabrak tiang
listrik. Dalam hitungan jam hampir semua platform media sosial dibanjiri komentar
disertai gambar-gambar kreasi yang beragam, yang kontennya bernada nyinyir.
Peran Guru
Dalam kaitan peran dan profesi guru, jargon Tiap masa, ada orangnya. Tiap orang, ada
masanya tersebut juga berlaku. Tantangan dan tuntutan atas profesi guru di
abad 21 juga semakin banyak. Menjadi
guru bukan pekerjaan mudah. Apalagi di era milenial ini. Ia dituntut memainkan
peran di lingkup sekolah dan juga di lingkungan masyarakat.
Dalam konsep sosiologis, guru di sekolah dituntut menjadi
mitra belajar siswa di kelas, melaksanakan tugas-tugas administrasi pendidikan
yang dilakukannya, melakukan evaluasi dan memotivasi siswa, serta memacu
kreativitas siswa. Sebagai pribadi yang menjadi anggota masyarakat guru sekaligus
diharapkan menjadi penyelesai masalah di masyarakat.
Kebebasan menggunakan tekonologi inforasi dan komunikasi di
kalangan generasi muda juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sebab
seharusnya teknologi dapat menjadi media pembelajaran yang efektif, memudahkan
dan mempercepat terbangunnya ekonomi yang mensejahterakan dan berkeadilan.
Bagi guru kini dituntut selangkah lebih maju dalam kemampuan
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga ia dapat melaksanakan
pembelajaran dengan efektif dan kreatif. Akan menjadi dilema saat guru belum
menguasai teknologi informasi, sementara siswa sudah sangat akrab dengan
teknologi itu. Guru diharapkan mampu menjadi filter derasnya arus informasi
yang bermuatan nilai-nilai negative bagi perkembangan pribadi siswa.
Hal ini berarti bahwa guru harus sudah selesai dengan
“urusan domestik”, sehingga dapat berkonsentrasi dalam tugas-tugas
pembelajaran. Apagi dengan diterapkannya kebijakan Penguatan Pendidikan
Karakter (PPK) berdasarkan Kepres Nomor 87 Tahun 2017, yang di dalamnya diatur
tentang penanaman nilai-nilai luhur yang menjadi karakter bangsa dikaitkan
dengan seluruh proses dan jalur pendidikan.
Peran guru yang tidak tergantikan oleh teknologi informasi
dan komunikasi harus menjadi penyemangat para pendidik untuk terus meng-up grade pengetahuan dan berbagai
kompetensi yang wajib dimiliki. (*)
Senin, 20 November 2017
STIT Pringsewu Gelar Festival Rebana
Dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 hijriyah, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu berencana menggelar Festival Rebana 2017 yang dipusatkan di halaman kampus perguruan tinggi ini.
Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd di ruang kerjanya, Selasa (3/10/2017) menjelaskan, kegiatan tahunan ini akan digelar Sabtu dan Minggu, 25-26 November 2017. Festival Rebana kali keempat ini dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 Hijriyah, mengangkat tema “STIT PRINGSEWU BERSHOLAWAT”.
“Melalui kegiatan ini, STIT Pringsewu bermaksud membumikan Shalawat di kampus STIT Pringsewu sekaligus mengenal lebih dekat seni budaya Islam. STIT Pringsewu sebagai lembaga pendidikan yang ada di Bumi Jejama Secancanan terus berupaya menyebarluaskan dan mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan seni Islami yang mengandung banyak hikmah,” ucap bapak dua putri ini.
Festival Rebana, lanjut Dwi, juga dijadikan sebagai sarana untuk mempererat tali silaturrahiem dengan masyarakat dan sekaligus mendorong tumbuhnya kreasi dan prestasi.
Festival Rebana se-Provinsi Lampung dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIT Pringsewu, kata Dwi, diharapkan mampu menghidupkan kembali kecintaan terhadap kesenian rebana di era modern.
Selain itu, menurut Dwi, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW melalui syair-syair yang bermakna.
Dwi yang juga sebagai Ketua Bidang Kelembagaan DPD ADRI (Ahli dan Dosen Republik Indonesia) ini mengatakan, bahwa kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari, 25 s/d 26 November 2017 mencakup kategori Remaja dan Ibu-Ibu yang akan memperebutkan hadiah jutaan rupiah dan tropy.
Bagi masyarakat luas yang ingin mengikuti perlombaan tersebut dapat mendaftarkan grupnya dengan menghubungi panitia di “contact person” Abdul Hamid, M.Pd.I (081369740662), Evi Gusliana, M.Pd.I (085769970676) dan Ust. Syaiful (085384275609) melalui SMS dengan format : NAMA GROUP REBANA _ ALAMAT _ NO. HP. Biaya pendaftaran per grup Rp100 ribu.
Senin, 10 Juli 2017
Berbahayakah Pembelajaran Calistung di PAUD
USIA BALITA MERUPAKAN USIA EMAS
JANGAN TINGGALKAN GENERASI YANG LEMAH
Pada musim tahun pelajaran baru, banyak tema diskusi
di kalangan orang tua atau wali siswa, mulai dari soal biaya pendidikan,
persepsi tentang sekolah yang bagus, prestasi pendidikan, hingga
keunggulan-keunggulan spesifik yang dimiliki oleh anak.
Salah satu topik pembicaraan yang hangat di kalangan
orang tua adalah membanggakan “kehebatan-kehebatan” anaknya. Sebenarnya, kalau
kita mau jujur, semua anak itu hebat. Hebat di bidangnya masing-masing. Ada anak yang gemar dan pandai matematika,
namun ada pula yang menonjol di bidang olahraga atau seni.
