Senin, 12 Oktober 2009

KONSTELASI PERUBAHAN MENUJU PARADIGMA BARU PENDIDIKAN DI INDONESIA

Dwi Rohmadi Mustofa Teknologi Pendidikan Sistem pendidikan di masa lalu dipandang belum memberikan hasil ideal, salah satunya karena bersifat sentralistik. Secara makro, kebijakan pendidikan bersifat topdown. Program dan kebijakan disusun kurang memberi ruang bagi lahirnya aspirasi masyarakat. Sekolah swasta dianggap pesaing sekolah negeri. Akhirnya, kebijakan yang telah ditetapkan dan menjadi keputusan Pemerintah Pusat kurang mencerminkan kondisi riil kebutuhan masyarakat. Celakanya, pelaksananya juga harus menerima apa adanya. Oleh karena itu maka wajar jika segala sesuatu yang terjadi dalam pusaran pendidikan bersifat seragam. Hasilnya, output dan outcome lembaga pendidikan pun “seragam”. Dalam kegiatan persekolahan, guru menjadi pusat proses dan pusat orientasi belajar. Paradigma baru menghendaki masyarakat menjadi sumber informasi kebutuhan terhadap bagaimana suatu sistem pendidikan semestinya disusun. Paradigma baru menghendaki siswa menjadi pusat pembelajaran. Guru bertindak sebagai fasilitator yang memudahkan terjadinya proses pembelajaran. Dalam prakteknya semua itu tidaklah mudah. Meski sudah digagas, dirancang, diprogramkan, dan ditetapkan, maka masih ada prasarat lain, dalam mewujudkan paradigma baru pendidikan itu. Apa saja? Pertama kesiapan sumber daya manusia guru dan tenaga kependidikan. Kedua, sikap mental aparatur pelaksana pada jalur birokrasi. Ketiga ketersediaan sarana dan prasarana. Keempat, komitmen politik dan dukungan pemerintah serta masyarakat luas. Dari tema paradigma baru pendidikan maka lahirlah apa yang disebut manajemen berbasis sekolah (MBS), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, dan Pembelajaran yang Atraktif dan Inovatif (PAIKEM & PAINO) Selanjutnya diadopsi berbagai model instructional learning.

Tidak ada komentar: