Sabtu, 11 Februari 2023

Webinar Nasional Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama oleh PW Pergunu Lampung dan STIT Pringsewu

Serba Serbi Kegiatan Webinar Nasional "Peluang dan Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka Pendidikan Agama Islam di Era Digital"
Kegiatan ini merupakan bagian dari Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama oleh PW Pergunu Lampung dan STIT Pringsewu




Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Provinsi Lampung bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu mengadakan Webinar Nasional dengan tema Peluang dan Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka Pendidikan Agama Islam di Era Digital, di kampus setempat, Kamis (02/02/2023). Dalam kegiatan menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama ini juga dilaksanakan peluncuran Rumah Jurnal, penandatangan perjanjian kerjasama oleh Ketua PW Pergunu Lampung Dr. Imam Syafe’i, M.Ag. dan Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., dan perjanjian kerjamsama antara STIT Pringsewu dengan Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.




Webinar Nasional menghadirkan pembicara kunci Penjabat Ketua PW NU Lampung dan juga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Prof. H. Wan Jamaluddin, M.Ag., Ph.D., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., Ketua PW LP Ma’arif NU Lampung Prof. Dr. H. Subandi,  Sekretaris Jenderal PP Pergunu Dr. H. Aris Adi Laksono, M.Pd.,  dan Rektor Institut Bakti Nusantara Dr. H. Fauzi, ME., M.Kom., Akt.






Webinar secara hybrid selain melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan melalui kanal YouTube ini juga secara offline dihadiri anggota Pergunu dari berbagai provinsi di Indonesia, para guru dan dosen, Kementerian Agama Kabupaten Pringsewu, Dinas Pendidikan, dan mahasiswa.

Wan Jamaluddin dalam paparannya menegaskan pentingnya komitmen para guru untuk terus mengembangkan diri dan konsisten memberikan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Terkait kurikulum merdeka yang diterapkan saat ini, menurut dia, merupakan opsi tambahan bagi satuan pendidikan dalam rangka pemulihan pasca pandemi. Kurikulum dirancang berbasis kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan pada konten atau materi tertentu.

Kurikulum merdeka juga dirancang sesuai konteks, seperti budaya, misi sekolah, lingkungan lokal, serta kebutuhan peserta didik.

“Kurikulum merdeka lebih fleksibel, di mana jam pelajaran ditargetkan untuk dipenuhi dalam satu tahun. Selain itu, fokus pada hal-hal yang esensial dan guru lebih leluasa memanfaatkan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa,” ujar Wan Jamaluddin.

Dengan demikian, lanjut Wan Jamaluddin, kurikulum merdeka lebih sederhanda dan pembelajaran lebih mendalam, bermakna, dan menyenangkan. Yang juga penting, bagi guru kurikulum ini lebih fleksibel, karena guru mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan pseserta didik.

“Pembelajaran lebih relevan dan interaktif melalui berbagai metode berbasis proyek, dan mengeksplorasi isu-isu aktual untuk mendukung pengembangan karakter dan pembentukan profil Pelajar Pancasila,” imbuhnya.





Narasumber lain, Subandi memaparkan Filosofi Kurikulum Merdeka. Dia mengatakan, pendidikan merupakan upaya mengubah perilaku ke arah yang lebih baik. “Pendidikan itu bukan transfer pengetahuan, tetapi bagaimana mengubah sikap dan perilaku siswa, sehingga memiliki akhlak yang mulia, sikap tanggung jawab, mandiri, dan toleransi,” ujarnya.

Aan Hasanah mengupas Peluang dan Tantangan Pembelajaran di Era Digital, Fauzi mengurai tentang Implikasi Diterapkannya Kurikulum Merdeka, dan Aris Adi Laksono membahas tentang Apakah Kurikulum Merdeka Menjawab Tantangan Transformasi Digital Masa Depan Pendidikan Indonesia? (*)








Tidak ada komentar: