TIM dosen STIT Pringsewu mengadakan kunjungan ke sejumlah sekolah dan madrasah untuk memberikan wawasan tentang perguruan tinggi kepada para pelajar. Kegiatan ini juga dimaksudkan memberi kesempatan kepada pelajar yang akan melanjutkan pendidikannya dapat mengikuti kuliah di STIT Pringsewu.
Kampus yang ber-tagline Mengasuh Sepenuh Hati, ini juga menawarkan beberapa beasiswa.
STIT Pringsewu menyelenggarakan pendidikan untuk Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, dan Pendidikan Bahasa Arab.
SMK Patria Gadingrejo, 22 Januari 2020
SMK Pelita Gedongtataan, 23 Januari 2020
SMA Negeri I Gadingrejo, 24 Januari 2020
MA Maarif Keputran, Sukoharjo, 24 Januari 2020
Dedikasi dalam pendidikan, pembelajaran, persekolahan, teknologi, dan ilmu pengetahuan untuk kemajuan peradaban ummat manusia. Segala sesuatu yang besar, dimulai dari hal-hal yang kecil.
Sabtu, 08 Februari 2020
Minggu, 02 Februari 2020
Dosen STIT Pringsewu Raih Gelar Doktor
DOSEN STIT Pringsewu Moh Masrur, dinyatakan lulus dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Pascasarjana UIN Raden Intan, Sabtu, 25 Januari 2020. Ia meneliti tentang teori dan praktik penggerakan, sebagai bagian utama suatu organisasi. Dalam menyusun disertasinya, Masrur menelisik ke berbagai kitab dan literatur dari yang klasik sampai kontemporer. Tak kurang dari 316 literatur dikaji secara mendalam. Konsep pengorganisasian itu lebih spesifik dikaji dalam Perspektif Islam sebagai materi disertasinya.
Masrur mengungkapkan, bahwa dirinya akan berusaha menerapkan hasil penelitian tersebut dalam lembaga pendidikan dan berharap banyak lembaga yang nantinya menerapkan konsep yang Islami.
Menurut ayah dua anak ini, kini semakin menjamur lembaga yang menggunakan label Islam, khususnya lembaga pendidikan. "Banyak lembaga, khususnya pendidikan yang berlabel Islam, tapi menurut saya kurang menerapkan nilai-nilai keislaman," kata dia.
Padahal, menurut dia, hal tersebut sudah termaktub dalam Al-Qur'an serta as-sunah. Namun, banyak lembaga menggunakan konsep pengorganisasian barat. Disertasi ini menegaskan nilai-nilai keislaman dalam pengorganisasian.
Secara teknis konsep, pengorganisasian Islam banyak kesamaan dengan konsep pengorganisasian dalam manajemen konvensional. Yang menjadi pembeda adalah ada dasar ketuhanan dalam konsep Islam. "Jadi, ada nilai-nilai spiritual. Dalam konsep pengorganisasian Islam tidak seperti yang konvensional," ujarnya.
Dia mencontohkan, dalam konsep manajemen Islam ada misalnya, 'bayarlah upah buruhmu sebelum kering keringatnya', tapi dalam konsep manajemen konvensional tidak seperti itu.
"Mesti dilakukan evaluasi dan dihitung pencapaian target serta untung rugi oleh pemberi kerja," ucapnya.
Dengan lulusnya Moh Masrur, UIN Raden Intan genap telah melahirkan 100 orang doktor.
Rektor UIN Raden Intan Prof Moh Mukri berharap kelulusan mahasiswanya itu mampu memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.
"Semoga doktor ke 100 mampu memberikan manfaat dan berguna bagi bangsa, negara, serta agama ke depannya," pungkasnya.
Sidang tersebut diselenggarakan di ruang sidang pascasarjana UIN Raden Intan, gedung utama lantai II. Sidang selama dua jam ini berlangsung lancar.
