Rabu, 12 Januari 2011

MAHASISWA DAN KARYA TULIS

ARTIKEL INI DIMUAT HARIAN RADAR LAMPUNG, KAMIS, 13 JANUARI 2011

Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi dilakukan melalui penugasan membuat karya tulis bagi mahasiswa. Bagi mahasiswa program sarjana, diwajibkan membuat suatu tugas akhir dalam bentuk skripsi. Tugas menyusun skripsi bagi mahasiswa pada hakikatnya adalah proses pematangan seluruh hasil belajar selama di perguruan tinggi. Skripsi mencakup kemampuan mengidentifikasi, menemukan masalah prioritas, memilih metode pemecahan masalah, melakukan analisis dan menarik kesimpulan. Semuanya dalam bentuk tertulis!
Sudah lumrah mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas yang jenisnya menulis. Kita terbiasa dengan tradisi lisan, mengobrol, bergosip dan sejenisnya. Karena itu untuk dapat menulis perlu proses belajar. Belajar membutuhkan proses panjang, tidak instan. Belajar membutuhkan ketekunan, keuletan, dan kesabaran. Belajar bukan hanya membuat siswa atau mahasiswa dari tidak tahu menjadi tahu, tetapi belajar adalah membentuk suatu perubahan yang bersifat relatif tetap (permanen) dalam diri si belajar. Perubahan yang dimaksud bisa berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kemampuan melakukan aktivitas tertentu.
Perlu Kesabaran
Jadi membelajarkan mahasiswa untuk menyusun skripsi pun harus dengan sikap kesabaran, ketekunan, dan keuletan. Mahasiswa pun harus menyiapkan diri untuk belajar, dan tidak mudah tergoda jalan pintas selesai tugas dan menyusun skripsi asal-asalan.
Biasanya perguruan tinggi memiliki aturan main terkait dengan tugas mahasiswa menyusun skripsi. Masing-masing pihak, mahasiswa dan dosen, memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Ada juga norma-norma yang harus dipenuhi, termasuk sanksi apabila ada yang melanggar norma. Segala aturan yang berhubungan dengan proses penyusunan skripsi bagi mahasiswa adalah instrumen atau alat untuk menjadi rambu-rambu agar mahasiswa dapat menyelesaikan studinya.
Stereotipe yang berkembang adalah bahwa menulis skripsi itu sulit, lama, dan berbelit-belit. Ini memang agak merisaukan. Jika pandangan bahwa menulis skripsi itu sulit, akibatnya adalah munculnya “broker” atau pihak-pihak yang menawarkan jasa. Yang terjadi selanjutnya adalah mekanisme pasar; ada permintaan, ada penawaran. Kalau sudah demikian, agak sulit menemukan pihak yang dapat dianggap salah. Fenomena skripsi yang dibuatkan oleh orang lain, sebenarnya sudah sering mencuat ke permukaan. Di masa lalu, sekitar 1990-an, mereka yang terlibat dalam pembuatan skripsi mungkin masih sedikit dan kegiatannya sembunyi-sembunyi. Sekarang, seiring dengan pertambahan jumlah mahasiswa dan arus informasi yang sedemikian deras, praktik percaloan skripsi mudah sekali diidentifikasi.
Bagi mereka yang berpengalaman melakukan kegiatan penelitian, mengenali skripsi asli tapi palsu yang disodorkan mahasiswa adalah sangat mudah. Banyak indikator yang dapat dijadikan dasar dalam menilai karya tulis seseorang itu asli atau setengah asli, atau palsu.(lanjut*****)

Tidak ada komentar: