Seminar Permuseuman yang diselenggarakan oleh Museum Ketransmigrasian Provinsi Lampung di Gedongtataan, Pesawaran, 24 November 2021.
Dedikasi dalam pendidikan, pembelajaran, persekolahan, teknologi, dan ilmu pengetahuan untuk kemajuan peradaban ummat manusia. Segala sesuatu yang besar, dimulai dari hal-hal yang kecil.
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 November 2021
Mahasiswa STIT Pringsewu Kunjungan ke Museum Lampung
Dwi Rohmadi
11 November 2021
Pembelajaran bermakna, menghargai sejarah, menjunjung tinggi khazanah budaya bangsa.
Senin, 07 Juni 2021
Jumat, 21 Februari 2020
Aktivitas STIT Pringsewu
Galeri Foto Aktivitas STIT Pringsewu
Kunjungan Industri (Field-trip) ke Yogyakarta dan Bandung, 16 - 21 Februari 2020
Kunjungan Industri (Field-trip) ke MAN 2 Yogyakarta
Kunjungan Industri (Field-trip) ke Yogyakarta dan Bandung, 16 - 21 Februari 2020
Kunjungan Industri (Field-trip) ke MAN 2 Yogyakarta
Selasa, 24 Desember 2019
Hari Ibu dan Esensi Pendidikan
TANGGAL 22 Desember, di Indonesia diperingati sebagai Hari
Ibu. Di banyak negara, Hari Ibu atau Hari Perempuan diperingati pada tanggal
yang berbeda-beda. Latar belakang penetapan maupun tradisi perayaan Hari Ibu di
berbagai negara juga berbeda.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia didasarkan pada Keputusan
Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959 yang ditandatangani Presiden Soekarno tanggal 16 Desember 1959. Penetapan
ini bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia. Kongres Perempuan
Indonesia pertama dilaksanakan di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928, dihadiri
30 organisasi wanita saat itu dari 12 kota di Jawa dan Sumatera.
Hari Ibu semula dimaknai sebagai perayaan terhadap semangat
kaum perempuan Indonesia dalam meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.
Apakah kini Peringatan Hari Ibu masih sejalan dengan maksud awal penetapannya?
Faktanya, Hari Ibu sekarang banyak diisi dengan penanda
simbolik maupun penyempitan makna. Banyak lembaga, kelompok, maupun perorangan
merayakan Hari Ibu dengan cara seperti mengenakan pakaian kebaya, memberi ucapan selamat kepada ibu,
membebaskan kaum perempuan dari tugas rutin domestik, atau mengajak kaum
perempuan rekreasi melepas rutinitas. Pada beberapa tempat, peringatan Hari Ibu
dirayakan dengan mengadakan berbagai perlombaan seperti merias, baca puisi,
atau memasak. Sebagian lainnya mengadakan acara seremonial dan makan bersama.
Meskipun tidak dapat dikatakan salah, fakta ini menunjukkan
ada semacam pendangkalan makna dan maksud awal ditetapkannya peringatan Hari
Ibu. Tentu kita tidak ingin fenomena ini berlarut, yang akhirnya semakin
menjauh dari makna hakiki Hari Ibu.
Hari Ibu idealnya digelorakan semangat kepahlawanan, penghormatan
atas peran, jasa, bakti, kontribusi kaum perempuan terhadap kemanusiaan maupun
terhadap bangsa dan negara. Memang, setiap individu niscaya memiliki kesan dan
cinta pada sosok ibu, yang tidak akan terbalas jasa dan cinta kasihnya. Setiap
orang pasti memiliki keinginan untuk membahagiakan ibundanya.
Madrasah Pertama
Sosok Ibu adalah orang yang pertama mengemban amanah
pendidikan bagi anak-anaknya. Pendidikan itu bahkan sejak dalam kandungan, dan
tak akan pernah akan berhenti sampai akhir hayat. Maka wajar bila kemudian ada
yang melahirkan kalimat mutiara; Ibu adalah madrasah terbaik bagi
putra-putrinya. Yang dimaksud ialah pendidikan dalam arti yang luas. Bukan
pendidikan dalam arti sempit yang dilembagakan dalam bentuk persekolahan. Bahwa
Ibu adalah pendidik yang sebenarnya, yang menentukan arah perkembangan
anak-anaknya di masa depan. Ia niscaya akan memberikan yang terbaik bagi
anak-anaknya.
Ibu adalah orang yang memiliki jasa yang tak akan
terbalaskan oleh siapapun. Ia memberi lebih dari apa yang dibutuhkan oleh
anak-anaknya. Ia yang melihat dengan mata hati, mata bathin, bukan dengan mata
lahiriah. Ia yang meberi dengan sepenuh kasih sayang, melampaui cinta daripada
siapapun.
Secara alamiah individu manusia memiliki ego, untuk
mempertahankan eksistensi dirinya. Namun, bagi ibu, ego itu terkalahkan oleh
cinta dan kasih sayangnya. Memberikan kepada anak-anaknya segenap jiwa raga.
Tentu saja ini perlu kriteria agar pendidikan itu bermakna.
Ibu yang memiliki kesadaran pentingnya pendidikan atas dasar, cinta, kasih
sayang, sekaligus dengan pengetahuan akan cara mendidik anak.