Sementara, pengujian disertasi tersebut dipimpin langsung boleh Rektor UIN Raden Intan Prof. Dr. Moh. Mukri, serta 5 penguji lainnya. Turut hadir dalam promosi doktor tersebut Ketua Yayasan Pendidikan Startech Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizd, Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., para kolega dan keluarga. (*)
Sabtu, 18 Januari 2020
STIT Pringsewu Gelar Workshop Penyusunan Karya Ilmiah
STIT Pringsewu Mengadakan Workshop Penyusunan Karya Ilmiah bagi Mahasiswa
Mahasiswa sebagai calon sarjana wajib memiliki kemampuan
menyusun karya ilmiah. Kemampuan ini perlu terus dikembangkan, sehingga
bermanfaat dalam menunjang tugas-tugas di masyarakat.
Untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan itu mahasiswa,
STIT Pringsewu mengadakan Workshop Penyusunan Karya Ilmiah, Sabtu (18/01/2020).
Kegiatan yang diikuti 69 mahasiswa ini menghadirkan narasumber Hi. Salamun,
M.Pd.I., Eri Purwanti, M.Pd., Amrullah Khoirul Maarif, M.Pd.
Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., dalam sambutannya mengatakan, mahasiswa
harus menjadi pribadi yang senantiasa menunjukkan sikap ilmiah, berpikir
ilmiah, dan menghasilkan karya ilmiah. “Kesarjanaan seseorang antara lain dicirikan
dengan sikap dan perilaku ilmiah. Maka para mahasiswa wajib mengasah terus
menerus kemampuan-kemampuan berpikir dan berkarya ilmiah,” ucapnya.
Melalui workshop ini, lanjut Dwi Rohmadi, diharapkan
menghasilkan integrasi pengetahuan dan terbentuk keterampilan serta hasil karya
ilmiah mahasiswa yang lebih baik.
Para narasumber menyampaikan materi secara interaktif dan membimbing setiap peserta dalam menyusun karya ilmiah baik berupa rancangan skripsi maupun artikel jurnal.
Pembekalan Penyusunan Skripsi Mahasiswa STIT Pringsewu
Pembekalan Penyusunan Skripsi Mahasiswa STIT Pringsewu, Sabtu, 11 Januari 2020 di aula kampus.
Narasumber Dwi Rohmadi Mustofa, Nurhadi Kusuma, Eri Purwanti, Muhtarom
Narasumber Dwi Rohmadi Mustofa, Nurhadi Kusuma, Eri Purwanti, Muhtarom
Selasa, 24 Desember 2019
Hari Ibu dan Esensi Pendidikan
TANGGAL 22 Desember, di Indonesia diperingati sebagai Hari
Ibu. Di banyak negara, Hari Ibu atau Hari Perempuan diperingati pada tanggal
yang berbeda-beda. Latar belakang penetapan maupun tradisi perayaan Hari Ibu di
berbagai negara juga berbeda.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia didasarkan pada Keputusan
Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959 yang ditandatangani Presiden Soekarno tanggal 16 Desember 1959. Penetapan
ini bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia. Kongres Perempuan
Indonesia pertama dilaksanakan di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928, dihadiri
30 organisasi wanita saat itu dari 12 kota di Jawa dan Sumatera.
Hari Ibu semula dimaknai sebagai perayaan terhadap semangat
kaum perempuan Indonesia dalam meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.
Apakah kini Peringatan Hari Ibu masih sejalan dengan maksud awal penetapannya?
Faktanya, Hari Ibu sekarang banyak diisi dengan penanda
simbolik maupun penyempitan makna. Banyak lembaga, kelompok, maupun perorangan
merayakan Hari Ibu dengan cara seperti mengenakan pakaian kebaya, memberi ucapan selamat kepada ibu,
membebaskan kaum perempuan dari tugas rutin domestik, atau mengajak kaum
perempuan rekreasi melepas rutinitas. Pada beberapa tempat, peringatan Hari Ibu
dirayakan dengan mengadakan berbagai perlombaan seperti merias, baca puisi,
atau memasak. Sebagian lainnya mengadakan acara seremonial dan makan bersama.