Saat anak memasuki usia Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) jalur formal yaitu Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudlatul Athfal (RA) biasanya
anak dalam satu keluarga menjadi pusat curahan perhatian orang tua. Rasa kasih
sayang dan kebanggaan itu diekspresikan dengan memilihkan tempat pendidikan
yang terbaik dala pandangan orang tua.
Sayangnya, persepsi sebagian besar orang tua tentang
TK atau RA yang baik adalah yang mengajarkan anak membaca, menulis, dan berhitung
(Calistung). Artinya, anak-anak yang didik di TK/RA itu sudah pandai membaca,
menulis, dan berhitung.
Faktor emosional orang tua yang seringkali memiliki
persepsi bahwa anaknya yang “paling lebih” dibanding anak-anak lainnya, membuat
penyelenggara TK/RA seakan “berlomba” mempromosikan
bahwa lembaga pendidikan yang dikelolanya adalah yang terbaik, yang paling
layak menjadi pilihan para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka.
Di sisi lain, para penyelenggara TK/RA juga harus
kompetitif, sebab jika tidak memiliki “kelebihan”, akan kehilangan kepercayaan
masyarakat. Hilangnya kepercayaan masyarakat akan berarti sinyal bahwa TK/RA
itu harus tutup, karena tidak ada orang tua yang mempercayakan anak-anak mereka
untuk diasuh di TK/RA itu. Kondisi seperti ini merupakan dilema bagi para
penyelenggara TK/RA.
Sementara pada saat memasuki jenjang Sekolah Dasar
(SD) banyak sekolah yang secara tertutup menerapkan seleksi apakah anak-anak
yang akan masuk SD itu sudah bisa Calistung. Akhirnya, para orang tua juga
dihadapkan pada situasi yang dilematis. Sebab, apabila anaknya belum bisa
Calistung, maka akan sulit bisa diterima di SD. Sehingga pilihan menitipkan
anaknya di TK/RA yang sudah menerapkan pembelajaran Calistung menjadi pilihan
utama.
Para orang tua dalam memilih TK/RA umumnya sudah
merencanakan SD mana nantinya yang akan dituju. Artinya, bila SD yang akan
dituju sudah menerapkan bahwa calon siswa SD itu harus sudah bisa Calistung,
maka orang tua akan memilih TK/RA yang sudah menerapkan pembelajaran Calistung.
Sebenarnya regulasi dan petunjuk teknis yang
ditetapkan pemerintah sudah sangat jelas tentang bagaimana standar, kriteria,
strategi pembelajaran, kurikulum, dan sebagainya baik di TK/RA maupun SD.
Tetapi praktek pendidikan, pembelajaran, dan persekolahan, terkadang deviasi
terhadap konsep dan prinsip yang diberlakukan. Sekali lagi, ini karena
penyelenggara TK/RA maupun SD juga harus kopetitif dan mampu meraih kepercayaan
masyarakat.
Berbagai peraturan, pedoman, dan panduan atau petunjuk
teknis penyelenggaraan PAUD sudah mengatur dan mengadopsi filosofi dan
prinsip-prinsip pendidikan, model dan strategi pembelajaran, pendekatan
pembelajaran, sesuai dengan tahap perkembangan dan usia peserta didik.
Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Nomor:
1839/C.C2/TU/2009 tanggal 25 April 2009 Perihal Penyelenggaraan Pendidikan
Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar, menyebutkan bahwa istilah
"Taman" pada Taman Kanak-kanak mengandung makna "tempat yang aman dan nyaman
(safe and comfortable) untuk bermain" sehingga pelaksanaan
pendidikan di TK harus mampu menciptakan lingkungan bermain yang aman dan
nyaman sebagai wahana tumbuh kembang anak.
Guru hendaknya memperhatikan tahap tumbuh kembang
anak didik, kesesuaian dan keamanan alat dan sarana bermain, serta metode yang
digunakan dengan mempertimbangkan waktu, tempat, serta teman bermain.
Permendikbud RI Nomor 146 tahun
2014 tentang Kurikulum 2013 PAUD Pasal 1 menegaskan bahwa Pendidikan Anak Usia
Dini, yang selanjutnya disingkat PAUD, merupakan suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.
Selanjutnya Pasal 8 (1) Program
pengembangan PAUD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dilakukan melalui
serangkaian proses pemberian rangsangan pendidikan oleh pendidik, respons
peserta didik, intervensi pendidik, dan penguatan oleh pendidik.
(2) Program pengembangan PAUD
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diorganisasikan secara
psiko-pedagogis dan terintegrasi dalam kegiatan
peserta didik.
(3) Pengorganisasian secara
psiko-pedagogis sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diwujudkan dalam bentuk
belajar melalui bermain.
(4) Pengorganisasian secara
terintegrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diwujudkan dalam bentuk integrasi
antarprogram pengembangan.
Secara keseluruhan, prinsip utama
yang terkandung dalam PAUD adalah belajar sambil bermain, mengembangkan potensi
peserta didik sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya.
Para orang tua perlu menyadari
bahwa anak-anak, apalagi di usia PAUD adalah “usia emas” yang akan menentukan
perkembangan semua aspek dalam diri anak di masa datang. Mereka bukanlah orang
dewasa yang berada dalam fisik yang kecil. Tidak akan ada manfaatnya memaksakan
egoisme dan ambisi orang tua kepada anak, bahkan akan merugikan mental dan
perkembangan psikologis anak di masa datang. (*)
Langganan:
Postingan (Atom)
