Dukungan kaum Bapak juga penting. Tidak akan sempurna suatu
rumah tangga tanpa kehadiran dan peran aktif sosok Ayah. Rumah tangga yang
rukun, harmonis, akan melengkapi proses pendidikan anak-anak mereka di dalam
rumah.
Momentum Hari Ibu selayaknya diisi dengan cara menyegarkan
kembali hakikat pendidikan, khususnya pendidikan dalam rumah tangga.
Meningkatkan lagi kesadaran akan pentingnya mengasuh anak dengan dasar
pengetahuan dan keterampilan.
Ucapan selamat, membebastugaskan ibu dari rutinitas tugas
domestik, mengajak rekreasi, tentu saja ini juga bernilai positif. Tapi kita
berharap esensi dan nilai makna Hari Ibu dapat terus lestari dan semakin
menggelora.
Apalagi, tantangan zaman juga terus berkembang. Membentuk
generasi kini, tidak dapat lagi dengan pola-pola lama, sebagaimana para
orangtua dulu dididik, dan dibina oleh orangtuanya.
Sebab, ialah yang pertama memberi sentuhan pendidikan. Sejak
dalam kandungan dilantunkan doa-doa sepanjang hari, harapan agar kelak anaknya
menjadi anak yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. Anak yang berbakti kepada
kedua orangtuanya, yang menebar manfaat bagi sesama.
Cita-cita besar kesetaraan peran dan kontribusi kaum
perempuan, penghargaan terhadap peran dan jasa kaum perempuan, tidak akan
tercapai secara efektif dan optimal apabila kaum perempuan (Ibu) tidak
menyiapkan diri secara matang sejak awal.
Anak yang hadir dalam rumah tangga, di usia emasnya (0-5 tahun)
sangat membutuhkan kasih sayang dan cinta kasih ibu, dan juga anggota keluarga
yang lain. Masa emas ini merupakan masa strategis guna menanamkan nilai-nilai spiritual,
dan dasar kehidupan yang baik serta karakter luhur.
Jadi, memperingati Hari Ibu selayaknya kaum Ibu melakukan
refleksi dan melihat dari dalam diri, sekaligus melakukan upaya-upaya dalam peran
sebagai ibu dan pendidik sejati. (*)
Selasa, 08 Mei 2018
Bentengi Generasi Muda dari Pengaruh Ideologi Radikal
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu menggelar Seminar
Kebangsaan bertajuk “Memperkuat Nasionalisme di Tengah Perubahan Global”
yang berlangsung di Aula kampus setempat, Kamis (26/4/2018) siang.
Seminar Kebangsaan yang dimoderatori oleh Muhammad Masrur, M.Pd.I ini menghadirkan lima narasumber yaitu Komandan Kodim 0424 Tanggamus Letkol Arh. Anang Hasto Utomo, S.IP; Kepala Biro Operasi Polda Lampung Kombes Pol. Yosi Hariyoso; Mantan Komandan NII Ken Setiawan; Kepala Kesbangpol Kabupaten Pringsewu Sukarman, S.Pd dan Akademisi STIT Pringsewu Hi. Salamun Mohammad Abror, M.Pd.I.
Seminar Kebangsaan yang dimoderatori oleh Muhammad Masrur, M.Pd.I ini menghadirkan lima narasumber yaitu Komandan Kodim 0424 Tanggamus Letkol Arh. Anang Hasto Utomo, S.IP; Kepala Biro Operasi Polda Lampung Kombes Pol. Yosi Hariyoso; Mantan Komandan NII Ken Setiawan; Kepala Kesbangpol Kabupaten Pringsewu Sukarman, S.Pd dan Akademisi STIT Pringsewu Hi. Salamun Mohammad Abror, M.Pd.I.
Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa,
M.Pd mengungkapkan, bahwa penguatan wawasan kebangsaan memerlukan peran
seluruh komponen bangsa dan tidak terkecuali peran seluruh perguruan
tinggi. STIT Pringsewu sebagai perguruan tinggi di Lampung, juga
memiliki tanggungjawab turut serta dalam upaya penguatan wawasan
kebangsaan.
Lebih lanjut, Dwi Rohmadi mengatakan, dalam rangka mencegah sikap radikal yang negatif, STIT Pringsewu menyelenggarakan seminar kebangsaan ini sebagai implementasi tridarma perguruan tinggi.
Pria yang juga Sekretaris PWLP Ma'arif NU Lampung ini menambahkan, penguatan wawasan kebangsaan merupakan strategi yang harus dilakukan dalam rangka mencegah paham radikalisme yang mengarah ke aksi destruktif. Wawasan kebangsaan akan memperkuat jatidiri bangsa dengan falsafah Pancasila di tengah-tengah masyarakat sebagai modal sosial dan kultural mencegah paham radikal dan menyimpang dari nilai-nilai luhur budaya bangsa (Muhammad Idris)
Lebih lanjut, Dwi Rohmadi mengatakan, dalam rangka mencegah sikap radikal yang negatif, STIT Pringsewu menyelenggarakan seminar kebangsaan ini sebagai implementasi tridarma perguruan tinggi.
Pria yang juga Sekretaris PWLP Ma'arif NU Lampung ini menambahkan, penguatan wawasan kebangsaan merupakan strategi yang harus dilakukan dalam rangka mencegah paham radikalisme yang mengarah ke aksi destruktif. Wawasan kebangsaan akan memperkuat jatidiri bangsa dengan falsafah Pancasila di tengah-tengah masyarakat sebagai modal sosial dan kultural mencegah paham radikal dan menyimpang dari nilai-nilai luhur budaya bangsa (Muhammad Idris)
Sabtu, 25 November 2017
Menjadi Guru di Era Milenial
TIAP masa, ada
orangnya. Tiap orang, ada masanya.
Dua kalimat yang bersifat jargon tersebut
sangat terkenal di kalangan politisi. Kalimat pertama diartikan, setiap era ada
orang-orang yang memainkan peran penting dalam berbagai sektor kehidupan. Contohnya, era sebelum kemerdekaan,
ada para pejuang yang merebut kemerdekaan bangsa ini. Disusul kemudian era Orde
Lama, Orde Baru, dan kini era reformasi. Di setiap era itu ada tokoh-tokoh
sentral yang dicatat dalam sejarah.
Kalimat kedua antara lain diartikan bahwa jabatan atau peran
seseorang itu ada batas waktunya, ada akhirnya. Tidak ada jabatan yang abadi. Seseorang
yang kini menduduki posisi tertentu, nantinya akan digantikan oleh generasi
berikutnya. Yang pegawai atau karyawan, akan berakhir masa pengabdiannya dan pensiun.
Hukum alam berlaku di sini.
Dari semua itu artinya bahwa setiap era memiliki tuntutan
dan tantangan yang berbeda, peluang yang berbeda, dan tingkat kompetisi yang berbeda. Pencapaian setiap orang juga berbeda, bahkan dengan
jerih payah yang sama sekalipun. Namun demikian, secara kodrati yang terpenting
bagi kita adalah seberapa besar daya upaya meraih prestasi, mencermati
peluang-peluang, terus bekarya, dan mengisinya dengan kiprah yang bermanfaat
bagi banyak orang. Kalimat Tiap masa, ada
orangnya. Tiap orang, ada masanya, hendaknyanya menjadi motivasi, bukan
malah bersikap apatis dan pesimis.
Pengaruh Teknologi
Zaman terus berubah. Terjadi dinamika dan perkembangan di
bidang ekonomi, politik, sosial, dan teknologi dan semua aspek kehidupan. Perubahan-perubahan
itu terasa begitu cepat. Hampir setiap bulan muncul teknologi baru baik berupa
perangkat keras maupun perangkat lunak.
Anak-anak muda sekarang dikenal sebagai generasi milenial. Meskipun
tidak ada batasan waktu yang pasti, tetapi generasi milenial dicirikan dengan meningkatnya
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dan teknologi digital. Di
beberapa wilayah ditandai dengan munculnya sikap liberalisasi terhadap politik
dan ekonomi.
Diakui memang belum ada kajian mendalam dan komprehensif dampak
liberalisasi politik dan ekonomi, tetapi ada kekhawatiran terhadap ekses meningkatnya
jumlah pengangguran dan krisis sosial ekonomi yang dalam jangka panjang merusak
generasi muda. Kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat perubahan-perubahan yang terjadi sedemikian cepat. Dalam teknologi disebut sebagai era konvergensi.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah
menggantikan tugas dan peran sekian banyak pekerja. Karyawan yang selama ini melakukan
tugas secara manual, harus terpinggirkan karena perannya digantikan oleh alat
dan teknologi.
Mesin dan teknologi menggantikan peran manusia dalam proses
produksi dan distribusi barang. Di pabrik perakitan otomotif, di pabrik rokok,
pengolahan daging, pembuatan minuman, dan sebagainya semuanya kini padat
teknologi.
Bahkan kini manusia sangat tergantung pada teknologi. Untuk berbelanja,
hiburan, memesan transportasi umum, melakukan transaksi, semuanya dapat
dilakukan dengan aplikasi secara online.
Dampak teknologi informasi dan komunikasi telah menggerus
banyak profesi yang dulu berperan penting dan primadona bagi generasi muda.
Pengantar surat (pos) digantikan email dan berbagai aplikasi komunikasi, aktivitas
berbelanja di pasar tradisional bergeser ke pasar modern (mall) dan kini ada
kecenderungan meningkat berbelanja secara online.
Sektor ekonomi kreatif kini mulai bangkit dan diharapkan
menjadi penopang pekerjaan dan profesi di masa depan. Ekonomi kreatif yang
antara lain berbasis pemanfaatan teknologi. Jika dahulu banyak anak-anak muda yang bermimpi menjadi pegawai negeri, tampaknya kini sudah banyak mengalami pergeseran. Persepsi kalangan muda untuk memasuki suatu profesi semakin bervariasi.
Memang harus diakui bahwa teknologi dapat berdampak positif
dan negatif, sangat tergantung pada tujuan penggunaannya. Teknologi sejatinya
diciptakan dan dikembangkan untuk membantu memudahkan pekerjaan manusia, bukan menggantikan eksistensi manusia.
Belakangan berkembang meluasnya informasi yang dianggap hoax
atau berita bohong, sehingga pemerintah dan elemen masyarakat lain menabuh
genderang perang terhadap hoax. Turn Back Hoax.