Meskipun tidak dapat dikatakan salah, fakta ini menunjukkan
ada semacam pendangkalan makna dan maksud awal ditetapkannya peringatan Hari
Ibu. Tentu kita tidak ingin fenomena ini berlarut, yang akhirnya semakin
menjauh dari makna hakiki Hari Ibu.
Hari Ibu idealnya digelorakan semangat kepahlawanan, penghormatan
atas peran, jasa, bakti, kontribusi kaum perempuan terhadap kemanusiaan maupun
terhadap bangsa dan negara. Memang, setiap individu niscaya memiliki kesan dan
cinta pada sosok ibu, yang tidak akan terbalas jasa dan cinta kasihnya. Setiap
orang pasti memiliki keinginan untuk membahagiakan ibundanya.
Madrasah Pertama
Sosok Ibu adalah orang yang pertama mengemban amanah
pendidikan bagi anak-anaknya. Pendidikan itu bahkan sejak dalam kandungan, dan
tak akan pernah akan berhenti sampai akhir hayat. Maka wajar bila kemudian ada
yang melahirkan kalimat mutiara; Ibu adalah madrasah terbaik bagi
putra-putrinya. Yang dimaksud ialah pendidikan dalam arti yang luas. Bukan
pendidikan dalam arti sempit yang dilembagakan dalam bentuk persekolahan. Bahwa
Ibu adalah pendidik yang sebenarnya, yang menentukan arah perkembangan
anak-anaknya di masa depan. Ia niscaya akan memberikan yang terbaik bagi
anak-anaknya.
Ibu adalah orang yang memiliki jasa yang tak akan
terbalaskan oleh siapapun. Ia memberi lebih dari apa yang dibutuhkan oleh
anak-anaknya. Ia yang melihat dengan mata hati, mata bathin, bukan dengan mata
lahiriah. Ia yang meberi dengan sepenuh kasih sayang, melampaui cinta daripada
siapapun.
Secara alamiah individu manusia memiliki ego, untuk
mempertahankan eksistensi dirinya. Namun, bagi ibu, ego itu terkalahkan oleh
cinta dan kasih sayangnya. Memberikan kepada anak-anaknya segenap jiwa raga.
Tentu saja ini perlu kriteria agar pendidikan itu bermakna.
Ibu yang memiliki kesadaran pentingnya pendidikan atas dasar, cinta, kasih
sayang, sekaligus dengan pengetahuan akan cara mendidik anak.
Dukungan kaum Bapak juga penting. Tidak akan sempurna suatu
rumah tangga tanpa kehadiran dan peran aktif sosok Ayah. Rumah tangga yang
rukun, harmonis, akan melengkapi proses pendidikan anak-anak mereka di dalam
rumah.
Momentum Hari Ibu selayaknya diisi dengan cara menyegarkan
kembali hakikat pendidikan, khususnya pendidikan dalam rumah tangga.
Meningkatkan lagi kesadaran akan pentingnya mengasuh anak dengan dasar
pengetahuan dan keterampilan.
Ucapan selamat, membebastugaskan ibu dari rutinitas tugas
domestik, mengajak rekreasi, tentu saja ini juga bernilai positif. Tapi kita
berharap esensi dan nilai makna Hari Ibu dapat terus lestari dan semakin
menggelora.
Apalagi, tantangan zaman juga terus berkembang. Membentuk
generasi kini, tidak dapat lagi dengan pola-pola lama, sebagaimana para
orangtua dulu dididik, dan dibina oleh orangtuanya.
Sebab, ialah yang pertama memberi sentuhan pendidikan. Sejak
dalam kandungan dilantunkan doa-doa sepanjang hari, harapan agar kelak anaknya
menjadi anak yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. Anak yang berbakti kepada
kedua orangtuanya, yang menebar manfaat bagi sesama.
