Sabtu, 28 November 2020

Menjadi Guru Idola Sepanjang Masa

SETIAP tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional, berbarengan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hari Guru Nasional ditetapkan tahun 1994 oleh Presiden Soeharto melalui Kepres 78 Tahun 1994.

Seremonial upacara bendera, pemasangan spanduk ucapan selamat, dan beragam apresiasi diungkapkan. Apresiasi itu berasal dari semua kalangan, baik siswa, orangtua, maupun elemen masyarakat lainnya. Para siswa sebagian memberi hadiah (kado) sebagai bentuk terima kasih atas jasa dan peran guru membimbing dan membelajarkan mereka. Meskipun mungkin nilai hadiah/kado secara material tidak terlalu besar nilainya, tetapi secara implisit hal itu memberi makna dan pesan penghormatan dan penghargaan.

Pengakuan sloganistis dideklarasikan, bahwa guru adalah sosok yang harus dihormati, digugu (dipercaya), dan ditiru (diteladani). Yang paling sering diungkapkan yakni bahwa Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu kebiasaan kita.

Apa yang diungkapkan dengan berbagai cara dan pernyataan tersebut, rasanya memang pantas dan tak berlebihan. Setiap kita bisa tumbuh dan berkembang serta menjadi pribadi yang utuh, tak lepas dari peran dan jasa guru.

Para guru yang mengajarkan kita membaca, menulis, memahami fenomena, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. Berbagai ragam kompetensi yang kita miliki saat ini, baik yang bersifat keterampilan lunak (soft-skills) maupun keterampilan keras (hard-skills) berkat pendidikan yang dilakukan oleh para guru. Apapun kapasitas kita saat ini, juga dibentuk dan dibangun atas kinerja para guru.

Momentum Hari Guru Nasional selayaknya menjadi medium merefleksikan kembali peran dan kiprah guru. Merefleksikan diri berarti melakukan perenungan yang mendalam tentang persepsi diri dan harapan masyarakat. Merenungkan kembali apakah yang sudah dilakukan semakin mendekati idealitas dengan figur sebagai guru.

Menjadi guru bukan sekadar membelajarkan, mengajar dalam kelas. Peran guru bukan hanya mentransfer pengetahuan atau mengajarkan keterampilan tertentu. Guru tak hanya “memintarkan” siswa, tetapi harus menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi budaya bangsa.

Fenomena dan problematika guru dan pendidikan di Indonesia memang tidak satu dimensi, tetapi multidimensi. Hal ini terkait dengan faktor mutu, sistem, praktik, ekosistem, kebijakan, akses, motivasi, persebaran guru dan pendidik, penyediaan sarana dan prasarana, dan sebagainya. Sebagai contoh adalah keberadaan guru honorer. Dari sisi jumlah, sangat banyak bahkan secara rasio seimbang dengan jumlah peserta didik, tetapi di sisi lain faktor tunjangan dan kompensasi yang diterima guru honor seringkali dinilai kurang layak. 

Intervensi pemerintah dan pemangku kepentingan tentu diperlukan untuk mengurai benang kusut praktik pendidikan di Tanah Air. Tulisan ini menyoroti dari aspek mikro peran guru dalam pendidikan, khususnya sosok guru yang diharapkan.   

Pendidikan karakter

Nilai-nilai luhur yang ditanamkan kepada peserta didik saat ini dikenal dengan istilah Pendidikan Karakter. Nilai-nilai baik itu antara lain bertanggung jawab, toleransi, cinta lingkungan, semangat belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Esensi nilai-nilai itulah yang menjadi landasan budaya bangsa dan pembangunan peradaban manusia Indonesia.

Dengan pendidikan karakter, diharapkan nantinya terbentuk generasi yang beriman, dan bertakwa, sekaligus cerdas, dan adaptif terhadap setiap tantangan zaman. Generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama, keterpanggilan dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara.

Bagaimana menanamkan nilai-nilai luhur tersebut dalam diri peserta didik, yang tidak hanya transfer pengetahuan, tentu menjadi tuntutan dan tantangan profesi guru dan pendidikan.

Sepenuh hati

Melakoni profesi sebagai guru perlu dilandasi dengan sikap dan kemampuan profesional. Artinya bahwa guru memiliki kompetensi pedagogik. Ia memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang ilmu mendidik (pedagogik), memiliki latarbelakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugas, dan secara berkelanjutan mengembangkan keterampilan profesionalnya.

Guru profesional antara lain juga dicirikan dengan kompetensi sosial. Hal ini berarti bahwa guru perlu bergabung dalam wadah organisasi profesi dan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial di lingkungannya. Pengembangan diri guru dapat dilakukan baik melalui jalur formal maupun informal.

Guru profesional juga ditunjukkan dengan kompetensi kepribadian. Kompetensi ini mengindikasikan pentingnya sikap dan tindakan guru yang menjadi contoh bagi masyarakat. Menjadi guru tidak hanya di sekolah atau kampus, tetapi ia juga harus patut menjadi contoh baik bagi semua elemen masyarakat.