Lihatlah sekarang, anak-anak sedemikian cepat menerima
informasi dan memberikan reaksi secara bebas terhadap suatu peristiwa. Melalui
media sosial setiap orang dapat memerankan diri sebagai reporter sekaligus
sebagai penikmat informasi dan secara aktif dapat berinteraksi secara realtime. Dalam hitungan menit, gambar-gambar
lucu (meme) dan video-video kreatif merespon suatu peristiwa. Yang terbaru
misalnya, terhadap peristiwa kecelakaan tunggal ketua DPR Setya Novanto. Saat
hari menjelang petang itu Setya Novanto dikabarkan akan menyerahkan diri ke
KPK, tetapi dalam perjalanan mengalami kecelakaan tunggal menabrak tiang
listrik. Dalam hitungan jam hampir semua platform media sosial dibanjiri komentar
disertai gambar-gambar kreasi yang beragam, yang kontennya bernada nyinyir.
Peran Guru
Dalam kaitan peran dan profesi guru, jargon Tiap masa, ada orangnya. Tiap orang, ada
masanya tersebut juga berlaku. Tantangan dan tuntutan atas profesi guru di
abad 21 juga semakin banyak. Menjadi
guru bukan pekerjaan mudah. Apalagi di era milenial ini. Ia dituntut memainkan
peran di lingkup sekolah dan juga di lingkungan masyarakat.
Dalam konsep sosiologis, guru di sekolah dituntut menjadi
mitra belajar siswa di kelas, melaksanakan tugas-tugas administrasi pendidikan
yang dilakukannya, melakukan evaluasi dan memotivasi siswa, serta memacu
kreativitas siswa. Sebagai pribadi yang menjadi anggota masyarakat guru sekaligus
diharapkan menjadi penyelesai masalah di masyarakat.
Kebebasan menggunakan tekonologi inforasi dan komunikasi di
kalangan generasi muda juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sebab
seharusnya teknologi dapat menjadi media pembelajaran yang efektif, memudahkan
dan mempercepat terbangunnya ekonomi yang mensejahterakan dan berkeadilan.
Bagi guru kini dituntut selangkah lebih maju dalam kemampuan
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga ia dapat melaksanakan
pembelajaran dengan efektif dan kreatif. Akan menjadi dilema saat guru belum
menguasai teknologi informasi, sementara siswa sudah sangat akrab dengan
teknologi itu. Guru diharapkan mampu menjadi filter derasnya arus informasi
yang bermuatan nilai-nilai negative bagi perkembangan pribadi siswa.
Hal ini berarti bahwa guru harus sudah selesai dengan
“urusan domestik”, sehingga dapat berkonsentrasi dalam tugas-tugas
pembelajaran. Apagi dengan diterapkannya kebijakan Penguatan Pendidikan
Karakter (PPK) berdasarkan Kepres Nomor 87 Tahun 2017, yang di dalamnya diatur
tentang penanaman nilai-nilai luhur yang menjadi karakter bangsa dikaitkan
dengan seluruh proses dan jalur pendidikan.
Peran guru yang tidak tergantikan oleh teknologi informasi
dan komunikasi harus menjadi penyemangat para pendidik untuk terus meng-up grade pengetahuan dan berbagai
kompetensi yang wajib dimiliki. (*)
Kamis, 02 Juli 2015
Gubernur Termuda. So what?
TANGGAL
2 Juni 2015 tepat setahun M. Ridho Ficardo menjabat sebagai Gubernur Lampung
bersama Bakhtiar Basri sebagai Wakil Gubernur. Satu tahun kepemimpinan gubernur
termuda ini layak dijadikan sebagai momentum untuk merefleksikan apa yang sudah
dilakukan dan seberapa jauh dampak dan pengaruhnya terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
Satu
tahun pertama masa jabatan merupakan periode yang akan menentukan keyakinan
masyarakat akan kinerja gubernur beserta jajarannya.
Saat
dilantik pada 2 Juni 2014, banyak harapan masyarakat Lampung digantungkan di
pundak Ridho dan Bakhtiar. Maklumlah, ini karena “darah muda” dan segar, pasca
rezim pemerintahan sebelumnya di bawah Sjachroedin sebagai gubernur yang
menjabat selama dua periode masa jabatan.
Berbagai
sanjungan mengemuka saat Ridho dilantik sebagai gubernur. Sebutan sebagai
gubernur termuda, bahkan menggemakan suara, sebagai gubernur termuda se-Asia.
Tapi
Ridho tak larut dalam pujian dan sanjungan. Hal itu malah dijadikan sebagai
kekuatan pemicu untuk terus mengabdi dan berkarya untuk Lampung.
Yang
sering disampaikan oleh Ridho dalam banyak kesempatan, kalau memang muda,
lantas apa? Muda usia yang penting adalah perannya terhadap kemajuan masyarakat
dan daerah Lampung. Muda kalau tidak turut berpartisipasi dalam pembangunan,
tidak ada artinya. Hal ini sangat disadari oleh Ridho. “Lha kalau gubernur
termuda, so what,” ucapnya seraya tersenyum.
Saat
ini, setahun gubernur termuda memimpin Lampung, saat tepat mengajukan “gugatan”
dan berbagai pertanyaan, sudahkan dia memenuhi janji-janji kampanyenya? Saat
kampanye, perbaikan infrastruktur dan pertanian menjadi prioritas program yang
diusung Ridho bersama Bakhtiar. Tentu saja, tidak mengabaikan sektor lainnya, industri
dan perdagangan, pendidikan, kesehatan, sosial keagamaan, dan sebagainya.
Kita
tahu, di awal masa jabatan, kondisi infrastruktur khususnya jalan, di Lampung,
rusak parah. Faktanya, akses jalan, baik jalan negara, jalan provinsi, maupun
jalan kabupaten, banyak yang tidak layak. Tak terhitung lagi keluhan masyarakat
disampaikan melalui berbagai media dan saluran.
Menanggapi
kondisi dan keluhan masyarakat itu, respon Ridho sejalan dengan program
prioritas yang diusung saat kampanye, memberi “angin surga” bagi perbaikan prasarana
dan sarana jalan. Megaproyek Kotabaru di Jatimulyo, Lampung Selatan ditunda
pembangunannya. Dasarnya adalah kebijakan pemerintah pusat untuk moratorium
pembangunan gedung perkantoran pemerintahan. Alasan yang dikemukakan selain
keterbatasan anggaran, dan anggaran yang ada akan dioptimalkan untuk perbaikan
infrastruktur jalan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Tapi
faktanya, hingga kini perbaikan jalan belum juga dilakukan secara massif dan
signifikan.
Di
awal masa jabatannya, Ridho pernah meninjau lokasi kerusakan Jalan Ir. Sutami. Ruas
jalan ini adalah salah satu contoh, sekali lagi, salah satu contoh, buruknya
jalan di Lampung.
Ruas
Jalan Ir. Sutami yang menghubungkan Bandarlampung dengan Kabupaten Lampung
Timur melintasi Kabupaten Lampung Selatan. Kondisi jalan itu rusak parah.
Kubangan sedalam sekitar 50 centimeter bahkan lebih, bertebaran di mana-mana,
di badan jalan! Saat warga Lampung Timur sakit dan harus dirujuk ke rumah sakit
di Bandarlampung, kendaraan yang membawa pasien tidak bisa melaju cepat, agar
pasien segera mendapat pertolongan di rumah sakit yang memiliki fasilitas
memadai. Ironis.
Dalam
keadaan normal, ruas Jalan Ir Sutami dari Panjang (Bandarlampung) hingga
Sribhawono (Lampung Timur) sepanjang sekitar 60 kilometer, bisa ditempuh dengan
kendaraan selama sekitar satu jam. Kini, harus ditempuh empat jam! Naif.
Kondisi
kerusakan jalan tersebut hanyalah salah satu contoh, buruknya infrastruktur
jalan di Lampung. Di kabupaten lainnya, kondisi serupa banyak ditemukan. Kerusakan jalan itu berlangsung
bertahun-tahun. Adanya perbaikan tambal sulam sangat tidak signifikan dibanding
kerusakan badan jalan.
Buruknya
infrastruktur jalan menunjukkan “wajah asli” kondisi kekinian, yang bisa
menjadi indikator buruknya sektor lainnya. Iklim investasi, sosial budaya, lingkungan
hidup, dan pelayanan publik lainnya bisa dipastikan tidak jauh berbeda dengan
kondisi jalan yang bopeng.
Potret
buram wajah infrastruktur jalan di Lampung dapat dijadikan tolak ukur sejauh
mana kinerja jajaran Pemerintahan Provinsi Lampung.
Jalanan
yang rusak berimbas pada terhambatnya distribusi barang, beratnya akses hasil
pertanian, lambatnya pelayanan jasa, mandeknya pariwisata, buruknya akses
informasi dan susahnya generasi muda mendapat pendidikan. Semua permasalahan
itu bermuara pada penilaian kinerja gubernur dan jajarannya.
Saat
ini, waktu yang tepat pula untuk memberikan masukan, kritik, dan saran
konstruktif. Pemimpin yang matang, akan senantiasan mendengar kritik sepedas
apapun itu dan dari manapun itu berasal. Saat ini dapat diibaratkan sebagai
entri pint untuk mengetahui efektivitas birokrasi dalam mewujudkan pelayanan
publik, pengembangan sumberdaya manusia, dan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintahan
dapat diibaratkan sebagai entitas pelayanan, khususnya pelayanan publik. Sebab,
pelayanan yang sifatnya nonpublik bisa diselenggarakan oleh masyarakat. Apresiasi
patut diberikan jika apa yang diberikan melebihi apa yang diharapkan oleh
pengguna jasa layanannya, dalam hal ini masyarakat. Kalau pelayanan yang
diberikan oleh Pemerintah Provinsi Lampung di bawah “dirigen” Gubernur Ridho
Ficardo kepada masyarakat Lampung masih belum bisa melebihi harapan, rasanya
berat dan tidak banyak yang ringan untuk memberikan acungan jempol. Empat tahun
ke depan, menjadi ajang pembuktian bahwa gubernur muda tidak sekadar muda,
tetapi juga mampu mengelola pemerintahan dengan baik, membina birokrasi,
mengayomi masyarakat, dan mengembangkan kehidupan sosial yang harmonis. Visi
Lampung maju dan sejahtera bukan hal mustahil. (*)
Artikel ini dimuat di Harian Trans Lampung, Edisi Senin, 3 Juni 2015
Senin, 01 Juli 2013
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN
Suka atau tidak, kita sangat bergantung kepada alam. Dalam konsep ilmu, alam sering disepadankan dengan lingkungan. Harus diakui bahwa hubungan
manusia dengan lingkungannya merupakan keniscayaan yang menjamin
keberlangsungan hidup umat manusia. Hubungan manusia dengan alam harus dijaga keseimbangannya.