Cita-cita besar kesetaraan peran dan kontribusi kaum
perempuan, penghargaan terhadap peran dan jasa kaum perempuan, tidak akan
tercapai secara efektif dan optimal apabila kaum perempuan (Ibu) tidak
menyiapkan diri secara matang sejak awal.
Anak yang hadir dalam rumah tangga, di usia emasnya (0-5 tahun)
sangat membutuhkan kasih sayang dan cinta kasih ibu, dan juga anggota keluarga
yang lain. Masa emas ini merupakan masa strategis guna menanamkan nilai-nilai spiritual,
dan dasar kehidupan yang baik serta karakter luhur.
Jadi, memperingati Hari Ibu selayaknya kaum Ibu melakukan
refleksi dan melihat dari dalam diri, sekaligus melakukan upaya-upaya dalam peran
sebagai ibu dan pendidik sejati. (*)
Sabtu, 07 Desember 2019
Peran Bahasa Arab sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Dakwah
**Syaikh Abdullah Mahmud Al-Syarif Beri Kuliah Umum di STIT Pringsewu
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu mengadakan kuliah umum dengan tema Urgensi Bahasa Arab dalam Pengembangan Pendidikan Islam, Sabtu (7/12) di aula kampus setempat. Kuliah umum oleh narasumber Syaikh Mahmud Ibnu Abdullah Ibnu Mahud Al Syarif dari Mesir ini diikuti ratusan mahasiswa dan dosen.
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu mengadakan kuliah umum dengan tema Urgensi Bahasa Arab dalam Pengembangan Pendidikan Islam, Sabtu (7/12) di aula kampus setempat. Kuliah umum oleh narasumber Syaikh Mahmud Ibnu Abdullah Ibnu Mahud Al Syarif dari Mesir ini diikuti ratusan mahasiswa dan dosen.
Syaikh Mahmud dalam paparannya mengatakan, Bahasa Arab
merupakan bahasa yang sangat penting bagi persatuan umat Islam. Selain sebagai
bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an, bahasa Arab juga penting sebagai bahasa
komunikasi antarbangsa dan ilmu pengetahuan.
Anggota Lembaga Penelitian Ekonomi Islam Universitas Al
Azhar ini mencontohkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. “Sama seperti bahasa Indonesia sebagai bahasa
pemersatu. Indonesia ini memiliki banyak bahasa daerah, bahasa Arab juga
berfungsi sebagai pemersatu bagi umat Islam,” ujarnya.
Menurut dia, bahasa Arab itu mudah dipelajari bila memiliki niat
yang baik. Sebaliknya akan dirasakan sulit bila mempelajari bahasa Arab dengan
maksud untuk tujuan negatif. Itu semua datangnya dari Allah SWT. “Jadi belajar
bahasa Arab diniatkan untuk ilmu pengetahuan dan ibadah,” imbuhnya.
Syaikh Mahmud telah banyak menulis buku dalam bidang ekonomi
Islam dan bidang bahasa Arab. Ia
menambahkan, Bahasa Arab juga memiliki banyak kosa kata, untuk
mengartikulasikan suatu ide atau pendapat. Bahasa Arab, lanjutnya, berperan
penting dalam dakwah dan pengembangan Islam.
Syaikh Mahmud juga menjelaskan beberapa kaidah dalam bahasa
Arab serta cara mepelajarinya. “Para mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi
ini adalah jenjang terakhir dalam pendidikan. Jadi belajarlah yang
sungguh-sungguh dan bertanggungjawab. Masa depan ada di pundak para mahasiswa.
Anda sudah dewasa, yang berbeda cara belajarnya dengan pelajar di jenjang
sekolah menengah,” papar pria kelahiran Palestina ini.
Sementara, Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa,
M.Pd., mengatakan, kuliah umum dengan menghadirkan dosen tamu merupakan program
akademik yang rutin dilaksanakan di kampusnya. “Kegiatan seperti ini
dimaksudkan untuk menambah wawasan mahasiswa, khususnya dalam penggunaan bahasa
Arab. Dengan menghadirkan penutur asli, tentu mahasiswa dapat memiliki
perbandingan yang nyata dalam penggunaan bahasa Arab, sehingga signifikan untuk
penguasaan bahasa Arab,” tuturnya.