 Di atas semua itu, dalam hemat penulis, menjadi guru harus merupakan panggilan jiwa untuk mengabdi kepada kemanusian dan peradaban. Menjadi guru merupakan perwujudan impiannya sejak dini. Maknanya adalah bahwa  menjadi guru sepenuh hati, menghibahkan diri dan segenap jiwa-raganya bagi kemanfaatan orang lain. Menjadi lilin yang menerangi sekitarnya. Kemanusian merupakan nilai-nilai universal, yang menerobos sekat-sekat suku, ras, dan latar-belakang sosial.

Dalam tataran praktis, guru harus sudah selesai dengan  dirinya sendiri. Ia tidak akan mengeluh perihal tantangan yang bakal dihadapi dalam tugasnya. Justru setiap tantangan dan hambatan itu akan menjadi inspirasi dan motivasi untuk berperan lebih dan menjadi lebih baik lagi. Ia akan selalu menemukan solusi atas setiap masalah dan mampu mengantisipasi potensi masalah.

Ia akan membangun sikap diri gembira, bahagia, dan menebar manfaat bagi orang lain. Kebanggaan guru seperti ini, yakni saat anak-anak didiknya mampu berkembang melampaui batas ruang dan waktu. Anak didiknya itu tidak terbatas pada siswa yang dia ajarkan di kelas, tetapi setiap pelajar yang menunjukkan prestasi melampui generasi sebelumnya.

Guru yang sepenuh hati menunjukkan kebahagiaan yang hakiki. Guru yang melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan motivasi memberi manfaat bagi sesama.

 Unik dan Kualitatif

Keberhasilan pendidikan bukan sekadar ditampilkan dalam diagram statistik dan kuantitatif. Prestasi keberhasilan pendidikan yang sejati dapat ditunjukkan secara kualitatif. Perubahan sikap dan perilaku siswa dalam pergaulan sosial menjadi lebih penting, tak hanya prestasi akademik.  

Setiap siswa adalah khas dan unik. Oleh karena itu menjadi guru juga perlu menguasai seni mendidik. Memperlakukan setiap siswa berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Mengasuh dengan cara membimbing, sekaligus mengasah kecerdasan siswanya, dan pada saat yang bersamaan dengan penuh cinta kasih memberikan motivasi untuk maju.

Guru harus preskriptif dan berpikir futuristik, dan mampu memotret situasi masa depan. Genersi kini adalah generasi digital dan memiliki keunikan tersendiri dalam gaya belajar. Guru harus mampu menyiapkan generasi penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Menyiapkan sumber daya insani yang akan mengisi pembangunan, pemajuan, dan pencapaian peradaban yang lebih baik.

Saat ini, menjadi guru tidak bisa hanya mengajar, sebagaimana dulu dia diajar oleh para guru terdahulu. Tetapi ia perlu mengembangkan potensi diri dan kapasitas secara berkelanjutan.

Menjadi guru ideal berarti guru yang merdeka dalam cara berpikir dan memerdekakan siswa dari belenggu kebodohan. Guru yang tidak terikat kaku pada birokrasi yang mengkungkung, namun patuh dan taat asas dalam melaksanakan tugasnya. Sejalan dengan kebijakan pemerintah Merdeka Belajar, yang diturunkan dalam Sekolah Merdeka dan Kampus Merdeka. Selamat Hari Guru Nasional 2020. (*)

Selasa, 13 Oktober 2020

Melihat cantiknya taman bunga di Pekalongan, Lampung Timur

Dwi Rohmadi Mustofa
DI MASA pandemi nCovid-19 banyak orang menyalurkan hoby dengan menanam bunga. Tak pelak, berbagai jenis bunga kini "naik daun", karena banyak diminati. Penggemar bunga tidak hanya kaum hawa, tetapi juga kaum Adam dari berbagai tingkat usia. 
Melihat cantiknya taman bunga di Pekalongan, Lampung Timur










Selasa, 29 September 2020

PEMBEKALAN KKN BAGI MAHASISWA STIT PRINGSEWU

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan program wajib bagi mahasiswa STIT Pringsewu. Kegiatan yang merupakan perpaduan antara pengabdian dan pembelajaran ini dimaksudkan mengasah keterampilan mahasiswa dalam bidang pendidikannya sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat dan pemerintah. 




 

Jumat, 07 Agustus 2020

Persiapan Wisuda STIT Pringsewu Tahun 2020

Pimpinan dan dosen serta staf STIT Pringsewu, Selasa, 04 Agustus 2020 melakukan rapat persiapan prosesi wisuda tahun 2020. Prosesi wisuda bagi lulusan tahun ini berbeda dengan sebelumnya, mengingat saat ini masih dalam masa transisi penerapan adaptasi kebiasaan baru terkait pencegahan penularan dan penyebaran virus corona (nCovid-19) yang telah menjadi pandemi.
Berbagai persiapan dan koordinasi penting dilakukan dengan pihak terkait, serta perlengkapan wisuda untuk memenuhi standar penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.


Minggu, 02 Agustus 2020

PEMOTONGAN HEWAN QURBAN DI STIT PRINGSEWU




Keluarga besar Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu melaksanakan ibadah penyembelihan hewan qurban pada Idul Adha 1441 Hijriyah kali ini, di halaman kampus setempat.  Hewan qurban yang dipotong yaitu satu ekor sapi dan satu ekor kambing. Segenap civitas akademika turut hadir menyaksikan acara ini sekaligus silaturahmi dan ramah tamah.