Lingkungan
adalah semua faktor, fisik dan biologis yang secara langsung berpengaruh
terhadap ketahanan hidup, pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi organisme.
Lingkungan hidup adalah
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di
dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan fisik
meliputi benda dan daya, lingkungan biologi meliputi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan,
lingkungan sosial meliputi manusia dan prilakunya dan lingkungan institusional
meliputi lembaga-lembaga yang dibentuk masyarakat. Manusia hanya salah satu
unsur dalam lingkungan hidup, tetapi perilakunya akan mempengaruhi kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Makhluk hidup
yang lain termasuk binatang tidaklah merusak, mencemari, atau menguras
lingkungan.
Manusia hanya dapat hidup dan melanjutkan kehidupannya
karena adanya tumbuhan, makhluk hidup yang lain, dan jasad perombak. Sebaliknya
alam dengan tumbuhan, makhluk hidup lain, dan jasad perombak dapat hidup terus
tanpa adanya manusia, bahkan mungkin akan lebih kekal, karena dapat diduga manusia
yang melakukan perusakan lingkungan.
Dari paparan tersebut, manusia seharusnya berusaha
dengan segala daya dan dana agar lingkungan yang sehat dan serasi tetap
terpelihara bahkan meningkat menjadi lebih baik dan lebih indah. Kerusakan
sudah terjadi, hendaknya segera diperbaiki sebelum keadaan bertambah parah.
Salah satu upayanya adalah pemaksaan dan imbauan kepada masyarakat agar
menjaga, memlihara lingkungan yang baik dan sehat, serta lestari. Untuk itu
diperlukan penciptaan perangkat peraturan hukum yang baik dan lengkap, disertai
penerapan dan penegakkan yang baik dengan aparat penegak yang cakap, jujur, dan
mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan diri atau golongannya.
Mengutamakan kenikmatan di masa depan daripada kenikmatan sesaat di masa kini.
CATATAN-CATATAN LEPAS
I.
Dahulu dikenal konsep ketenagakerjaan, kemudian personalia, dan belakangan ini dikenal dengan Manajemen Sumber Daya Manusia. Konsep-konsep tersebut jika ditelisik mendalam merujuk pada esensi pendidikan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini mengenal istilah "human capital", entah apa padanan kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Apapun istilahnya, sebenarnya itu menjelaskan pentingnya "memanusiakan manusia". Manajemen dan pengembangan sumber daya manusia bukan semata-mata menyediakan tenaga kerja terampil dan ahli untuk memenuhi tuntutan-tuntutan pembangunan, tetapi lebih dari itu sebenarnya untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan.
II.Kampus adalah tempat mengkancah kebudayaan dan peradaban yang lebih baik. Kampus bukan semata-mata tempat belajar anak-anak muda dan setelah lulus mencari kerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri. Hakikatnya, kampus merupakan pusat pengembangan pengetahuan. Implementasi dari visi tersebut melalui kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.
III.
Coba dilakukan survei kecil-kecilan terkait kendaraan yang dipasangi stiker militer, polisi, marinir, klub menembak, grup pemburu, pasukan khusus, lembaga hukum, dan sebagainya. Berapa persen yang benar-benar dimiliki oleh orang yang benar berafiliasi dengan kelompok yg tertera di stiker tersebut?
(galau dengan gaya pengendara yang zig-zag, ngebut, buang sampah sembarangan, dan tak menghargai penguna jalan yang lain)
IV.
Dan bahkan sejak lahir, manusia mempunyai rasa malu. Itulah fitrah manusia. Rasa malu itulah yang menjaga moral dan perbuatannya. Psikologi mengajarkan, rasa malu dapat menjadi salah satu alat untuk mengukur kadar gila seseorang. Orang gila yang sudah tidak malu lagi, misalnya tidak mau berpakaian, maka itu masuk kategori sangat parah, dan proses pemulihannya membutuhkan waktu yang lama dan proses terapi yang kompleks. Sebaliknya, jika masih mau berpakaian, menutup aurat, relatif mudah dipulihkan/diobati.
V.Fitrah manusia itu dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, apa yang pantas (dilakukan) dan apa yang tidak pantas (dilakukan). Kata ustadz: Perhiasan (mutiara) manusia itu antara lain akal, agama, rasa malu, dan amal sholeh.
Dahulu dikenal konsep ketenagakerjaan, kemudian personalia, dan belakangan ini dikenal dengan Manajemen Sumber Daya Manusia. Konsep-konsep tersebut jika ditelisik mendalam merujuk pada esensi pendidikan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini mengenal istilah "human capital", entah apa padanan kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Apapun istilahnya, sebenarnya itu menjelaskan pentingnya "memanusiakan manusia". Manajemen dan pengembangan sumber daya manusia bukan semata-mata menyediakan tenaga kerja terampil dan ahli untuk memenuhi tuntutan-tuntutan pembangunan, tetapi lebih dari itu sebenarnya untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan.
II.Kampus adalah tempat mengkancah kebudayaan dan peradaban yang lebih baik. Kampus bukan semata-mata tempat belajar anak-anak muda dan setelah lulus mencari kerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri. Hakikatnya, kampus merupakan pusat pengembangan pengetahuan. Implementasi dari visi tersebut melalui kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.