Mahasiswa sangat antusias mengikuti kuliah umum yang
dimoderatori Ustadz Moh. Masrur, M.Pd.I., ini. Saat sesi tanya jawab, puluhan
mahasiswa dengan semangat mengajukan pertanyaan maupun tanggapannya. (*)
Rabu, 20 November 2019
STIT Pringsewu Adakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
CIVITAS Akademika Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT)
Pringsewu mengadakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1441 H, Sabtu
(16/11) di Aula Kampus setempat. Kegiatan yang diikuti mahasiswa, dosen, dan
staf ini menghadirkan penceramah Ustazd Muhammad Haris. Tema yang diangkat
adalah Memperkuat Aqidah Ahlussunnah wal jamaah serta persatuan dan kesatuan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam ceramahnya, Ustazd Muhammad Haris mengungkapkan, Agama
Islam memiliki ajaran yang lengkap dalam semua aspek kehidupan. Nabi Muhammad
SAW telah contoh tatacara ibadah dan amal sholeh.
“Apa yang laksanakan hari ini juga merupakan amal sholeh,
dengan memperbanyak sholawat, kalimat thoyibah, serta anjuran berbuat baik
terhadap sesama,” tuturnya.
Nabi Muhammad SAW, lanjut Haris, adalah makhluk Allah SWT yang
suci sejak sebelum dilahirkan. Bahkan Nur, Muhammad dicatat sejak zaman nabi
dan Rasul sebelumnya.
Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., dalam
sambutannya mengatakan, perayaan hari besar Islam merupakan agenda rutin di
STIT Pringsewu, termasuk Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini. Kegiatan
ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketakwaan dengan meneladani akhlaq
Rasulullah SAW.
“Ini momentum silaturahim sekaligus meningkatkan amal
sholeh, berkumpul dalam majelis ilmu, mempelajari sejarah, serta meneladani
akhlaq Rasulullah SAW,” ujarnya.
Menurut Dwi Rohmadi, mahasiswa sebagai generasi muda,
memiliki tanggung jawab besar terhadap bangsa dan negara. Mahasiswa adalah
pemilik masa depan.
Dia berharap mahasiswa hendaknya memiliki semangat belajar
(ghirah) yang tinggi, yang antara lain dengan mengikuti majelis ilmu seperti
ini. “Dengan mempelajari sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW banyak hikmah yang
dapat dipetik, untuk kehidupan yang lebih baik. Semoga kita menjadi ummat yang
senantiasa mendapat rahmat dan hidayah dari Allah SWT,” lanjutnya. (*)
Rabu, 30 Oktober 2019
Fauzi's Family Gathering di Pulau Tegal Mas
Untuk meningkatkan silaturahim dan rasa kebersamaan Keluarga Besar Yayasan Pendidikan Startect mengadakan rekreasi, pada Minggi (27 Oktober 2019). Acara gembira ini diberi tajuk Fauzi's Family Gathering di Pulau Tegal Mas. Dalam kegiatan yang diikuti lebih dari 400 orang ini, diisi dengan nyanyi bersama dan berbagai permainan.
Dr. H. Fauzi mengatakan, sebagai satu keluarga besar, kita perlu terus meningkatkan tali persaudaraan, saling membantu, dan meningkatkan produktivitas. "Inilah keluarga kita. Ayo bersama-sama kita mengisi hari dengan kegiatan positif," ujarnya.
Dr. H. Fauzi mengatakan, sebagai satu keluarga besar, kita perlu terus meningkatkan tali persaudaraan, saling membantu, dan meningkatkan produktivitas. "Inilah keluarga kita. Ayo bersama-sama kita mengisi hari dengan kegiatan positif," ujarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

































