III.
Coba dilakukan survei kecil-kecilan terkait kendaraan yang dipasangi stiker militer, polisi, marinir, klub menembak, grup pemburu, pasukan khusus, lembaga hukum, dan sebagainya. Berapa persen yang benar-benar dimiliki oleh orang yang benar berafiliasi dengan kelompok yg tertera di stiker tersebut?
(galau dengan gaya pengendara yang zig-zag, ngebut, buang sampah sembarangan, dan tak menghargai penguna jalan yang lain)
IV.
Dan bahkan sejak lahir, manusia mempunyai rasa malu. Itulah fitrah manusia. Rasa malu itulah yang menjaga moral dan perbuatannya. Psikologi mengajarkan, rasa malu dapat menjadi salah satu alat untuk mengukur kadar gila seseorang. Orang gila yang sudah tidak malu lagi, misalnya tidak mau berpakaian, maka itu masuk kategori sangat parah, dan proses pemulihannya membutuhkan waktu yang lama dan proses terapi yang kompleks. Sebaliknya, jika masih mau berpakaian, menutup aurat, relatif mudah dipulihkan/diobati.
V.Fitrah manusia itu dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, apa yang pantas (dilakukan) dan apa yang tidak pantas (dilakukan). Kata ustadz: Perhiasan (mutiara) manusia itu antara lain akal, agama, rasa malu, dan amal sholeh.
Kamis, 20 September 2012
GURU DAN POLITIK PENDIDIKAN
---ARTIKEL INI DIMUAT LAMPUNG POST, JUMAT, 14 SEPTEMBER 2012---
HAKIKAT
politik pendidikan adalah bagaimana komitmen institusi politik memainkan
peran keberpihakan pada usaha memajukan pendidikan. Nilai filosofi
politik pendidikan adalah perubahan sosial ke arah yang lebih baik.
Politik
menjadi instrumen untuk memajukan pendidikan. Namun, dalam praktek
sering dijumpai justru pendidikan menjadi instrumen politik, meraih dan
memelihara kekuasaan atau berbagai keuntungan politik.
Dalam
perspektif politik pendidikan, para aktor yang terlibat dituntut
memberikan sumbangan yang optimal bagi pendidikan. Esensi praktek
politik pendidikan adalah bagaimana pengalokasian sumber daya yang
dimiliki, termasuk anggaran, pada sektor pendidikan. Di level teknis
operasional, aplikasi politik pendidikan adalah bagaimana anggaran dan
penggerakan sumber daya yang sudah disepakati dialokasikan di sektor
pendidikan dapat dilaksanakan secara optimal. Institusi politik berperan
melakukan pengawasan agar pelaksanaan program, kebijakan, dan kegiatan
di bidang pendidikan benar-benar sesuai dengan apa yang telah
direncanakan.
Untuk
mengukur komitmen politik pendidikan, hal yang paling tampak mudah
adalah seberapa besar proporsi anggaran diberikan pada sektor
pendidikan. Selain itu juga komitmen politik pendidikan dapat dianalisis
melalui apa saja yang telah dilakukan para aktor yang terlibat.
Guru Korban Politik?
Desentralisasi
merupakan bagian dari upaya manajemen, tetapi berdampak atau bertalian
dengan politik. Di era otonomi daerah, kewenangan pengelolaan guru
berada di daerah. Sudah bukan rahasia lagi, guru (dan jabatan kepala
sekolah) menjadi tersandera oleh berbagai kekuatan yang sedang membahana
di daerah. Kondisi seperti ini akan sangat kental ketika menjelang
pemilihan kepala daerah.
Guru
dijadikan instrumen politik untuk kepentingan kelompok tertentu. Guru
diombang-ambing oleh keinginan segelintir elite. Guru berada di tengah
kegalauan birokrasi yang tak prima. Barangkali dunia politik memiliki
perhitungan bahwa guru adalah simpul massa dan dianggap sebagai kelompok
strategis untuk memuluskan kepentingan politik tertentu. Di sisi lain,
tentu ada pula kalkulasi jumlah guru, kapitalisasi massa yang dapat
didulang, dan anggaran yang berpusar di sektor pendidikan.
Kebijakan
untuk guru terasa indah dan terdengar nyaring. Pemerintah memberikan
berbagai tunjangan, dan terutama tunjangan guru yang tersertifikasi.
Berbagai program juga dirancang untuk memajukan pendidikan, baik melalui
dana bantuan operasional sekolah, pembangunan gedung baru, beasiswa,
dan sebagainya.
Ketika
terjadi karut-marut pengelolaan berbagai anggaran dan pembangunan,
posisi guru terkena imbas negatif. Saat pembayaran tunjangan
terkatung-klatung, ada dilema dihadapi guru. Menuntut pembayaran,
dianggap tidak pantas karena nantinya dianggap sebagai guru yang tidak
ikhlas dan hanya mengejar uang. Tidak menunut, lebih runyam karena
semakin menenggelamkan harkat dan martabat guru sebagai sosok yang
pantas diteladani.
Guru
demo atau rasa, untuk menuntut hak-hak guru yang ditelantarkan, jelas
mengesankan "ketidakpantasan". Guru kok demo. Demo atau unjuk-rasa masih
diidentikkan dengan anarki dan ketidaktertiban. Bahkan ketika guru
mempertanyakan nasibnya, maka "ancaman" mutasi sudah membayangi.
Tak
dapat dipungkiri ada guru yang keblinger gemerlap materi, termasuk
tunjangan sertifikasi. Guru seperti ini menjadikan uang dan tunjangan
sertifikasi sebagai orientasi utama. Guru seperti ini enggan mengelola
diri untuk mencapai kemajuan dan sudah puas dengan apa yang dijalani
selama ini. Tetapi tidak akan pernah puas terhadap materi.
Perjuangan
Perjuangan
aspirasi guru melalui organisasi yang ada juga tampak menemui jalan
buntu, di tengah kuatnya kepentingan politik elite. Kekuatan dan potensi
guru rentan dipecah belah dan dibuat galau. Siapa peduli guru?
Pertanyaan “nakal” ini menunggu jawaban konkret dan tindakan nyata dari
lembaga wakil rakyat, kelompok masyarakat, dunia pendidikan, dan siapa
saja yang terpanggil.
Guru jangan demo karena tak pantas. Konsep guru harus nrimo,
masih didengung-dengungkan. Kalau guru bersuara menuntut haknya, mutasi
sepihak akan diterimanya. Meskipun saluran komunikasi politik macet,
guru terpaksa menelan ludah pahit.
Pendidikan
adalah proses yang lebih merupakan proses perubahan kualitas. Oleh
karena itu, indikator keberhasilan pendidikan juga sangat kualitatif.
Ukuran-ukuran kuantitatif harus dijadikan pelengkap pencapaian
kualitatif. Atau setidaknya model pengukuran gabungan sehingga lebih
mampu mencakup pencapaian-pencapaian yang ada. Agar tidak ada klaim
sepihak atau klaim yang semata-mata kuantitif tetapi tidak mencerminkan
isi dan proses pendidikan yang sesungguhnya.
Pendidikan
harus dikembalikan pada roh menyiapkan generasi yang lebih baik dan
tangguh menghadapi berbagai tantangan dan peluang. Pendidikan adalah
membangun kompetensi dan berbagai keterampilan yang berguna bagi masa
depan peserta didik.
Pendidikan
adalah pelayanan terhadap kemanusiaan, yang dalam konsep bernegara
disebut sebagai pelayanan publik. Tapi nyatanya pendidikan kini lebih
mudah dilihat sebagai komoditas politik, lahan perburuan rente ekenomi,
dan pasar sasaran berbagai produk barang dan jasa yang tidak terkait
dengan pendidikan secara langsung.
Core
pendidikan harus dijalankan oleh aparat, pegawai, staf, pejabat, dan
pelaku-pelaku yang memiliki kompetensi, bekerja profesional, motivasi
dan menjiwai dunia pendidikan sebagai lahan pengabdian dan menekuni
perannya sebagai panggilan jiwa. Pendidikan memerlukan kepemimpinan yang
memahami lingkungan strategis pendidikan itu sendiri sekaligus tetap
memberikan ruang bagi dinamika profesi guru yang bergerak sangat cepat.
Guru Ideal
Mestinya
profesi guru adalah panggilan jiwa, dan imbalan maupun prestise yang
disandangkan harus dilihat sebagai dampak ikutan yang diberikan oleh
pemerintah dan masyarakat. Guru harus terus meningkatkan wawasan dan
keterampilannya. Istilahnya, guru harus sudah selesai dengan dirinya
sendiri. Kalau sudah demikian, guru akan dapat tenang bekerja mendidikan
dan mengasuh siswanya. Guru mengembangkan segenap potensi yang dimiliki
siswanya agar mencapai kondisi yang paling optimal.
Guru
ideal adalah guru yang tidak sibuk dengan keinginan-keinginan berlebihan
terhadap duniawi. Apalagi guru berstatus pegawai negeri sipil dan sudah
bersertifikat sebagai guru profesional. Guru yang sepenuh hati
melaksanakan fungsi pendidikan dan menjalankan amanah kemanusiaan. Guru
yang mendidik siswa dengan kasih sayang dan membelajarkan secara
menyenangkan.
Guru
yang diperlukan di lembaga pendidikan siswa adalah guru yang senantiasa
memiliki gairah untuk terus belajar dan mengembangkan diri melalui
berbagai media, forum, organisasi, dan pelatihan-pelatihan. Guru yang
memiliki pengetahuan dan keterampilan pedagogis dan menerapkan dalam
proses pembelajaran.
Guru
dituntut untuk terus menempa diri dengan berbagai pengalaman
kependidikan yang berharga. Guru yang dilahirkan oleh lembaga pendidikan
yang juga dikelola secara profesional dan menghargai makna dan hakikat
pendidikan.
Kondisi
guru ideal dapat terwujud jika guru tidak terombang-ambing dalam
gelombang politik local dan elite politik. Profesi guru dilakoni oleh
mereka yang menghargai proses pendidikan dan bukan yang
mengagung-agungkan angka yang bersifat semu. Guru ideal akan senantiasa
dirindukan siswanya.
Guru
yang sudah melaksanakan kewajiban dan mencoba memperbaiki diri secara
terus-menerus hanya bisa berharap semoga terjadi perbaikan birokrasi
pendidikan. n
Langganan:
Postingan (Atom)






















